Kamis, 20 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 3

"Maki!!! Maki!!! Maki!!!" Erika menuruni tangga dengan tergesa-gesa, nafasnya sampai tersenggal-senggal membuatnya sulit untuk memulai kata-katanya.
"Dou shita no?* daijoubu? take ur time, speak slowly..." Maki yang baru saja dari ruang kesehatan lantaran mag-nya kambuh hanya bisa mengerutkan kening.
"ano..."
Mendengar penjelasan Erika, Maki segera berlari ke kelas disusul Erika yang nafasnya masih tidak beraturan.
Sepi... sudah tidak ada razia... terlihat para siswa duduk di sembarang tempat, ada yang bisik-bisik sesama teman, ada yang duduk merenung sendiri, suasanya sungguh... tegang.Maki menyisir sekeliling kelasnya, dia tidak menemukan keberadaan Shota.
"Ah!! Toda chan! Matsuda dibawa ke ruang guru untuk diinterogasi lebih lanjut." Risa mendekati Erika ketika melihatnya di ambang pintu. Langsung saja Maki dan Erika menuju ke ruang guru, dari balik jendela dapat dillihatnya betapa tegang muka Matsuda.
"Apa menurutmu Matsuda akan dipenjara?" Maki menghela nafas.
"entahlah... aku berharap ada keringanan karena bagaimanapun Shota masih di bawah umur." Erika terlihat begitu khawatir, mukanya terlihat sangat tegang, keningnya selalu berkerut, berkali-kali dia menggigit ujung bibirnya, dan kakinya tak henti-hentinya dia hentakkan dengan cepat.
Maki dan Erika secara bersamaan merebahkan diri di dinding, berbagai macam pikiran buruk terlintas di benak mereka masing-masing, sungguh tak disangka masalahnya begini rumit.
Akhirnya pintu ruang guru bergeser, keluar dari balik pintu Shota dengan wajah muram, kepala tertunduk, dan terlihat sekali badannya lemas.
"Shota kun?" Erika memanggilnya dengan sungkan.
Shota menoleh, lemah sekali... matanya sayu, terlihat ada beban berat yang sedang dipikulnya tapi dia tetap memberikan senyum hangatnya ke Erika.
"Gomen ne..." sahut Shota sambil menatap Erika hangat.
Erika tanpa sadar mulai mengeluarkan air mata,"Walaupun a-aku tidak tahu dan tidak mengerti demo.. atashi wa shota kun o shinjite iru* ..." Mendengar pernyataan polos Erika, Shota cuma tersenyum.
"Arigatou...Eri chan ..." Shota mengelus-elus rambut halus Erika, membuat Erika tambah terisak,"Jangan menangis, perbuatanku tidak pantas ditangisi," Shota mengusap air mata Erika.
"Hirokita... maaf... aku titip Erika... sepertinya sebentar lagi jemputanku datang."
Benar, tak berselang lama Shota ditangkap oleh beberapa polisi. Semua mata tertuju padanya, di sepanjang koridor kelas menyembul beberapa kepala di jendela, semua berbisik-bisik sampai terdengar seperti dengungan lebah,Shota hanya menundukkan kepala, hari itu... anak berprestasi kebanggaan sekolah dalam sekejap telah menjadi seorang kriminal, tangan yang terlilit borgol membuatnya nampak buruk.Erika tak henti-hentinya menangis, dia tidak tega memandangi Shota yang digiring polisi seperti itu, dia sembunyikan kepalanya dibalik pundak Maki sambil terus terisak-isak, membuat seragam Maki basah.
"Ada apa dengan dia yah?" pikir Maki.

to be continued...

* Apa yg terjadi?
* Aku mempercayai Shota

Kamis, 06 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 2

“Bagaimana? Apa ada sesuatu mencurigakan yang kamu temukan?” Erika memandangi Maki penuh tanya, semenjak membuntuti Shota dari toko buku kemarin,Maki menjadi lebih sering melamun.
“ah eh… ano.. hmm … oh ya aku lupa… aku belum mengerjakan PR matematika, sepertinya aku harus pulang cepat hari ini, gomen Eri-Chan.”
“Ano… Maki!! Maki chan!!” Erika mengerutkan kening, memandangi Maki yang terkesan terburu-buru dengan perasaan penuh tanya.

Maki mempercepat langkahnya, sedikit khawatir Erika berpikir yang tidak-tidak, tapi dia sendiri juga bingung, seharian ini dia memperhatikan shota namun tidak ada hal mencurigakan yang dapat dia tangkap. Sesekali mata mereka bertemu dan Shota tersenyum padanya, biasa… hal ini sangat biasa… iya kan?

“Hirokita ! Chotto matte!* ”Terdengar suara seeseorang memanggilnya, membuat Maki harus menghentikan langkahnya, ketika ia berbalik terlihat Shota berlari kecil menghampirinya.
“Apa kamu ada waktu? Ada yang ingin aku omongin…” Shota menyunggingkan senyum manisnya, tapi entah kenapa perasaan Maki malah tidak nyaman.
“Hmm mochiron*, kamu mau ngomong apa?” Maki mencoba untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
“Hmm… eto…Apa Eri tau?” Shota menatap Maki lekat-lekat, Maki sampai merasa tercekik.
“Tau? Tau apa? sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak mengerti.” Maki mencoba untuk tetap tenang, seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa.
“Aku hanya takut Eri akan berfikir yang tidak-tidak tentangku, bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun.” Shota melepaskan pandangannya ke Maki, dia meluruskan badannya, lalu dengan gaya santai menatap ke sekelilingnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shota sepertinya tetap percaya kalau Maki mengetahui sesuatu.
“Hmm… hmm… apa kamu selalu melakukan hal itu?” Maki membisiki Shota, rasa penasarannya ternyata membuatnya tidak bisa bertahan untuk tetap berakting tidak tahu.
“Eh… iie..iie… ah… mana mungkin aku… kamu tahu sendiri kalau aku…” Shota tiba-tiba salah tingkah, dia mencoba membela diri tapi akhirnya terdiam ketika melihat Maki yang begitu serius memperhatikannya.
“Haaah… itu…aku… aku tidak selalu melakukannya… aku… Cuma iseng…yah Cuma itu.” Shota akhirnya bisa berbicara lebih tenang, terlihat dia mulai berkeringat. Entah kenapa Maki malah menjadi semakin semangat menginterogasinya.
“Apa menurutmu itu bisa dianggap biasa? Iseng? Hah… tapi… aku merasa apa yang kamu lakukan kemarin bukanlah sesuatu yang kamu lakukan satu atau dua kali, menurutku itu sudah menjadi kebiasaanmu.”
“kebiasaan? Hah… apakah itu masuk akal untuk orang sepertiku?”
“Itulah keanehannya… aku tidak habis pikir, anak sepertimu? Kebanggaan sekolah dan orangtuamu? Melakukan hal itu? Huff…”
Shota tanpa basa-basi memegang pundak Maki dengan posisi membungkuk, kepalanya menunduk sambil melihat ke bawah, terdengar suara hembusan nafasnya yang berat,  tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan dengan seius menatap Maki, Maki sedikit tersentak… dia menelan ludah, bisa dilihatnya pantulan dirinya di bola mata Shota yang hitam,” Kamu bisa merahasiakan ini kan?”
Maki terdiam sejenak, ini mengerikan… Shota memang tidak mengancamnya, tapi Maki merasa Shota bukannya “tidak” mengancamnya…hanya saja “belum” mengancamnya.
Maki menurunkan tangan Shota dari pundakknya,”Hmm… aku bukan orang yang suka ngomong sembarangan,  tapi… aku berharap kamu bisa menghilangkan kebiasaan itu, hanya menunggu waktu saja sampai orang tahu, kalau kamu tidak berusaha untuk menghentikan kebiasaan itu, cepat atau lambat…”
Maki belum selesai meneruskan kata-katanya karena ponsel Shota berdering. Shota merogoh ponsel dari saku jaketnya, ketika dia membaca pesan dari ponselnya mimik wajahnya berubah.
“Gomen … aku… harus pergi, arigatou Hirokita…” Terlihat wajah Shota begitu tegang, setelah menepuk pundak Maki sebagai tanda terima kasih dia pun segera berlari seakan ada sesuatu yang sedang menunggunya.

To be continued

Ket:


*Tunggu  
*Tentu saja

Rabu, 05 November 2014

Ada Apa Dengan Dia?

"Huff... sepertinya ini hanya perasaanku saja.."
"Hai! Nande?" Maki sepertinya tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Erika, ia sibuk merogoh kantong roknya mencari beberapa keping uang untuk membayar makanan yang sekarang menemani makan siang mereka.
"Maki chan! huff..." Erika dengan lemas menopang dagu.
"Hai! hai! gomen! Matsuda nande?" kali ini Maki dengan serius memperhatikan Erika.
"Shota kun akhir-akhir ini aneh..." Kening Erika berkerut, dia seperti memikirkan sesuatu, pandangannya jauh ke sudut jalan, walaupun saat itu Maki duduk tepat didepannya memperhatikan setiap mimiknya.
"Dia... selalu memandangi ponselnya, setiap waktu, setiap saat. rangkingnya pun akhir-akhir ini menurun." Sambung Erika akhirnya.
"Hmm... souka... bagaimana kalau kita buntuti dia.." Maki menyunggingkan senyum meyakinkan, seolah-olah idenya begitu cemerlang.
"Ah...iie iie... nande sore... muri muri*..."
"ah... okashii* ne...maumu sebenarnya apa sih... penasaran tapi seperti nggak mau cari tahu."
"Demo... apa aku harus membuntutinya, aku merasa seperti stalker aja.."
"Erika chan! kamu bahkan belum melakukannya kamu udah merasa stalker...hmmm.. ini bukan hal yang mudah sepertinya..."
"are... Shota kun??"
"Doko..doko...??" Maki melihat ke jalan raya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Shota.
"Dia masuk ke toko buku..." Erika kembali menyeruput minumannya.
"Apakah ini hal yang aneh? atau wajar?"
"menurutmu?"
"Orang masuk toko buku, nggak ada yang salah dengan hal itu, tapi... kenapa kita tidak mengeceknya saja..." mata Maki terlihat berbinar-binar, kegemarannya membaca dan menonton serial detektif membuat rasa ingin tahunya begitu besar.
"Silahkan di cek, aku diam di sini aja... Shota pasti akan sangat kecewa padaku kalau tahu aku membututinya.."
"Hitori?? ah... wakatta kamu tunggu di sini..."
Akhirnya Maki segera menyusul Shota ke toko buku di seberang jalan.
Dengan seksama Maki memperhatikan setiap gerak-gerik shota, tidak ada yang mencurigakan, Shota berjalan mengelilingi rak buku, membuka beberapa buku, membacanya sejenak lalu menutupnya dan mengembalikannya ke tempat semula, begitu seterusnya, sampai...
Maki menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang "honour student" bagaimana bisa melakukan hal ini? Oh no... Maki menjatuhkan beberapa buku di dekatnya, dia begitu terkejut, segera dia bersembunyi, berharap Shota tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama bersembunyi akhirnya dia mencoba mengecek lagi apa Shota masih berada di tempat tadi.
"Nani shiteru no*?" Seseorang memergoki Maki. Takut itu Shota, Maki menunduk mencoba mencari beribu alasan.
"Gakusei? apa kau yang telah membuat buku-buku ini berantakan?" Ternyata sang penjaga toko, dia memarahi Maki yang telah menjatuhkan beberapa buku dan tidak menatanya kembali.
"Ah... hai! hai! sumimasen deshita! sumimasen !" Tanpa pikir panjang, Maki segera memungut buku-buku tersebut, terdengar lonceng pintu toko buku itu berbunyi, sekilas terlihat sosok Shota keluar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya ada apa dengan Shota, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu? berbagai macam pikiran memenuhi otak Maki sembari tangannya tetap sibuk memunguti buku-buku yang membuat aksi "membuntutinya" gagal total.Apa aku perlu memberitahu Erika apa yang baru saja aku lihat? ah tidak.. lebih baik tidak.. aku mau cari informasi lebih banyak lagi, jangan sampai aku menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.Maki terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya buku terakhir selesai dia rapikan.

