Senin, 23 September 2013

Huuff~ "Salah Paham"

"Apa?! kamu suka ama Furukawa? gimana ceritanya?"
Wulan heboh saat KiKi membisiki dia sore itu di panti. Melihat reaksi lebai Wulan KiKi segera membungkam mulut Wulan sambil berjinjit. Maklum, tinggi Wulan jauh melebihi KiKi jadinya butuh tenaga ekstra untuk membungkamnya.
"Sstt... bisa nggak sih kamu nggak teriak gitu, ntar kalau ada yang denger kan gawat," KiKi melihat ke sekelilingnya, memastikan nggak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Wulan masih cekikikan,"Aku kaget aja, habisnya dari kemarin kamu ngomel-ngomel terus. Bahkan kamu terlihat anti sama dia."
"Yah... makanya aku juga bingung, kayak sinetron aja rasanya. Tapi... nggak tahu nih, tuh muka nyebelin nongol terus di mimpiku akhir-akhir ini, terus sering kebayang tiba-tiba gitu. Huuff~ nyebelin banget harus inget dia terus." KiKi mencibir.
"Hahahaha... nikmatilah Ki, gitu dah rasanya kalau lagi "Pol in Lop"..." Wulan sangat menikmati reaksi yang diberikan KiKi dari semua hasil ejekannya.
"Pol in Lop? siapa?" Tiba-tiba entah dari mana Furukawa muncul aja diantara mereka. Wulan dan KiKi terperanjat.
"Gomen...aku nggak nyangka kalian begitu serius sampai kaget banget." Furukawa tanpa rasa bersalah tersenyum tengil.
"Hei!! aku kira kalian nggak datang," JunHyung berlari kecil mendekati mereka."Eh, Yuki... kamu datang juga? ada apa?"
"Nggak ada, aku lagi boring aja, Poyo-poyo kemarin dibawa Kyoko pulang."
"Orang tuamu datang?"
"Nggak, cuma Kyoko. Dia di sini selama seminggu, apartemenku menjadi berasa neraka."
KiKi dan Wulan hanya saling tatap mendengar perbincangan yang mereka tak mengerti. Tapi KiKi yang baru menyadari perasaannya mulai punya keingin tahuan tentang Furukawa yang besar, membuat lidahnya terasa gatal.
"Siapa Kyoko?" Dengan lantang KiKi bertanya, bukannya bertanya pada Furukawa, matanya malah tertuju ke JunHyung. Melihat Reaksi KiKi yang sedikit lebai, JunHyung sedikit tertegun. Dia menatap Furukawa, Furukawa ternyata juga memberikan ekspresi tak kalah herannya melihat reaksi tak terduga itu.
"Oh... adiknya Yuki. Jadi di sini Yuki tinggal sendiri, keluarganya..."
"Cukup..cukup... kamu nggak perlu jelasin panjang lebar gitu ..." Furukawa menepuk pundak JunHyung." Oh yah... aku tiba-tiba ingat percakapan kalian tadi... siapa yang sedang Pol in Lop? Wulan? atau..."
"KiKi!"Wulan spontan menunjuk KiKi, membuat KiKi merasa seperti tersengat listrik. Langsung matanya melotot ke arah Wulan.
"Oh... boleh aku tebak?" Furukawa nggak memperlihatkan reaksi yang berarti, dia malah tersenyum santai dan merangkul JunHyung," sama dia kan?"
Spontan muka JunHyung memerah, dia langsung melepas rangkulan Furukawa,"Ah... kamu ap-apaan sih... a-aku duluan ada yang perlu aku beresin." JunHyung memberikan respon yang tak terduga, entah kenapa dia menjadi salah tingkah, dan gugup.
Furukawa yang melihat reaksi JunHyung pun hanya terdiam tak percaya, mukanya terlihat sedikit shock. Wulan tak kalah kagetnya, kakinya bahkan tiba-tiba lemas. Dia tertunduk, menutup mulutnya dengan tangannya, jelas dia sangat shock. KiKi yang menjadi topik di sini menjadi orang yang serba salah. Dipandanginya Furukawa dengan kesal," Apa kamu mendengar pembicaraan kami semua?"
Furukawa mengerling," Hah...apa itu penting." Dia baru saja akan beranjak, KiKi menghalanginya." Ya..penting, apa kamu dengar semua?"
Furukawa kali ini menatapnya," Yah... se-mu-a... lalu kenapa?" Katanya menantang.
"Kenapa? lalu kenapa ...kenapa kamu..." KiKi sulit meneruskan kalimatnya.