to be continued...

Ket:
* impossible
* weird
* what r u doing?


Sabtu, 25 Oktober 2014

Yang tak Pernah Terlupakan...

Mungkin 2 tahun telah berlalu, tapi ingatan tentangnya tak pernah pudar. Aku terkadang merindukannya, tak jarang mengingatnya, ingatan tentangnya tergambar dengan jelas seolah-olah ada layar besar yang memainkan detik-detik aku bersamanya. Ada sedikit penyesalan kenapa aku tidak bisa bermanja-manja setiap bersamanya, walaupun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat ingin melakukannya. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalaku setiap kali aku bertemu dengannya. Walaupun aku sudah bersamanya lama sekali, tetapi aku pun tidak bersama-nya dalam waktu yang cukup lama. Aku bukanlah tipe orang yang bisa meluapkan perasaan yang sesungguhnya kepada orang lain, bahkan kepada orang yang sangat aku sayang, orang yang setiap ku ingat selalu membuatku tak sadar meneteskan air mata.

Aku tidak pernah menyangka, jauh-jauh hari sebelum dia meninggalkanku, aku merasakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa aku gambarkan. Ada perasaan takut dalam hati ini, aku akan ditinggalkan oleh salah satu orang yang sangat aku sayang. Aku di tahun itu memanjatkan doa yang sama setiap hari, semoga Allah melapangkan dadaku, mengikhlaskan hatiku jikalau aku akan ditinggalkan, walaupun aku sama sekali tidak pernah menyangka aku akan ditinggalkan secepat itu.

Alhamdulillah... hari yang tak akan pernah kulupakan itu terjadi di bulan yang penuh berkah. Segala kesedihan, sedikit dapat terobati membayangkan dia berada di tempat yang insyaallah baik, beliau pun pergi dengan baik, insyaallah.

Aku mencoba mnguatkan diriku, menahan diri untuk tidak menangis berlebihan, sedih... pasti... tapi yang paling penting untukku adalah dia mendapatkan tempat terbaik di sana. 

Lama sekali... sampai akhirnya dia hadir dalam mimpiku. Aku senang sekali... aku begitu menantikan mimpi ini, setiap aku mendengar cerita orang-orang yang memimpikannya aku begitu iri. Aku sampai berfikir, apakah aku tidak akan pernah memimpikannya? padahal aku selalu memikirkannya, tapi... mungkin saat itu dia belum siap untuk menemuiku.

Alhamdulillah, dia terlihat begitu tampan, dia tersenyum, senyum yang sangat kurindukan, senyum yang sangat kurindukan, mukanya terlihat begitu bersih, aku tenang, aku bangun dengan hati tenang.

Sayang.... ingatanku tentangnya yang tersisa hanya ingatanku semasa kecil. Aku bahkan begitu terkejut ketika melihat begitu banyak perubahan yang terjadi padanya, aku bahkan tidak sadar dia sudah begitu kurus, giginya sudah ompong,  tapi dia tidak berubah, senyumnya, suaranya, tidak pernah berubah...sampai sekarang, masih terdengar jelas di telinga, suaranya yang kerap kali memanggil namaku.

Tidak ada yang meragukan betapa dia sangat menyayangiku, semua orang tau pasti bagaimana dia sangat menyayangiku, aku tahu pasti bagaimana dia sangat menyayangiku.

Ternyata.... mengingatnya sekarang lebih menyakitkan, aku kira akan terbiasa, tetapi semakin lama semakin aku mengingat betapa sedikit memori yang bisa aku kenang, aku sedih aku tidak bisa mewujudkan keinginannya... memberikannya "gaji pertamaku" aku bahkan belum bekerja saat dia meninggalkanku.

Tahun dan bulan kepergiannya bertepatan dengan hari terakhir simoncelli di sirkuit, aku begitu berduka mendengar kepergian simoncelli tapi aku tidak menyangka ada berita yang lebih besar menantikanku di rumah.

Tidak ada yang berani memberitahukan kepergiannya padaku. Aku masih dalam perjalanan pulang ke rumah saat Malaikat menjemputnya, bahkan ketika aku sampai di rumah, tidak ada yang memperlihatkan wajah berduka, semua tampak normal, sangat normal. Sampai aku menyadari ada suatu yang janggal, kenapa begitu banyak orang? ada apa?? ada pesta kah? lalu ketika aku masuk ke dalam rumah, pikiranku kosong, tirai besar menyambutku... siapa di balik tirai ini? aku mulai khawatir, siapa di balik  tirai ini? ketika kusibakkan tirai itu, aku langsung tertunduk dan satu hal yang langsung terlintas di pikiranku... ya Allah maafkanlah beliau, berilah tempat yang layak untuknya, kuatkanlah hamba, ikhlaskanlah hamba... sungguh dia milik-Mu maka ke pada-Mu lah dia kembali... 


Selasa, 14 Oktober 2014

What an ordinary story...

She's sitting right in front of her desk, seriously looking at the monitor of her computer. She has been in that position for almost 8 hours already, she's really tired right now. She's looking at the clock which hanging on the wall, it almost midnight, 5 minutes more will make today become yesterday. She's yawning, she feels that her eyes are getting hard to open, oh no she will fall asleep, she can't do that, no... she should not even think about that. She's trying to move her legs, oh...crap...she can't move them. She looks around and around...but there's no one around. It's only her in that office room tonight, lonely... cover by the darkness where the only light is coming from her messy desk. Huff... her mug is empty she just realized it, and when she checks what inside her desk drawer, unfortunately, nothing left besides dust. Sigh... she just too weary even for to  get up and take water. Suddenly her phone is ringing, but she doesn't know where she put it. Her ringtone sound fills up the room, very noisy for a quiet room.
"Hello.."
"Laura?! Where r u?"
"Well.. I'm still in the office, why?"
"Why? how could u ask me why I call u?"
"Ok.. Tom, I'm sorry but I think I will stay up all night here, there are still a lot of things to be done, I haven't finished yet."
"Wait... r u alone? or..."
"I'm alone... why?" 
"Hmm... " Tom paused, silent for a moment."Oh, nothing... never mind, but I think u should go home, you want me to pick u up?"
"I told u I still have many things to do... and everything must be done today."
"But.. u can do it at home... why u must force urself doing it alone there."
"What happen to u, oh c'mon I really tired I will hang up this phone if u asked me to get home again."
"Ok... Fine... should I accompany u?"
"If u wish, well at least I need someone to talk to anyway... oh yeah please buy me food."
"Alright, take care... I'll be there ASAP. bye.."
"Ok... bye.." 
 Laura giggling, she feels so relieved, even though Tom was annoying sometimes, but he always there for her in the right time. Yeah, the right time... 
Without her knowing, someone has been watching her all day-- Robert-her co-worker who truly admires her. 
***
Tom really come so fast, his hands are full with many kinds of foods. Wow... Laura is so impressed by him, she gives grateful smile to him. 
"You can't sleep?" Laura begins to eat the pizza alone.
"Of course, how can I have a good sleep when you're outside."
"Oh dear, you are so lovely kid,  mom and dad must be proud of you."
"Stop talking, just eating, how could you speaking while eating, very not u."
"Oh really, wow... am I that adorable for ye?" 
"Give me a break, I just don't like seeing u like other girls."
"Other girl? Ah...you have a crush on someone?...tell me who is she...c'mon."
Robert who doesn't know what those two are talking about, feeling disturb and jealousy... he always watching Laura and this is the first time he sees Laura smiling and talking so happy with a man. Who's that man?? He never saw him before, never... 
"Giorgina... I met her in Liverpool, in Harry's wedding, but I never see her again after that."
"Why?... you don't exchange number?"
"Nope... hmm I don't think about that, and I think she has a guy."
"Ouch.. Sounds not good, hmm but well ... here is London, there are still a lot of cute girls around here."
"Yeah... just finish your eating, you don't forget your work, don't you?"
"Ouh Yeah... right.."