"Kamu... kenapa denganku?" Furukawa semakin menekan KiKi, nggak seperti tadi, mukanya sekarang terlihat penuh kemenangan.
KiKi benar-benar kesal melihat tingkah Furukawa yang menyebalkan, tanpa pikir panjang tangannya melayang begitu saja menampar Furukawa.
"Ada apa denganmu!" Furukawa terlihat marah.
"Menyebalkan!! kalau kamu tahu aku suka sama kamu, kenapa kamu harus ... kamu harus menunjuk JunHyung!!" Tanpa sadar air matanya mengalir, perasaan malu dan marah bercampur menjadi satu. Setelah melancarkan tamparan mautnya, KiKi segera meninggalkan Furukawa yang sekarang terdiam kaku dengan tatapan kosong sembari tangannya masih berada di tempat dimana tamparan tadi mendarat.
"KiKi benar, kamu emang nyebelin!!" Kali ini Wulan menginjak kaki Furukawa. Terdengar Furukawa teriak-teriak kesal karena tingkah laku kedua gadis itu.
***
 "Apa itu?" Ilma melihat bingkisan yang sedari tadi dipandangi Rani sambil senyum-senyum sendiri.
"Entahlah... aku terasa berat membukanya."
"Kenapa? dari siapa sih." Ilma tanpa pikir panjang merampas bingkisan itu dari Rani. Rani spontan merebut bingkisan itu lagi.
"Wah... cepet banget tangan itu... mau ini dari siapa, bukan urusanmu...ok!" Rani segera memasuki kamarnya merasa keberadaan Ilma adalah suatu ancaman.
Ilma merebahkan dirinya di sofa, kembali rasa bosan menghampirinya. Wajah orang yang ditemuinya kemarin di kantin kembali terbayang. Berkali-kali dia mencoba untuk menghalau ingatan itu, tapi terasa sangat sulit. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari udara segar di luar.
***
Rani memandangi terus bingkisan itu. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Moshi moshi...
Nu..na...apa Nuna udah buka bingkisan itu?
Jinki terdengar agak berhati-hati memilih kata-katanya.Rani tertegun, dipandanginya lagi bingkisan itu.
Emangnya kenapa? apa aku harus melapor?
Kata-kata itu meluncur begitu saja, Rani merasa kata-katanya sedikit kasar. Lama dia menunggu jawaban Jinki.
Nuna masih marah sama aku?
Rani terdiam cukup lama. Dia sebenarnya nggak marah, dia hanya bingung  bagaimana seharusnya dia merespon.
Nggak... apa aku terdengar marah?
Iya... 
Rani tertegun.
Hmm.. Nuna... kalau aku pergi jauh apa Nuna bakalan kangen sama aku?
Terdengar suara Jinki memelas.
Apa maksudmu? kamu mau kemana?
Inggris... Aku akan melanjutkan sekolahku di Inggris.
Rani hampir menjatuhkan ponselnya karena badannya tiba-tiba saja menjadi lemas.
I..Inggris? ka-kapan kamu pergi?
Terdengar dengan sangat jelas suara Rani melemah.
Minggu depan... 
Oh...
Rani nggak tahu harus berkata apa, pikirannya tiba-tiba menjadi kosong.
Tapi Nuna!! aku janji!! aku nggak akan ngelirik cewek lain. Buatku hanya Nuna, hanya Nuna yang ada di hatiku.
Mendengar teriakan heboh Jinki di telpon, Rani bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Perasaan yang tadinya suram tiba-tiba terasa sedikit cerah. Kata-kata JinKi cukup menghibur untuknya. Walaupun terasa sangat gombal, tapi entah kenapa Rani berharap itu kenyataan.
Awas kalau kamu selingkuh
Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut Rani.
Selingkuh??... apa itu berarti...
Rani tiba-tiba tersadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan
Ah eh...itu oh...
Tenggorokan Rani rasanya tercekat, dia benar-benar bingung harus  berkata apa.
Yah aku mengerti Nuna!! huuff~ sekarang aku benar-benar tenang, entah kenapa beban yang tadinya terasa berat sekarang menjadi ringan. Kalau Nuna berjanji akan menungguku, aku juga akan berjanji tidak akan melirik perempuan lain. Tidak... walaupun Nuna nggak mau menungguku, aku tetap nggak akan melirik perempuan lain.