Since Tom beside her, Laura feels her strength come back. Tom sometimes corrected her typing, so helpful for her to keep concentrate. Meanwhile, Robert feels more uneasy and more uneasy... Laura and that man are too close, they must be a not just friend, it seems like they are lovers... no... no... Laura doesn't have a Bf, He knows that He had looked for any information about Laura, But... but... is that already all the information? did he miss something?!Aarrrghhh!! What the heck!! Who Is That MAN!!!
"You know that I just have 3 days at home but you aren't home, it's really boring."
"Sorry... but I really can't avoid this, I promise this is the last time I stay up all night outside a home."
"I think ur currently job spent much of ur time, why you must working here, I have a better job for ya.."
"I know I will work for ya, but I really enjoy what I'm doing right now.."
"Just don't force urself, you don't want ur face wrinkled faster, don't you?"
Laura doesn't really pay attention to what Tom's said, her eyes keep on the computer screen, trying to keep focus, but it looks like Laura can't hold herself to reply Tom.
"What r u talking about, stop teasing me... don't u realize how cute I am?"
...
"Tom? why r u silent? I am asking u..."
"Yeah, of course, you are very adorable." reply slow deep voice.
"Oh yeah Thank u, finally u admit it, haha...hmm why ur voice change?" 
"My voice never change..."
"Oh yeah... of course...Oh no...!!! argh!!... I did it again... huff  I think I need more water, could u take water for me please..."
...
"Here..."
"Thanks... oh yeah Tom, how do u think about this, is this make sense?"
...
"Hey.. c'mon... I'm waiting... why u take so long think about this simple thing..."
...
"Why u always call his name!! is he that special for u!!?"
Laura startled, she stops her typing but she afraid to turn her back. "Who r u? Where's Tom?"
"TOM...TOM...TOM... !!!! I hate to hear that name!! ..." He takes a deep breath and exhales it loudly,"I've stabbed ur guy, dunno he is still alive or not?"
Hearing that makes Laura get up on her chair and screw up her courage to face that strange voice. Her eyes wide open seeing who has that terrifying voice. Robert?! the wimpy? 
"Su--ur--ppri-prise!!" Suddenly Robert nervous, looking at Laura's eyes so closely.
Laura stares at Robert without blinking, in dim light, she can see Robert's hand that holding something, but it's not clear what it is. 
"Where...where is my brother?"
"B-brother? who--who is ur b-brother?"
"Tom... Tom is my twin...you said you stabbed him, where-is-he--now!" Laura's voice trembling.
"T--t--twin?!! hahaha... ur t-twin? r u kidding me!! how come he could be ur twin?? is he??" 
"Yes, He is, He is my lovely twin, why? Why you did it to me!! how could u! what I've done to u? Where is he!! tell me!!"
Robert stands up still, bite his lips--anxious.
"Laura? Why r you shouting?" Laura turns her head, someone standing behind her, but it's too dark, she can't see him clearly.
That man approaches her until light from her desk reach him. Laura blinking her eyes rapidly, then rub her eyes, then slap her cheek," Ow..."

"Hey... what r u doing, what happen to u? why u hurt urself?" Tom immediately grab Laura's hand to stop her strange action.
Laura staring at Tom deeply and then she hug her brother tightly and soon she burst into tears."Please don't leave me!! hu hu hu..."
Tom who doesn't understand and really confuse let her sister crying until her feeling gets better.
"Are u ok? you will make me freezing in this cold night if you're not stop crying in my t-shirt."
"Hush... is your fault if you're freezing, how could ur big body so weak."
"Oh, c'mon even the superhero will freeze if their costume is wet in the cold weather."
Laura keep smiling, it makes Tom frown. "alright... so what happen to u earlier?"
_role_story__little_kanda_twins_by_laxye-d5nqhgi.png (1800×1471)Laura think for a while, she looks her around trying to look for Robert, but Robert had vanished, she even  not sure with what happen to her earlier, is it real or just her imagination. The most important is, Tom is standing in front of her right now... again she hug Tom tightly," so where are you earlier?"
"I went to the bathroom, it takes a long time to find it when all the lights off."
"You r not scared? u know that ... the bathroom is where the spooky things usually exist."
"I'm not scared of all that things, I am more scared hearing you shouting like a crazy granny."
"What!! ahh!! feeling it..feeling it... you naughty kiddo!!!! Laura hit Tom repeatedly while laughing.
"Aw.. aw.. Laura!! hey!! stop it... hey granny!!"
"What !! how dare u still call me that!!.. I think I have to shut up your mouth!! hahaha!!"
"Hey!! stop it... what the heck!! hey!! you are a woman, hey!! where u get that smell!! mine not that bad?!"
"Really? how come ur armpit has better smell than mine?"
"Wanna try?"
"Oh No!! What is this!! OH no!! no!! I need a fresh air!! HELP!!!"

***

Laura and Tom's Voices fill up the office room, they are laughing and playing hit and run like children.

Inside the deep darkness standing Robert watching that sibling, he smiles and feels so relieved that Tom is just Laura's twin. But He's afraid his stupid lied back then will make Laura doesn't want to talk to him anymore, however, he wish that Laura didn't remember that stupid thing. It was really stupid, the jealousy made him said a scary thing. Stabbed?? the wimpy kid like Robert even can't kill cockroaches. Well yeah... maybe Robert has to be more patience, it really needs the courage to ask her out. Robert holding two movies tickets and squeezed it tightly... 

***

FIN

Rabu, 28 Mei 2014

Kenangan Tak Bertepi Part 4 - Edisi Payitang

Kenangan Tak Bertepi? postingan dua tahun lalu ini akhirnya dilanjutkan lagi, yaaah... karena memang saat ini aku sedang terserang ingatan sewaktu kecil, beberapa hari terakhir semua masa-masa kecilku seperti terbayang kembali. Tepat saat ini, saat aku menuliskan postingan ini, Manis alias Mei-Mei kucing gendutku sedang berbaring di sampingkan dengan gaya "super kiyuut-nya" setelah tadi dengan sok manja-nya menghampiriku dan menggesek-gesekkan badannya sejenak di kakiku.

yah... Manis... kucing betina aneh yang tidak beranak. Dulunya, dia akan berlari kalau aku bersiap mengelusnya menggunakan tangan, dan akan sangat senang saat yang aku gunakan untuk mengelusnya adalah kaki. Pertama kali melihat kucing ini, aku seperti ..."Uuuuh... ni kucing mau tak remes aja!!" tapi... sepertinya keinginan terpendamku ini harus aku tahan, karena kucing ini jenis kucing berat yang nggak doyan digendong, nyebelin? sangat. Sekarang coba aja bayangkan, seringkali rasa gemas itu dapat ditumpahkan dengan sentuhan fisik, tapi... terkadang mengelus saja nggak cukup buat menyalurkan rasa sayang, sekali dua ingin banget rasanya aku peluk ni kucing trus aku cium-cium seperti apa yang aku lakukan belasan tahun silam ke Payitang, kucing kesayanganku yang kenangan akan dia tak akan pernah bertepi...

Payitang... kucing lokal dengan bulu yang dominan hitam plus sedikit garis-garis kuning di beberapa bagian tubuhnya, (sayang, aku nggak punya foto-nya). Payitang, menurutku adalah kucing yang super duper cakep, hahaha.... mungkin bagi kalian yang bukan pengamat kucing bakalan bilang, cakep? tau dari mana? bukannya kucing rupanya sama aja? 
Hahaha... percaya tidak percaya, aku sewaktu kecil selalu menganggap Payitang itu jelmaan Pangeran yang kalau dikecup akan berubah jadi Pangeran tampan nan gagah- seperti Pangeran Kodok (aseek!!), maklum kebanyakan nonton dan baca cerita dongeng. Tapi... entahlah, ni kucing asli cakep banget, dan yang paling penting jinak banget. Tak jarang dia melingkarkan badannya di kakiku setiap kali aku menonton dengan posisi bersila. Aku seringkali menonton dengan posisi ini, dan Payitang tanpa basa-basi datang dan dengan entengnya memasukkan kakinya satu demi satu ke celah kakiku, dan merebahkan badannya dengan posisi tidur melingkar. Dan.... seperti yang kalian ketahui sendiri, kucing tidak pernah tidur sebentar... jadi bisa dibayangkan bagaimana kakiku berasa mati rasa, kesemutan? tentu saja. Lucunya, aku menikmati setiap kali Payitang melakukan rutinitas ini, walaupun kesemutan, tapi aku sama sekali tidak ingin membangunkan kucing ini barang sedetikpun, kakiku yang terasa hangat karena suhu tubuh Payitang sampai saat ini masih kurindukan.

Payitang pun seringkali menemaniku tidur. Tak jarang aku mendapatkan dia sudah melingkar saja di sampingku sewaktu aku tidur, parahnya dengan posisi membelakangiku dan tidur tepat di depan mukaku, hehe... dasar kucing tengil. Sewaktu kecil aku pernah membawa Payitang ke rumah sahabatku Tik, yang jarak rumahnya dari rumahku mungkin sekitar hmm... kurang lebih 5 rumah. Aku membawanya layaknya membawa adek bayi, aku melilitkan kain panjang di badanku dan juga melilitkan kain tersebut ke badan Payitang kecil yang kalem saja kuperlakukan sesuka hatiku. Terkadang dia menggeliat yang berarti dia nggak mau atau bosan, tapi... selebihnya dia menikmati gendonganku, hehe.

Tapi... aku mungkin termasuk penyayang kucing yang sadis. Dulu, setiap kucing yang mencakarku, pasti ku balas dengan menyundul-nyundul kepalanya sambil bilang," Oh gitu...berani kamu yah...!! huh!! huh!!" padahal tu kucing mencakarku mungkin untuk perlindungan diri karena takut liat mukaku yang terlalu dekat dengan mereka, yang anggap saja begitu.

Terinspirasi dari Tipi, aku juga membuatkan Payitang baju dan kalung, tapi.... karena nggak punya modal, aku cuma bisa buatkan dari.... kertas, yah kertas, yang mana setelah kupasangkan ke Payitang di pagi hari, sorenya sudah hilang, dan sekali lagi aku pasti ngomel-ngomel dan marahin Payitang layaknya Ibu yang marahin anaknya yang nakal. Reaksi Payitang?? Jilat-jilat badan dan kaki...

Payitang berumur kurang lebih 9 tahun, sayang aku nggak nemuin dia mati. Tapi... aku masih ingat Payitang tua yang lebih banyak bersantai-santai, nggak seperti sewaktu dia muda, dia seringkali membawa betina ke rumah dan memberikan tontonan lucu... aku juga seringkali memperhatikan dia membuang kotoran, saat terlucu adalah saat kucing mengubur kotorannya, dengan sekali dua mereka mencium-cium gundukan yang mereka buat apakah sudah cukup tebal untuk menghalau keluarnya bau dari kotoran mereka.

Kucing adalah makhluk yang bersih? tentu saja, kuman di badan kucing hampir tidak terdeteksi, itu berkat liurnya yang bersifat pembersih. Jadi tak heran, waktu Ummul mukminin Aisyah r.a tidak segan-segan memakan bubur yang sudah dijilati kucing, karena kucing itu tidak nakjis, begitu pula Rasulallah SAW yang tetap memakai air jilatan kucing untuk berwudhu. Rasulallah SAW sendiri adalah penyuka kucing dan beliau memiliki kucing yang bernama Mueeza... :).... 