Kata-kata Jinki yang benar-benar meyakinkan membuat Rani kehilangan kata-kata. Dia nggak memberikan respon apa pun.
hati hati... aku sepertinya nggak dapat mengantarmu...
Nuna nggak sanggup melihatku pergi?
Itu... aku sibuk.
Baiklah... aku mengerti...
Suara Jinki terdengar kecewa.
Bye Nuna...
Mendengar kata-kata itu, Tiba-tiba Rani nggak rela membiarkan JinKi pergi. Baru saja dia akan mengatakan sesuatu sambungan telpon terputus. Waktu dia mencoba menelpon lagi, jaringan telpon sibuk. Seketika itu Rani menjadi resah.
***
Di kafe...
 "Sendiri?"
Ilma melihat laki-laki yang menyapanya, betapa kagetnya ia.
"Yun...Yunho?" Ilma gagap seperti melihat hantu.
"Yunho??" Laki-laki itu mengernyitkan kening."Hiro...Yamada Hiro... boleh aku duduk?"
Ilma merasa sedikit malu, tapi dia segera mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk tepat di depannya.
"Hmm... sepertinya kamu lupa sama aku." Yamada menatap Ilma yang dari tadi terus menatapnya tanpa berkedip.
"Ah...itu...maaf..tapi aku akhir-akhir ini melihat orang seperti orang lain." Ilma tersenyum kecil, malu.
"Orang lain? jadi aku sekarang terlihat seperti orang lain?"
"Hmmm..hehe sepertinya," Ilma menggaruk kepalanya yang nggak gatal,"Kamu tahu YunHo? anggota Tohoshinki?"
"To...Toho..?"
"Tohoshinki...huuff, aku kira boyband itu cukup laris di Jepang." Ilma bergumam sendiri. Yamada hanya menatapnya bingung.
"Memangnya kenapa dengan ..siapa tadi... Toho--toho itu?"
"Tohoshinki, jadi... aku akhir-akhir ini merasa melihat cowok itu seperti Yunho."
"Oh...jadi... sekarang kamu lihat aku seperti Yunho itu?" Yamada terlihat mengerti.
"Yah... begitulah... jadi aku nggak tahu apa aku ingat kamu apa nggak."
Yamada termangu menatap Ilma. "Hmm... baiklah... aku rasa saat ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan itu, aku akan tunggu sampai kamu bisa melihat orang seperti aslinya." Yamada tersenyum mencoba untuk mengerti," Tapi... ingat yah... namaku Yamada Hiro...jangan sebut nama yang lain lagi." Yamada tersenyum manis, dan  meninggalkan Ilma yang hanya melongo mengiyakan setiap yang dikatakannya.
***
KiKi memutuskan untuk segera pulang. Sambil terisak-isak dia menaiki bis. Seseorang menawarkan sapu tangannya.
"Putus cinta yah?"
Mendengar kata-kata orang itu, KiKi langsung mengurungkan niat untuk menerima tawaran sapu tangan itu. Ditatapnya wajah orang itu.
"Air mata itu... terlihat seperti kamu baru habis disakiti, hmmm..." Orang itu mendekatkan wajahnya menatap KiKi dengan seksama.
"Hei!! apa-apaan kamu?" KiKi mendorong badan orang yang duduk di sampingnya itu.
Orang itu tersenyum geli,"Hahaha... kamu lucu, kamu pikir aku akan macam-macam sama kamu?"
"Semua perempuan akan berfikir kamu itu laki-laki nggak benar. Lagipula, kamu siapa? peramal? sok nebak air mata orang," KiKi entah kenapa menjadi sebal.
"Wah galak amat, aku jadi semakin yakin dengan tebakanku tadi."
"Huuff~ "
"Miura..." Laki-laki itu menyodorkan tangannya.
"Apa?" KiKi menatap tangan yang disodorkan di depannya.
Laki-laki itu meraih tangan KiKi dan menggenggamnya," Hiruma Miura, salam kenal." Laki-laki itu tersenyum nakal.
KiKi menjadi salah tingkah, kalau dilihat baik-baik, laki-laki itu cukup tampan," KiKi...itu saja." KiKi segera melepaskan tangan laki-laki itu.
"Ki-Ki-- haha nama yang unik." Laki-laki itu memainkan tangannya di bibir. KiKi hanya terdiam, perasaannya campur aduk saat ini.
***
"JunHyung...?"
"Eh??"
"Airnya kepenuhan."
"Oh...!!"