Memang...kucing adalah peliharan yang paling pas, karena memang hidup kucing itu yah... di rumah. Beberapa hari yang lalu, aku menonton sebuah acara di TiPi yang membahas tentang peran kucing yang telah menyelamatkan majikannya, dari kebakaran, struk, dan masih banyak lagi aku lupa, si kucing malah dikatakan telah menyelamatkan majikannya lebih dari puluhan kali, dan kucing-kucing ini bertingkah menakjubkan tidak hanya karena dipelihara sedari kecil bahkan saat dimana kucing itu baru saja diadopsi, dia bisa dengan sigap menyelamatkan majikan barunya.

Wah... adzan udah berkumandang nih... saatnya postingan ini dilanjutkan lain waktu...

Au revoir amis.. :)









Sabtu, 24 Mei 2014

Rosalinda -Thalia


Rosalinda 


Cuando se tiene una razón
Para amar intensamente
Se descubre de repente
Que por tí late más fuerte el corazón.
Ay! Cuando nos llama la pasión
Nos hallamos frente a frente
Para amarnos locamente
Y entregamos sin reservas al amor.

Ay amor, quédate muy dentro,
Aquí está tu Rosalinda para vivir en tus sueños
Ay amor, que me estoy muriendo,
Es esta tu Rosalinda que sólo quiere tus besos.

Rosalinda! Rosalinda!
Rosalinda! Rosalinda!

Ay! Beso a beso, piel a piel,
Me enamoras suavemente,
Me devoras lentamente
Desatando los secretos del placer.
Sólo tú sabes muy bien
Embriagarme de locura
Me seduces, me torturas
Con el roce de tus labios como miel.

En tus ojos tengo una razón para soñar,
Es una eternidad sintiendo como el tiempo
Ya no existe junto a tí,
Me siento tan feliz
Cuando me llevas en tus brazos a la libertad.

Ay amor, quédate muy dentro,
Aquí está tu Rosalinda para vivir en tus sueños
Ay amor, que me estoy muriendo,
Es esta tu Rosalinda que sólo quiere tus besos...

Ay, amor, ay amor, aquí esta tu Rosalinda
Para vivir en tus sueños
Es la locura que me tortura
Porque te llevo muy centro.

Ay, amor, ay amor, es esta tu Rosalinda
Que sólo quiere tus besos
Si el amor me ha dado una razón
Es para entregarte el corazón, y te digo...

Ay, amor, ay amor, aquí está tu Rosalinda
Para vivir en tus sueños
Toma mi alma, bebe mi cuerpo
Que por tus besos me estoy muriendo, ay.

Ay, amor, ay amor, es esta tu Rosalinda
Que sólo quiere tus besos.

Rosalinda... Rosalinda,
Rosalinda ay amor, ay amor...





Bang Bang -Elie Dupuis


Bang Bang 

Source : lyricsmania.com


Nous n'étions que des enfants,

Nous n'avions que 5 ou 6 ans,
On jouait au même jeu,
C'était lui le plus fort des deux.



Bang, bang, il me tirait,
Bang, bang, il me blessait, 
Bang, bang, moi je pleurais,
Bang, bang, et il me consolait.





Bien vite passa le temps,
Et nous sommes devenus grands,
En riant il me disait:
"Rappelle toi quand on jouait".



Bang, bang, il me tirait,
Bang, bang, il me blessait, 
Bang, bang, moi je pleurais,
Bang, bang, et il me consolait.



Vous pouvez rire et chanter,
Pendant que je vais pleurer. x2



Il était mon grand amour,
Je voulais le garder toujours,
Et moi je n'étais rien sans lui,
Sans amour, il est parti.



Bang, bang, il m'a quittée,
Bang, bang, je suis blessée,
Bang, bang, je vais pleurer,
Bang, bang, sans être consolée.



(Merci à Barbara C. pour cettes paroles)

Earth Song - Michael Jackson

Earth Song


What about sunrise
What about rain
What about all the things
That you said we were to gain...
What about killing fields
Is there a time
What about all the things
That you said was yours and mine...
Did you ever stop to notice
All the blood we've shed before
Did you ever stop to notice
This crying Earth, this weeping shore?

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

What have we’ve done to the world
Look what we've done
What about all the peace
That you pledge your only son...
What about flowering fields
Is there a time
What about all the dreams
That you said was yours and mine...
Did you ever stop to notice
All the children dead from war
Did you ever stop to notice
This crying Earth, this weeping shore?

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

I used to dream
I used to glance beyond the stars
Now I don't know where we are
Although I know we've drifted far

Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh
Aaaaaaaaah Oooooooooh

Hey, what about yesterday
(What about us)
What about the seas
(What about us)
The heavens are falling down
(What about us)
I can't even breathe
(What about us)
What about apathy
(What about us)
I need you
(What about us)
What about nature's worth
(ooo, ooo)
It's our planet's womb
(What about us)
What about animals
(What about it)
Turned kingdoms to dust
(What about us)
What about elephants
(What about us)
Have we lost their trust
(What about us)
What about crying whales
(What about us)
Ravaging the seas
(What about us)
What about forest trails
(ooo, ooo)
Burnt despite our pleas
(What about us)
What about the holy land
(What about it)
Torn apart by creed
(What about us)
What about the common man
(What about us)
Can't we set him free
(What about us)
What about children dying
(What about us)
Can't you hear them cry
(What about us)
Where did we go wrong
(ooo, ooo)
Someone tell me why
(What about us)
What about baby boy
(What about it)
What about the days
(What about us)
What about all their joy
(What about us)
What about the man
(What about us)
What about the crying man
(What about us)
What about Abraham
(What about us)
What about death again
(ooo, ooo)
Do we give a damn

Aaaaaaaaah Oooooooooh





Jumat, 23 Mei 2014

Saatnya Bermimpi...


“Ke Inggris??”
“Ya… coba liat aja twittermu, aku udah tautin link lombanya…”

Kurang lebih seminggu yang lalu, temanku Mbak Rany, memberiku kabar gembira yang WOW itu. Lomba yang berhadiah ke INGGRIS?? Hei!! Siapa yang nggak tertarik??


Jadi… for your information guys misterpotato (misterpotato.co.id) mengadakan blog contest yang hadiahnya ke INGGRIS !!! …. Bagi siapa aja yang pengen banget ke sana, silahkan aja meluncur ke link yang udah aku tautin itu, Ok! Cepat aja bergegas guys soalnya DL-nya bentar lagi.
Back to the topic…

Inggris, mendengar namanya aja langsung membuatku membayangkan Stonehenge (peninggalan sejarah ini merupakan list teratas dari semua tempat yang pengen banget aku kunjungin di Inggris) Tower of London, Istana Buckingham, Hadrian Path, Kastil Windsor dan beberapa tempat lainnya yang tentunya menjadi obyek wisata terfavorit di Inggris. Membayangkan Inggris, pertama kali yang terlintas di benakku adalah padang rumput hijau, bangunan-bangunan lama (yang juga menjadi ciri dari Negara Eropa pada umumnya), dan tentunya beberapa klub ternama yang membuat Inggris tetap setia di hati, hehe.
Aku mungkin bukan penggila bola, bukan banget. Tapi… beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2002 waktu Piala Dunia diadakan di Korea-Jepang, aku mendadak menjadi penyuka Sepak Bola, paling tidak untuk saat itu saja, hehe. Inggris merupakan salah satu Negara yang aku jagoin, tapi… inti dari pembicaraan ini sebenarnya bukan mengenai sepakbola itu sendiri tapi lebih ke… bagaimana ajang bergengsi ini udah mencuci otakku sampai di bawah alam sadar, dimana aku ngelindur dengan topik yang sampai saat ini masih “tidak masuk akal” buatku.
Jadi… ini pengakuan dari Kakakku sendiri yang menjadi saksi “apa saja yang aku ucapkan waktu aku ngelindur.” Sebagai informasi saja, aku emang jagoin Inggris, tapi  waktu itu aku lebih menjagokan Turki, jadi waktu aku ngelindur dan temanya bukan tentang Turki, aku jadi merasa ini tidak masuk akal.

Michael Owen
, siapa yang nggak kenal pemain ganteng dari Inggris yang dulu sempat berjaya waktu masih berada di Liverpool? Yah… pastinya ada, aku salah satunya dan Kakak Sepupuku yang sempat mengira kalau dia aktor, lantaran di buku catatannya si Owen bukannya memakai baju bola malah  memakai baju hitam dan kacamata hitam. Tak heran, sewaktu dia tahu identitas Owen, dia mendadak menjadi fans Owen saat itu…. Yah hanya saat itu. Saat dimana dia dengan entengnya membeli poster besar Owen dan dengan mantapnya poster itu di tempel di dinding kamarnya. Ternyata, tanpa sadar aku terpengaruh oleh Kakakku ini… walaupun bukan penggemar Owen, aku sempat ngelindur dan aku sampai saat ini nggak percaya dengan apa yang pernah aku ucapkan ini,”Eh… Owen... seputih apa sih kakinya? Lebih putih kakiku kali…” Mendengar itu esok paginya, aku seperti… “What??Are you serious??… mikirin Owen aja nggak tadi malam…” Tapi… nggak tahu kenapa, ternyata bukan cuma Owen, malam berikutnya aku malah mengomentari Om Buffon -kipper Italia saat itu.



Ada-ada aja… sepertinya aku harus ke Inggris untuk mengkonfirmasi pernyataan alam bawah sadarku itu, hehe. Ok… kembali mengenai Inggris. Inggris dari dulu selalu menjadi Negara yang selalu ingin aku datangi kenapa??

1.     Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama yang aku pelajari, dan aksen Inggris adalah aksen favoritku, dari sekian banyak aksen bahasa yang pernah aku ketahui, jadi berkunjung ke Inggris akan membuatku belajar langsung aksen klasik ini.
2.     Aku lebih dahulu mengenal mata uang Inggris dibandingkan mata uang Negara lainnya sewaktu kecil, lantaran doyan baca buku karangan tante Enid Blyton, hehe. Sebagai mata uang paling tua di dunia, Pound sterling tentunya pas banget buat koleksi, hehe.
3.     Setahun yang lalu aku dikirimin uang langsung dari Inggris, emang tidak seberapa, cuma beberapa sen, tapi uang itu udah berasa harta karun aja. Maklum, aku juga kolektor uang asing sih, hehe. 
4.     Aku suka  Harry Pottert!!! (hubungannya??) yah... aku selalu pengen ngunjungin beberapa spot tempat pembuatan filmnya, hehe...
5.     Aku selalu bercita-cita suatu saat dapat kesempatan buat menelusuri setiap pelosok jalanan Inggris. Pasti seru !!! yay!!

Yah bayangin buat jalan-jalan ke Inggris buat aku jadi laper, kalau gitu gimana kalau kita ngemil dulu…
Hmmmm yummy…..



Jalan-jalan ke Inggris, sambil ditemenin snack lezat ini, pasti bakalan jadi pengalaman tak terlupakan, hmm … kelamaan ngayal aku malah jadi ngantuk nih… saat-nya buat ngimpi… Sebelum tidur tak lupa  untuk selalu berdoa semoga diberi kesempataan untuk suatu saat nanti bisa jelajahi Negara-nya Ratu Elizabeth… tambahan bonus kalau ketemu artis-artis ternamanya (Ngimpi banget!!), hehe…


…Bye bye… and...See you ...
Sampai ketemu di Inggris J

Sabtu, 17 Mei 2014

Bicara Sedikit tentang 너희들은 포위됐다 (You're all surrounded)

Haluuuuu!!!!

Wah... lama rasanya aku nggak ngebahas tentang drama or movie...
tapi kali ini berhubung aku lagi nonton drama...so mari kita bahas sedikit...
drama terbaru yang buatku.... ngocol banget...

Bagi penyuka drama Korea and selalu Update, pasti tahu drama terbaru Lee SeungGi ini....
Yuppy!!! anda benar!!!

You're all Surrounded....

Berhubung ni drama belum kelar, aku nggak mau banyak ngoceh deh, cuma aku mau bilang...
ni drama so far buatku sangat recommended... wae???
karena ni drama ngehibur banget...

aku masih ingat banget jum'at malam, aku harus bangun karena denger cekikikan kakakku yang nonton tengah malam, heluuuu!!! itu ganggu banget... tapi waktu aku tahu kalau dia lagi nonton ni drama reaksiku malah....

"tuh kan.... lucu...."

Aku suka banget peran  SeungGi di sini yang jadi cowok sok Cool, dan  AhRa yang  jadi cewek  sok kuat...
cuma yang ganggu tuh pemeran cowok yang dianggap "ganteng" itu.. hmmm nggak tahu napa yah... (oke lah selera orang beda, hehe) tapi... emang tu cowok putih banget, saking putihnya ampe aku ngeliatnya kayak cat dinding  hehe...   waktu yang di Shot tangannya doang aja aku sempet kirain tangannya tu tangan cewek, gilaaa putih beeeuud.....
no komen buat yang kacamata, kecuali ni cowok jadi keren, hehe...

Yah aku nggak mau panjang lebar, tetap aja pantengin drama ini, semoga nggak ngebosenin yah...

buat yang baru mau nyari... yang update tuh Gooddrama.net and Dramafire.com....
drama ni tayang setiap hari Rabu dan Kamis malam di Korea sono...

Ok Minna...
Ciao....



Jumat, 25 April 2014

Celoteh di pagi hari....

Kasus JIS semakin marak memenuhi setiap chanel di Tipi, rasanya ni brita nggak ada habis-habisnya.    Kasus yg g tau napa mengungkap byk kasus lainnya ini membuatku ingat ama pernyataan kakakku yg hmmm mungkin udah lebih setaun yg lalu mgkin lebih, wktu ngeliat para rmaja2 yg keroyokan nyanyinya n yg udah gede tp kyk anak kcil genitnya, yah ntahlah kalian tahu apa g, yg pasti kmunculan girlband2 mcm gini trnyata membuat kecendrungan org mjd suka anak kcil - yah bhs kerennya kalian lebih tahu lah. Kok bisa??? maaf no  data by now, tp yah kurang lbihnya gini... Jd sperti yg kita tahu, kecndrungan sperti  ni g tau knp skrg smakin marak aja jd brita, mgkn kasus ini bkn ksus bru, tp g bs dipungkiri kasus mcm ni buat kita jd was2 buat ninggalin adek kita, ponakan, ato mgkn anak kita ma org lain, walopun tu ama kluarga sndiri, coz u know lah ni kcendrungan kgak keliatan scara kasat mata, bhkan mgkn ada yg dlunya kgk gitu tp krn kbanyakn ntn ABG pake baju sekolah yg roknya naik tinggi bgt  nari2 imut gitu, tu org jd mulai dah punya fantasi sek* ke anak2, yah secara penyuka anak2 ni rata2 berumur bukan ABG lagi. Sperti yg di katakan seorang psikolog anak (kbetulan tdi mlm pantengin Black und Waito), saat orang terpapar oleh pornografi ampe ke tingkat act out ni otak sbelah kanan bagian atas pelipis rusaknya bkalan sama dgn otak org yg rusak akibat dr kcelakaan hebat, ampe segitu parahnya. Jadi sbnarnya tak ada salahnya untuk mjga diri dri menjaga pandangan dan menutup aurat toh tu buat kita juga. Walaupun mgkn masih byk yg berdalih, alaaa itu mah emang udah otak lo aja yg ngeres, for ur information... Aku prnah ntn brita seorang pman yg memper**sa ponakannya lantaran sering ngeliat tu ponakan pake mini2... So yeah mang ada be2rapa org yg emang otaknya dah ngeres mkanya jgn tambah di stimulus... Yeah oke lah ini mang cm pndapatku doang, skrg terserah di anggap lalu atau mau di cerna...

Berita yg lgi marak jg d tipi skrg adlah "anak artis" (kntara bgt ni doyan kedap-kedip d dpan tipi), jd sepertinya hal ini brawal dri anak tertua si Dhani, "Al" perasaan ni anak selalu jd brita deh, org kyk terkaget2 gitu liat dy yg tumbuh ganteng, padahal dr dulu muka Al kgak berubah deh cm mang yah nampak lebih grow up aja hehe ( ngomong apa aku ni), yah jd setelah ni bocah bertebaran brita ttg anak artis yg laen, mksdnya yg katenye ganteng2... Sebut aja anak dri Tamara, vena melinda, feri salim, ampe anak inul yg masih kecil d sebut2... Tp yg pling buat ngenes ngeliatnya tuh anaknya Andi Soraya (asli gelo hansemnya)... Emang tuh bocah2 minus anaknya vena, feri dan inul, keliatan gantengnya dri kecil, ngeliat mereka aku ngrasa udah tua banget... Oke sbnarnya inti dri basa basi ni "buat aku yes..." <apaan sih, mulai ngelantur ni karena tumben bangun pagi n kgk tidur lagi ni> jd ternyata maraknya para brondong2 ganteng baik itu dr tanah aer sendiri ato dr tanah aer org ( mkdnya negeri ginseng) ternyata menghasilkan muncul nya tante tante genit... Tante yg kalo liat brondong kayak nyesel lg jlan breng suami. Yah tak bisa di pungkiri hal sperti ni skrg smakin marak karena emang mata kyk difasilitasi dgn baek untuk info kyk gene. informasi tu mang layakny daun di pepohonan,  rimbun bgt n kalian bisa pilih mau ambil daun yg seger ato yang kering ato yang seger tapi udah dibolongin pak de ulat  ato  yg udah setengah kering, tu pilihan... < ini advisenya pas g yah?>  yah kurang lebih gitu dah yah...

Yah intinya sih jaga diri aja jgn kebawa arus, godaan tu ada di mana2, kalo bkan qt sendiri yg jaga diri kita siapa lagi ( ama terus berdoa minta dilindungin juga ama Allah biar qt, keluarga qt, org2 terdekat qt  di jauhin dari semua kemaksiatan dunia yg pana ini), perbanyak ilmu karna ilmu tu buat orang lebih awas, lebih peka dan sensitif ngeliat lingkungan, jangan apatis deh jaman skrg kalo orang semua apatis mau dibawa kmana negeri ini ( wah bahasannya jd malah bawa negeri nih, ajib)...  So... sebelum aku tutup aku mau minta maaf kalo ada kata2ku yg menyinggung, ni tulisan emang cm celotehanku doang kagak ada maksd buat nyudutin siapa aja, semoga qt semua selalu berada dalm lindungan-Nya amiin...

Bye...


Rabu, 02 April 2014

Kalung...

Hai... rasanya sudah lama aku nggak menulis cerita, kali ini aku mau mengangkat cerita tentang bagaimana sesuatu hal yang sebenarnya biasa saja menjadi "sesuatu"  ketika seseorang cenderung mengambil kesimpulan hanya dari diri-nya sendiri, tanpa mengklarifikasikan masalah itu terlebih dahulu. Cerita ini mungkin aja fiktif tapi terkadang juga terjadi (di dorama hoho...)... cerita yang terinspirasi dari kata "목걸이 (kalung)" sesaat setelah menonton BOC (Bride of Century) yang sedang tayang saat ini (kok malah jadi promosi drama yah)... yah cerita yang bakalan aku tulis ini pastinya sangat jauh berbeda dengan cerita BOC, hehe...