JunHyung segera mengambil lap untuk membersihkan luapan air yang dituangnya. Dari tadi fikirannya melayang entah kemana. Dia susah sekali untuk fokus.
"Kamu..baik-baik saja?" Wulan menatap JunHyung dengan khawatir.
"Ah..i-iya... tentu saja." JunHyung masih saja kikuk.
"Apa kamu suka ... Ki-Ki?" Dengan berat hati Wulan bertanya, dia sampai nggak berani menatap JunHyung.
Seperti dugaannya, JunHyung memberikan respon yang tak disukainya.
PRAAANG...
Tanpa sengaja gelas yang sedang dipegang JunHyung terlepas dari genggamannya." Ah...!!" JunHyung terlihat salah tingkah," Ma..maaf..hmm...aduh... sepatumu jadi basah, a-akan aku ambilkan lap, tunggu sebentar yah... aku.."
"Cukup...haaah... cukup..." Wulan terlihat terpukul, dia sampai nggak bisa lagi membendung air mata yang sedari tadi di tahannya. " A-aku pulang saja." Wulan berlari meninggalkan JunHyung tanpa menatapnya. JunHyung hanya terdiam merasa tidak nyaman.
BUUKK!! Wulan menabrak Furukawa.
"Maaf..." Wulan berlari menunduk tanpa memperhatikan apa yang dilaluinya, matanya berair, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Furukawa membantunya berdiri, tapi melihat air mata Wulan, dia tidak berkata apa-apa. Badan Wulan terasa lemas, dan bergetar.
Dari kejauhan terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Ternyata JunHyung dengan nafas tersengal berhenti di tempat Furukawa melongo berdiri.
"Apa kamu lihat Wulan?"
Furukawa menatap JunHyung, berfikir sejenak lalu berkata," Yah... ada apa dengan kalian?"
"Entahlah...aku bingung, setelah bertanya apa aku suka KiKi, Wulan tiba-tiba menangis." JunHyung mencoba mengatur nafasnya.
"Lalu... kamu jawab apa? apa kamu suka sama dia?" Furukawa memperhatikan reaksi yang akan ditunjukkan JunHyung.
JunHyung berfikir sejenak, tidak seperti tadi, dia sekarang sedikit lebih tenang."Hmm.. entahlah, hanya saja aku senang kalau dia menyukaiku."JunHyung tersenyum, Furukawa mengernyitkan alis.
"Berarti kamu belum menyukainya," Furukawa menepuk pundak JunHyung sambil tersenyum lega. Baru saja Furukawa akan meninggalkan JunHyung masih dengan senyum lega-nya, JunHyung menjawab,"Kenapa kamu berfikir begitu? aku bilang aku senang dia menyukaiku, itu karena aku tertarik dengannya." Kali ini JunHyung menepuk pundak Furukawa sambil tersenyum. Furukawa terdiam, menatap JunHyung tak percaya.
"Apa?... kamu menyukainya...?? haha Tapi... kamu hanya tertarik kan ...bukan berarti kamu menyukainya." Furukawa bergumam sendiri masih tidak menerima pernyataan JunHyung.
"Ada apa sih denganmu? apa kamu juga menyukainya?"
"Apa? Menyukai? aku? dia? hah?? no way.... " Furukawa menjadi salah tingkah,"Lebih baik kamu segera menyusul Wulan saja, keadaanya sepertinya sedang tidak baik."
JunHyung menatap Furukawa,"Mencoba mengganti topik? huuff... kamu dari dulu sampai sekarang emang nggak berubah. Tadi dia kearah mana?"
Furukawa menunjukkan arah kemana Wulan pergi." Dia sudahpergi cukup lama, semoga dia masih terkejar."
"Yah... terimakasih udah ngehalangin aku." JunHyung dengan senyum sinis meninggalkan Furukawa.

Bersambung






4 komentar:

  1. apa ini....semua perasaan tokohnya dibikin sedang galau~

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena emang dibuat waktu penulisnya lagi galau....hehe

      Hapus
  2. iyaa... lagi musim galau di cerita inii... kesian rani n wulan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih kesian Wulan...n Rani ini masih ada yg belum jelas rasanya. apa isi kotak itu..hmm

      Hapus

LeeAne butuh saran dan komentarnya...
Berkomentarlah dengan bahasa baik And no SARA yah guys :)