Lima hari lagi, ulang tahun ibunya tinggal lima hari lagi. Sora nampak bingung memikirkan kado apa yang akan diberikannya. Dia berjalan dengan lunglai setelah hampir sejam berkeliling melihat berbagai toko-toko di pinggir jalan.
“Hei!! Sora Chan!!” Seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Sora membalikkan badan dan dilihatnya sosok lelaki muda yang sangat tampan, dia tak lain adalah gurunya dulu di klub Kendo.
“Ah!! Youji Sensei! Konnichiwa!” Sora memberi hormat, matanya berbinar bahagia. Dia tidak menyangka akan bertemu guru kendo favoritnya.
“Wah… seperti biasa kamu tampak selalu semangat yah!! Hmm apa kamu sedang sibuk?”
“Eh?... ah… nggak kok, aku hanya sedang bingung mencari kado untuk ibuku.”
“Ibumu? Oh… bagaimana kalau kalung… aku tahu tempat yang bagus. Kebetulan aku ingin ada seseorang yang bisa menemaniku.”
“Ah! Benarkah! Ok! Aku siap menemani Sensei! Hehe.” Sora tersenyum lebar, akhirnya dia tahu kado apa yang akan diberikannya pada ibunya.
Di tempat lain, Hiroki Yamada sedang uring-uringan mengikuti acara double date yang diatur oleh temannya. “Maaf Hikun! Aku juga nggak menyangka jadinya akan seperti ini.” Shun Takagi menghela nafas panjang.”Huff… aku kira dia sudah melupakan mantan-nya.”
Hiroki melihat Shun yang terlihat lebih frustasi darinya, double date yang sebenarnya dia ikuti hanya untuk temannya ini hancur berantakan karena gadis yang ditaksir Shun ternyata kembali ke mantannya. Padahal, untuk mendapatkan cinta gadis ini, Shun harus mengorbankan banyak hal, termasuk memberikan Hiroki ponsel yang baru saja dia beli supaya temannya ini mau untuk diajak double date. Hiroki menjadi merasa tidak enak menerima ponsel itu. Pada dasarnya dia juga tidak berniat untuk ikut double date, lagipula dia juga tidak memiliki pasangan. Hanya saja, si Haruna, gadis yang di taksir Shun hanya mau nge-date kalau temannya si Shizuka juga diajak. Tapi… siapa yang menyangka, di tengah acara nge-date yang belum sampai puncak mendebarkan, si Kudo muncul dan dengan sangat mudahnya mengambil Haruna dari Shun, dan Haruna bahkan tidak memberi penolakan sedikit pun. Kejadian beberapa menit itu, sungguh membuat mereka berdua shock!
“Ano… Yamada kun?...” Shizuka entah sejak kapan berdiri tepat di hadapan Hiroki.
“Untuk hari ini… terima kasih banyak, aku… sangat menikmatinya… mungkin… lain waktu…kalau kamu mau…kita bisa pergi lagi… hanya berdua?” Shizuka memberikan sinyal ketertarikan kepada Hiroki, di satu sisi Hiroki senang karena Shizuka termasuk gadis yang manis, tapi… di sisi lain dia merasa tidak nyaman melihat Shun yang baru saja patah hati.
“Ah… yah aku juga.. terima kasih.. hmm.. lain kali yah…” Hiroki mencoba memasang senyum yang manis, tapi sepertinya masih tampak dipaksakan.
“Mengenai Haruna, maaf yah Takagi kun… Haruna benar-benar telah melewati banyak hal untuk melupakan Kudo kun, tapi… sepertinya dia…”
“Ah… aku mau jalan-jalan… mau menemaniku Hikun?!” Shun tiba-tiba berdiri, memotong kata-kata Shizuka dan tanpa memperdulikan Shizuka dia berjalan menjauh. Shizuka terlihat terkejut dengan reaksi Shun, tapi dia hanya bisa terdiam terpaku. Hiroki jadi merasa serba tidak enak, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka akhirnya berjalan tak tentu arah, meninggalkan Shizuka yang penuh kebingungan dan Haruna beserta Kudo yang sedang menikmati masa bersama lagi. Hiroki terus mengikuti Shun tanpa bertanya apa-apa. Tiba-tiba langkah Shun terhenti tepat di sebelah toko perhiasan. Hiroki pun ikut berhenti, dipandanginya Shun yang terlihat begitu tegang.
“Apalagi ini?” suara Shun meninggi dan terdengar kesal. Hiroki pun melihat apa yang menjadi sumber amarah tersebut.
“Eh? Youji San! Bersama… seorang gadis? Bukannya…” Hiroki tidak menyambung kata-katanya, karena nampaknya Shun sudah kesal sekali.
“Ayo pergi!!” Suasana hati Shun tambah tak menentu.
Di dalam toko perhiasan yang baru saja dilalui oleh Shun, tampak Sora tanpa rasa canggung begitu menikmati setiap kali Youji memasangkan kalung ke lehernya.
“Bagaimana? Apa terlihat cantik?” Youji memandangi  kalung itu melalui cermin.
Sora tersenyum memandangi betapa indahnya kalung itu,” Gadis yang akan Youji Sensei berikan pasti akan sangat menyukainya.”Tuturnya senang.
“Benarkah? Baiklah… aku akan ambil ini.” Youji tanpa pikir panjang mengambil kalung itu dan segera membayarnya. “Tolong kalung ini… dan Itu dibungkus.” sahutnya sambil menunjuk sebuah kalung lagi.
“Eh?! Ini kan…” Sora begitu terkejut, karena Youji tanpa basa-basi membayar kalung yang rencananya akan dia berikan kepada ibunya juga.
“Sebagai tanda terima kasih karena kamu telah meluangkan waktumu menemaniku…” Youji tersenyum manis, Sora benar-benar dibuat meleleh.
Belum saja kedua barang itu sampai ditangannya, Youji mendapat telpon mendadak dari kantornya, dia segera keluar dari toko tersebut, terpaksa Sora yang menerima bungkusan kedua kalung cantik itu.
“Ah… maaf Sora Chan, aku harus segera pergi, ada suatu keadaan mendadak di kantor yang harus aku tangani…” Tanpa berkata apa-apa lebih lanjut, Youji segera berlari. Sora bahkan belum sempat menanyakan mengenai kalung yang baru saja dibeli Sensei-nya itu. Akhirnya daripada bengong, Sora pun memutuskan untuk pergi makan terlebih dahulu sebelum pulang, karena dari tadi pagi dia belum menyentuh makanan sedikit pun.
Shun menyeruput minumannya dengan malas, Hiroki sudah sedari tadi meninggalkannya sendirian, tapi dia masih saja termenung memandangi hamburgernya yang baru digigit sekali. Beberapa kali dia mencoba menghilangkan mood jeleknya dengan menghela nafas panjang, cara itu hampir berhasil tapi langsung gagal ketika matanya mendapati sosok gadis yang tadinya bersama Youji duduk tepat di meja seberang tempat duduknya. Gadis yang sudah sangat kelaparan itu, memakan makanannya dengan lahap tanpa menyadari ada mata yang sedang mengawasi setiap gerakannya. Shun terus memandangi gadis itu, masih tidak masuk akal baginya gadis itu bisa menyaingi Narumi yang merupakan idola-nya sedari kecil.
Tiba-tiba, ponsel gadis itu berdering, spontan Shun menguping pembicaraan gadis itu.
“Ya.. ini dengan Sora… ah! Youji Sensei!! Ah ya..ya… apartemen Sensei? Oh …yah..yah… tidak apa-apa,  yah..yah… yah sama-sama.”
Telpon singkat itu benar-benar membuat geram Shun, apartemen? apartemen aniki? Apa-apaan ini? segala macam pikiran berkecamuk di kepala Shun. Gadis itu dengan segera menghabiskan burger ke-lima yang dibelinya, lalu dengan kilat meminum cola dingin-nya sampai habis.  Shun saat itu juga langsung tahu apa yang harus dilakukannya segera.
Shun bergegas ke apartemen Youji, dia tidak tahu apakah gadis tadi akan ke sini apa tidak, dia hanya menebak-nebak saja siapa tahu perkiraannya benar. Sambil bersembunyi, dia memperhatikan setiap kejanggalan yang mungkin dia temukan di apartemen itu. Suara langkah kaki mendekat, Shun segera bersembunyi, mengandalkan ponselnya, dia mengintai siapa yang baru saja datang. Ternyata yang datang adalah Narumi, tunangan Youji yang kerap kali datang menyambangi apartemen Youji sekedar untuk membersihkannya atau menyiapkan makanan. Setelah Narumi tidak ada lagi yang datang, Shun sudah hampir tertidur sampai dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Rasa kantuknya seketika itu langsung hilang. Dari ponselnya, dia dapat melihat bahwa yang datang kali ini adalah gadis itu. Gadis itu berkali-kali memencet bel, Shun masih memperhatikan sambil berfikir apa yang harus dia lakukan. Tak lama berselang, terdengar suara klek dari arah dalam apartemen Youji, pintu apartemen yang kalau dibuka mengarah keluar ini spontan ditutup Shun, setelah berlari kilat dari lokasi persembunyiannya.
Gadis itu tersentak, nafas Shun masih tersengal-sengal. Dengan posisi masih menutup pintu dengan tangannya, Shun berdiri tepat di hadapan gadis itu.  Mata mereka bertemu, kali ini jarak mereka sungguh dekat, Shun dapat melihat wajah gadis itu dengan sangat jelas. Terlihat matanya memandang tajam gadis itu, gadis itu pun nampak tidak berkutik memandangi Shun, dia terlihat kesal dengan laki-laki yang datangnya entah darimana ini.
“Kamu siapa?” secara bersamaan Shun dan gadis itu bertanya hal yang serupa. Mereka tersentak, sama-sama mendengus kesal,“Kamu siapa?” kembali mereka mengeluarkan pertanyaan yang sama, sekarang mereka sama-sama tersenyum kesal.
 “Kau…” Shun melepaskan tangannya dari pintu dan saat itu juga pintu terbuka, karena tadinya gadis itu berdiri tepat di depan pintu, terbukanya pintu membuatnya secara tidak sengaja terdorong  oleh pintu sehingga dia menabrak Shun yang berdiri tepat di hadapannya, Shun secara spontan, menjaga kesetimbangannya dengan menahan gadis tersebut tapi… ternyata yang telihat malah seperti dia sedang memeluk gadis itu.
“Eh? Shun Chan??” Narumi memandangi kedua anak ingusan itu, melihat Shun memeluk gadis itu, dia cekikikan. Shun yang terkejut segera menarik lengannya dari tubuh gadis tersebut dan menundukkan badan memberi salam, gadis yang bersamanya itu pun spontan mengikuti. Narumi tersenyum melihat tingkah kikuk Shun, matanya pun akhirnya terpaku pada gadis yang saat ini berdiri tepat di samping Shun.
“Siapa Shun? Pacarmu??”
“Bukan…aku hanya…” Gadis itu belum menyelesaikan kata-katanya, Shun sudah tidak sabar untuk bertanya.
 “Hmm… apa aniki ada?”
“Ah! Youji Kun?? Hmm… sepertinya dia akan pulang telat… hmm…bagaimana kalau kalian makan dulu, aku kebetulan udah masak.” Narumi melirik gadis itu dan Shun melihat reaksi mereka.
“Apa aniki sebentar lagi akan pulang?”
“Hmm… entahlah… kenapa kalian nggak tunggu saja di dalam, sambil makan…ayo…”
Narumi segera masuk sembari mempersiapkan makanan di meja makan, sedangkan Shun dan gadis itu masih berdiri di bibir pintu.
“Aku pulang saja,” Baru saja gadis itu akan pergi, Shun memegang lengannya.
“Kenapa buru-buru? Kamu juga mau ketemu dengan Kakakku kan? Ayo masuk saja…” ajak Shun dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Shun berharap dia bisa menahan gadis itu sampai Kakaknya pulang.
Sora memandangi apartemen Youji dengan kening berkerut. Berat sekali rasanya kakinya untuk melangkah masuk. Sebenarnya dia datang hanya untuk mengantarkan kalung yang dibeli oleh Sensei-nya. Gadis cantik yang membukakannya pintu tadi pastilah tunangan Senseinya. Kalau saja laki-laki bernama Shun itu tidak ada, tugasnya pasti sudah selesai. Sora pada awalnya berencana sebagai pengantar kalung itu tanpa berbasa-basi kalau kalung itu terbawa olehnya, dia hanya tidak ingin nantinya timbul kesalahpahaman. Tapi… karena adegan pelukan tak sengaja yang tak penting tadi itu, serta tak adanya kesempatan untuknya untuk berbicara, membuatnya menjadi berfikir untuk lebih baik menyerahkan kalung itu langsung ke Youji besok saja.
“Hoi!!” Shun memanggilnya dengan kasar, Sora langsung melirik Shun geram.
“Hei!! Kenapa masih di situ?? Ayo cepat … makanannya udah siap nih…” Narumi memanggil mereka dari dalam, terlihat wajahnya nampak ceria.
Sora menjadi tidak enak untuk tidak menerima tawaran Narumi, senyum manis Narumi benar-benar bisa menghipnotis orang. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk, Shun mengikutinya dari belakang.
“Makan ini, ini, ini, ini, ini, ini…” Narumi mengambilkan hampir semua jenis lauk yang tersedia di atas meja ke mangkok nasi Sora. Raut wajah Shun menampakkan ketidaksukaannya atas hal itu.
“Kenapa? Ayo dimakan?” Sora tersentak mendengar suara Narumi, tadi tanpa sadar dia melirik Shun yang duduk tepat di sampingnya cukup lama,”Eh?.. ya terimakasih… itadakimasu!!”
Sora mulai memakan lauk tersebut satu persatu, semakin lama kunyahannya semakin cepat, tanpa sadar dia sudah meminta tambahan nasi lagi.
“Ahhh!!! Enak sekali…” mata Sora berbinar, dia tidak pernah merasakan makanan seenak ini sebelumnya. Dipandanginya Narumi penuh takjub,” Apa ini semua anda yang memasaknya?”
Narumi sedikit terkejut dengan reaksi Sora yang tak terduga,”Hahaha…. Kamu formal sekali, jangan “anda” panggil saja aku “kakak” … yah itu aku sendiri yang masak, bagaimana, kamu suka?” Narumi tersenyum malu-malu menyadari masakannya sangat di sukai. Sora mengangguk-angguk senang, dengan mantap dia mengambil semua lauk di atas meja, menghabiskannya satu-persatu tanpa canggung. Shun yang melihat itu, sampai tidak berkutik, dia bahkan tidak sadar kalau dia sama sekali belum memakan apa pun.
“Ah…!!! Enak banget > <!!!” Sora melahap habis makanan di atas meja, Shun yang masih memegang mangkok nasi-nya, terbelalak tidak percaya.
“Wah!!! Keren > <!!! Aku tidak menyangka masakanku bisa disukai seperti ini!” Narumi terlihat begitu senang, sampai tidak sadar kalau Shun benar-benar hanya memakan nasi saja.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, “Ah!! Mungkin itu Youji… Sebentar!!” Narumi dengan ceria pergi membuka pintu.
“Apa kamu kerja part time jadi Sumo? tadi kamu habiskan 5 burger, sekarang…”
“Eh?!? Darimana kau…” Belum sempat Sora menyelesaikan kata-katanya, Narumi datang sambil membawa sebuah paket. “Hah! Ternyata bukan Youji…hmm apa aku telpon saja… tanya kapan dia pulang…”
“Ah… tidak usah, hmm sudah mau larut juga, aku pulang saja.” Sora menawarkan diri pulang setelah melirik jam di tangannya.
“Eh? Tidak apa-apa? Kau kan baru habis makan.”
“Ah.. tidak kok, aku tidak apa-apa…aku takut kalau kemalaman aku bisa dimarahi oleh Ayah.”
“Ah… baiklah… kalau begitu hati-hati yah…eh Shun, kamu nggak antar dia sampai rumah? Tidak baik perempuan dibiarkan jalan sendiri.” Narumi menatap Shun, Shun menghela nafas sambil memelas.
“Tapi… aku mau menunggu aniki.”  Shun memalingkan muka, dia sebenarnya paling tidak bisa menolak permintaan Narumi.
“Shun~…Shun~ Shun~…” Narumi mendekati Shun dan menggoda-godanya dengan nakal. Shun akhirnya tidak tahan dan memutuskan untuk mengantar Sora.
Sepanjang perjalanan dilewati mereka dengan diam. Dari apartemen Youji sampai di tempat perhentian bis, Shun ingin sekali menanyakan perihal yang dilihatnya tadi siang, tapi dia bingung harus mengawalinya dari mana. Sora merasa super tidak nyaman dengan ke kikuk an ini, sekali dua dia mengerling Shun, tapi Shun seringkali melihat ke arah lain. Setelah lama berfikir akhirnya Shun menemukan apa yang akan di tanyakannya pertama kali, tapi tepat saat itu bis berhenti dan Sora tanpa mengucapkan selamat tinggal ke Shun menaiki bis tersebut. Shun akhirnya spontan ikut menaiki bis tersebut dan mengambil tempat duduk di sebelah Sora. Sora sempat terkejut melihat Shun di sampingnya, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.
Kembali Shun merangkai pertanyaan apa saja yang akan dia tanyakan, setelah mantap dia pun memulai pertanyaan pertama-nya.
“Bagaimana kamu bisa mengenal Kakakku?” Shun mengucapkan pertanyaan itu dengan cepat tanpa menatap Sora, lama dia menunggu jawaban yang dia harapkan. Sampai akhirnya dia kesal dan saat dia mau menumpahkan kekesalannya, didapatinya gadis itu sudah terlelap dengan nyenyaknya.
 ***
“Hah!! Kalung itu dimana?? Hah!! Kenapa kalung buat ibu juga tidak ada?? Huff!! Coba ingat Sora… kemarin kamu kemana aja… hmm hmm… ah ya!! Youji Sensei… apartemen!!”
Sora pagi itu akhirnya berangkat ke sekolah pagi sekali, dia berharap tidak terlambat ke sekolah setelah dari apartemen Youji, di lain pihak, Shun juga ternyata semalaman tidak bisa tertidur memikirkan kemungkinan Youji selingkuh, sebelum ke sekolah dia harus mendapatkan kepastian tersebut, dia tidak ingin datang ke sekolah dengan penuh tanda tanya.
“Maaf Sensei, aku… sepertinya meninggalkan kalung untuk ibuku di sini.”
“Eh? Kamu sempat ke sini kemarin?”
“Maaf aku kemarin sempat kesini, tapi aku belum sempat memberikan kalung itu, aku…”
“Yah nggak apa-apa, ayo masuk saja, kebetulan aku masih ada kerjaan nggak apa-apa kan kalau nggak bantuin kamu, maaf banget.”
“Ah! aku boleh masuk?” Sora terlihat begitu senang, Youji hanya mengangguk,” Ah.. terimakasih Sensei, hmm… Sensei nggak usah khawatir, aku bisa cari sendiri kok.”
Tepat ketika Sora memasuki apartemen Youji, Shun datang dan melihat Sora memasuki apartemen Youji pagi-pagi, dia menjadi semakin curiga. Hanya saja, Shun tidak langsung bertindak. Dia menunggu cukup lama sampai akhirnya Sora keluar dari apartemen itu.
“Huh… aku tidak menemukannya, maaf sudah datang mengganggu pagi-pagi.” Sora terlihat kusut.
“Hmm… maaf yah aku tidak bisa membantu, hmm… nanti aku akan coba mencarinya lagi, kalau aku menemukannnya nanti aku hubungi, bagaimana?”
“Hmm… maaf… soalnya selain kalung ibuku, aku juga jadinya kehilangan kalung Sensei…”
“Ah… nggak apa-apa, aku bisa membelinya lagi, yang penting aku udah tahu selera perempuan itu seperti apa…” Youji tersenyum menenangkan, Sora menjadi sedikit lebih tenang,” Sudahlah, kamu cepat ke sekolah saja, sudah siang nih.”
Sora melihat jam di tangannya,” ah! Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih Sensei.”
Sora bergegas pergi, dia nampak agak tergesa-gesa. Shun yang sedari tadi menunggu di luar, segera menyusulnya. “Hoi!!” Sora tetap berlari tidak menghiraukan panggilan Shun. Shun menjadi sedikit kesal. Dia pun mempercepat langkahnya, ketika jaraknya sudah semakin dekat dengan Sora, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di dekat mereka. Kaca mobil terbuka dan terlihat siapa yang ada di dalamnya.
“Hei! Kenapa kalian masih di sini? Bukannya sebentar lagi kalian masuk?” Narumi menyapa mereka. Sora sedikit terkejut melihat Narumi, dia pun baru menyadari kalau Shun juga berada di dekatnya.
“A..! apa kalian butuh tumpangan?”
“Tidak us…” Baru saja Shun akan menolak, Sora sudah bersiap untuk naik,” Eh?!...” akhirnya Shun pun ikut naik.
“Hahaha… hmm akhirnya kamu mau juga berangkat bareng aku Shun Chan!” Narumi tersenyum manis memandangi Shun yang nampak tidak nyaman.” Tapi… sebenarnya apa sih yang ingin kamu bicarakan dengan Youji sampai datang sepagi ini, kamu tadi dari apartemen Youji Kun kan?”
Shun tidak menjawab pertanyaan Narumi, pandangannya terpusat ke luar jendela. Narumi menghela nafas, lalu akhirnya dia memandangi Sora yang sedari tadi takjub melihat limosin yang sekarang dinaikinya itu.
“Ah!! seragam sekolah putri Meisei?? Apa kamu sekolah di sana?” Narumi baru menyadari seragam yang dikenakan Sora. Sora sedikit terkejut dibuatnya, lalu dengan tampang bingung mengangguk.
“Ah… aku benar-benar kangen dengan masa-masa itu… eh?! Jadi… kau dan Shun Chan?” Narumi melirik Shun, Shun akhirnya menatapnya,”Ada apa?” Tanyanya dengan ketus.
“Ouh… jadi kalian beda sekolah, bagaimana bisa kemarin kalian terlihat begitu mesra,” Narumi mengingat saat Shun tak sengaja memeluk Sora. Narumi melihat Shun dan Sora bergantian.
“Itu tidak seperti yang kamu bayangkan.”Shun merasa tidak nyaman.
Ano… Kak Narumi… dulu sekolah di Meisei?” Sora sekarang memperhatikan Narumi lekat-lekat.
“Eh! Yah... perkenalkan aku Narumi Hikawa… “ Narumi memperkenalkan diri dengan imut, tapi masih tetap berkarisma.
Sora terbelalak, menutup mulutnya sembari terus memperhatikan Narumi tidak percaya,” Ah!! Senpai!! Perkenalkan aku Sora Kanzaki!! Maafkan aku karena tidak mengenali Senpai!.”
“Jangan bilang kamu masuk klub kendo, wah… berarti kamu juga kenal dengan Youji Kun!”
“Yah tentu saja… Sensei adalah idolaku, mungkin hampir semua gadis di klub kendo mengidolakan-nya, soalnya Sensei selain hebat juga sangat ramah, masih muda lagi…”Sahut Sora semangat, tapi tiba-tiba dia tersadar setelah memandangi Narumi,”Oops… maaf aku terlalu bersemangat.“Sora terdiam. “Hmm.. Sebenarnya aku juga mengidolakan Senpai karena Senpai sebagai perempuan begitu hebat, mengalahkan hampir semua lawan tanpa ampun baik laki-laki mau pun perempuan, apalagi Senpai sangat cantik, aku sering mendengar banyak yang iri dengan Senpai karena Senpai begitu sempurna… Sen…
“Berisik…” Shun menghela nafas, dilonggarkannya dasi yang membelit lehernya.
Narumi memandang Shun heran. “Kamu kenapa sih dari tadi Shun? Kenapa juga kamu melonggarkan dasimu, kamu jadi terlihat tidak rapi, Shun… kamu denger aku nggak… Shun!!” Shun tidak memperdulikan Narumi, Narumi terlihat kesal. “ Shun~… apa perlu aku perbaiki dasimu?”Shun tidak bergeming. “Sora Chan!”
“Eh! Ya Senpai!”
“Perbaiki dasi Shun… kamu bisa kan?” Narumi yang tadinya terlihat mengerikan spontan langsung bersuara lembut ketika meminta Sora merapikan dasi Shun, Sora jadi tidak bisa menolak.
“Eh..eh… yah..ba baiklah Senpai” Tanpa berfikir panjang Sora segera duduk menghadap ke arah Shun yang duduk tepat di sampingnya. Dengan tangan gemetar Sora meraih dasi Shun, Shun yang sedari tadi terdiam pun menjadi bereaksi.” Hoi!! Apa-apaan ini!” Dia mencoba untuk menghindari tangan Sora meraih dasinya,” Narumi!” Shun terdengar geram, Narumi hanya tersenyum, dia terlihat begitu menikmati tingkah Shun.
“Maaf…” Sora seperti sedang menerima tugas, mukanya serius sekali. Shun yang merasa terdesak memegang tangan Sora tepat setelah Sora berhasil meraih dasinya,”A-aku bisa sendiri!” Dia melihat Narumi yang sekarang tersenyum menang. Sora yang tidak mengerti dengan keadaan ini, hanya mengikuti perintah yang diberikan, dia pun segera duduk sempurna. Shun merapikan dasinya dengan kesal. Dia tidak suka kalau Narumi menertawakannya.
Setelah itu, Narumi terus cekikikan. Shun masih terlihat kesal sedangkan Sora cuma terdiam.
“Ah! sudah sampai! Aku turun dulu, terima kasih Kak Narumi.” Sora segera turun dari mobil dan memberikan salam hormat ke Narumi.
“Sampai jumpa Sora Chan!!” Narumi tersenyum manis, tapi… waktu melihat Shun yang cuek Narumi pun menendang kaki Shun yang duduk di depannya, memberikan aba-aba supaya Shun mengucapkan sesuatu. Shun hanya menghela nafas,”have a nice day,” Shun mengucapkannya tanpa memandang Sora. Narumi nampak kesal dibuatnya. Sora hanya tersenyum kecil. Limosin itu pun melaju meninggalkannya.
“Kamu itu benar-benar tidak bisa bersikap manis ke perempuan, pantas saja kamu susah mendapatkan pasangan.”
Shun menguap walaupun tidak mengantuk, kata-kata Narumi bahkan tidak digubrisnya.
“Apa Narumi sangat menyukai aniki?” Tanya Shun sebaliknya tanpa menatap Narumi, matanya masih tetap menatap luar jendela.
“Ya.. tentu saja.. kenapa?? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?” Narumi nampak antusias menjawab pertanyaan dari Shun,  tapi Shun tidak menjawab pertanyaannya, Narumi jadi sungkan untuk bertanya lebih lanjut.
Narumi menjadi bingung harus bagaimana, tiba-tiba dia mengingat sesuatu,“Ah!! hampir lupa, aku menemukan ini kemarin tertinggal di apartemen Youji Kun, aku rasa ini punyamu…” Narumi menyerahkan sebuah bungkusan ke Shun. Shun memperhatikan bungkusan itu.
“Kalungnya bagus, kamu pintar juga memilihnya. Hanya saja, kenapa kamu harus membeli dua, apa itu tidak terlalu boros… kalau kamu ragu mau pilih mana, kenapa tidak tanya aku saja?”
Shun segera merampas bungkusan itu dikeluarkannya isinya dan diperhatikan kedua kalung itu. Melihat reaksi Shun, Narumi menjadi bingung. Tingkah Shun seringkali tidak dipahaminya.
“Aku rasa, yang kiri lebih cantik…” Narumi tersenyum memandangi kalung yang dipegang oleh Shun, Shun memperhatikan Narumi, kembali perasaan kesal itu muncul. Tidak, kalau seperti ini, dia tidak bisa sekolah, pikirnya. “ Aku turun di sini…”
“Memangnya kenapa?” Shun tidak menjawab pertanyaan Narumi, dia turun begitu saja.
Shun benar-benar kesal, sedari kecil dia bercita-cita menjadikan Narumi istrinya, tapi Narumi juga sedari kecil sudah menyukai Youji. Berkali-kali Shun mencari pengganti Narumi, tapi dia tidak menemukan seorang pun yang dapat menandingi Narumi untuknya. Kalaupun sebelumnya dia pernah mengejar-ngejar Haruna itu karena Narumi pernah mengatakan kalau Haruna itu manis, kalau tidak, dia tidak ada niat mendekati gadis itu. Tapi, saat gadis itu lebih memilih mantan-nya, tetap saja Shun kesal dibuatnya.
Hari itu Sora tidak bisa berkonsentrasi mengikuti kelas, entah kenapa jantungnya masih berdebar semenjak tangannya di pegang oleh Shun, tidak…lebih tepatnya di genggam, kembali mukanya memerah.
“So..ra..? kamu baik-baik saja?” Mei ternyata memperhatikan tingkah laku anehnya sedari tadi.
“Eh?” Sora akhirnya tersadar,” Ah… aku baik-baik saja.” Sora tersenyum kecil. Dia masih bingung dengan Shun, apa yang sebenarnya ada di pikiran laki-laki itu. Tapi… tingkah canggung-nya tadi benar-benar imut, Sora sampai beberapa kali senyum-senyum sendiri.
Sepanjang hari, Sora tidak bisa melepaskan memori tadi pagi dari ingatannya. Dia masih tersipu-sipu malu setiap mengingat momen itu. Mei hanya menggeleng-gelengkan kepala memperhatikannya.
“Eh?? Ada apa di gerbang sekolah, ramai banget!” Mei berlari menuju ke gerbang sekolah mengecek apa yang terjadi, meninggalkan Sora yang masih asik dalam lamunannya.
Sora terus berjalan tanpa menyadari keramaian yang semakin lama semakin didekatinya, dia terus berjalan lurus ke depan, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.  Dia bahkan tidak sadar kalau ada yang memanggilnya sedari tadi.
 “Hoi!” orang yang memanggilnya sedari tadi sekarang berdiri tepat di hadapannya, membuat langkahnya terhenti. Orang yang berdiri dihadapannya ini nampaknya sangat tinggi, Sora bahkan hanya setinggi pundaknya. Saat dia mendongak ke atas mencoba memperhatikan wajah orang tersebut, spontan dia mundur sambil terbelalak.
Shun tidak menampakkan reaksi apa pun melihat tingkah aneh Sora, dia bahkan tidak peduli dengan suara ribut para gadis di sekelilingnya. Keberadaannya sebagai siswa laki-laki di sekolah perempuan tentu saja membuat histeris, apalagi Shun memiliki tampang yang bisa membuat mereka semua terpikat.
“Ini… “ Tanpa basa-basi Shun menyerahkan sebuah kotak ke Sora.
 Sora segera tersadar melihat kotak itu, melihat adegan itu, semua anak gadis berteriak histeris penasaran apa itu. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Sora mencoba mengecek isi kotak tersebut, dan benar… kotak itu isinya kalung yang dibeli oleh Youji. Semua yang melihat kalung itu, semakin histeris.
Sora memandang Shun mau berterima kasih, tapi sebelum dia sempat mengucapkan ucapan “terima kasih” itu, Shun menambahkan,”Apa kamu mau aku memakaikannya?” Sora sontak menelan ludah, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Di satu sisi dia ingin menolak karena itu bukan kalungnya, tapi… ini adalah tawaran yang menggiurkan. Sora tidak sanggup menjawab, dia terus memandang Shun tidak percaya.
“Ada apa ini?” pikirnya dalam hati. Shun lalu mendekatinya, dan dengan mantap memasangkan kalung itu di leher Sora, semua gadis berteriak histeris, iri.  Sora sampai menutup matanya karena malu.
Shun terkekeh, Sora akhirnya membuka matanya.
“Kamu pikir dengan memakai kalung cantik kamu akan terlihat cantik?” Shun mencibir dengan tampang menyebalkan.
Sora tersentak, Semua gadis tiba-tiba terdiam. Shun mendekati Sora, Sora terdiam tidak bergeming,”Aku tidak akan tinggal diam, kamu tidak akan bisa mengelabuiku, hah…seharusnya kamu sadar dengan tampangmu…” Bisik Shun, dipandanginya Sora dari ujung kaki sampai rambut, lalu dia tersenyum sinis, senyum yang membuat Sora merasa benar-benar terhina.
 Lalu setelahnya, Shun pergi meninggalkan Sora yang masih terdiam membisu dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Para gadis memandangi Shun dengan terbelalak, tidak ada yang memahami apa yang terjadi.
***

Bersambung…