Tampilkan postingan dengan label cerbung.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung.... Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 3

"Maki!!! Maki!!! Maki!!!" Erika menuruni tangga dengan tergesa-gesa, nafasnya sampai tersenggal-senggal membuatnya sulit untuk memulai kata-katanya.
"Dou shita no?* daijoubu? take ur time, speak slowly..." Maki yang baru saja dari ruang kesehatan lantaran mag-nya kambuh hanya bisa mengerutkan kening.
"ano..."
Mendengar penjelasan Erika, Maki segera berlari ke kelas disusul Erika yang nafasnya masih tidak beraturan.
Sepi... sudah tidak ada razia... terlihat para siswa duduk di sembarang tempat, ada yang bisik-bisik sesama teman, ada yang duduk merenung sendiri, suasanya sungguh... tegang.Maki menyisir sekeliling kelasnya, dia tidak menemukan keberadaan Shota.
"Ah!! Toda chan! Matsuda dibawa ke ruang guru untuk diinterogasi lebih lanjut." Risa mendekati Erika ketika melihatnya di ambang pintu. Langsung saja Maki dan Erika menuju ke ruang guru, dari balik jendela dapat dillihatnya betapa tegang muka Matsuda.
"Apa menurutmu Matsuda akan dipenjara?" Maki menghela nafas.
"entahlah... aku berharap ada keringanan karena bagaimanapun Shota masih di bawah umur." Erika terlihat begitu khawatir, mukanya terlihat sangat tegang, keningnya selalu berkerut, berkali-kali dia menggigit ujung bibirnya, dan kakinya tak henti-hentinya dia hentakkan dengan cepat.
Maki dan Erika secara bersamaan merebahkan diri di dinding, berbagai macam pikiran buruk terlintas di benak mereka masing-masing, sungguh tak disangka masalahnya begini rumit.
Akhirnya pintu ruang guru bergeser, keluar dari balik pintu Shota dengan wajah muram, kepala tertunduk, dan terlihat sekali badannya lemas.
"Shota kun?" Erika memanggilnya dengan sungkan.
Shota menoleh, lemah sekali... matanya sayu, terlihat ada beban berat yang sedang dipikulnya tapi dia tetap memberikan senyum hangatnya ke Erika.
"Gomen ne..." sahut Shota sambil menatap Erika hangat.
Erika tanpa sadar mulai mengeluarkan air mata,"Walaupun a-aku tidak tahu dan tidak mengerti demo.. atashi wa shota kun o shinjite iru* ..." Mendengar pernyataan polos Erika, Shota cuma tersenyum.
"Arigatou...Eri chan ..." Shota mengelus-elus rambut halus Erika, membuat Erika tambah terisak,"Jangan menangis, perbuatanku tidak pantas ditangisi," Shota mengusap air mata Erika.
"Hirokita... maaf... aku titip Erika... sepertinya sebentar lagi jemputanku datang."
Benar, tak berselang lama Shota ditangkap oleh beberapa polisi. Semua mata tertuju padanya, di sepanjang koridor kelas menyembul beberapa kepala di jendela, semua berbisik-bisik sampai terdengar seperti dengungan lebah,Shota hanya menundukkan kepala, hari itu... anak berprestasi kebanggaan sekolah dalam sekejap telah menjadi seorang kriminal, tangan yang terlilit borgol membuatnya nampak buruk.Erika tak henti-hentinya menangis, dia tidak tega memandangi Shota yang digiring polisi seperti itu, dia sembunyikan kepalanya dibalik pundak Maki sambil terus terisak-isak, membuat seragam Maki basah.
"Ada apa dengan dia yah?" pikir Maki.

to be continued...

* Apa yg terjadi?
* Aku mempercayai Shota

Kamis, 06 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 2

“Bagaimana? Apa ada sesuatu mencurigakan yang kamu temukan?” Erika memandangi Maki penuh tanya, semenjak membuntuti Shota dari toko buku kemarin,Maki menjadi lebih sering melamun.
“ah eh… ano.. hmm … oh ya aku lupa… aku belum mengerjakan PR matematika, sepertinya aku harus pulang cepat hari ini, gomen Eri-Chan.”
“Ano… Maki!! Maki chan!!” Erika mengerutkan kening, memandangi Maki yang terkesan terburu-buru dengan perasaan penuh tanya.

Maki mempercepat langkahnya, sedikit khawatir Erika berpikir yang tidak-tidak, tapi dia sendiri juga bingung, seharian ini dia memperhatikan shota namun tidak ada hal mencurigakan yang dapat dia tangkap. Sesekali mata mereka bertemu dan Shota tersenyum padanya, biasa… hal ini sangat biasa… iya kan?

“Hirokita ! Chotto matte!* ”Terdengar suara seeseorang memanggilnya, membuat Maki harus menghentikan langkahnya, ketika ia berbalik terlihat Shota berlari kecil menghampirinya.
“Apa kamu ada waktu? Ada yang ingin aku omongin…” Shota menyunggingkan senyum manisnya, tapi entah kenapa perasaan Maki malah tidak nyaman.
“Hmm mochiron*, kamu mau ngomong apa?” Maki mencoba untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
“Hmm… eto…Apa Eri tau?” Shota menatap Maki lekat-lekat, Maki sampai merasa tercekik.
“Tau? Tau apa? sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak mengerti.” Maki mencoba untuk tetap tenang, seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa.
“Aku hanya takut Eri akan berfikir yang tidak-tidak tentangku, bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun.” Shota melepaskan pandangannya ke Maki, dia meluruskan badannya, lalu dengan gaya santai menatap ke sekelilingnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shota sepertinya tetap percaya kalau Maki mengetahui sesuatu.
“Hmm… hmm… apa kamu selalu melakukan hal itu?” Maki membisiki Shota, rasa penasarannya ternyata membuatnya tidak bisa bertahan untuk tetap berakting tidak tahu.
“Eh… iie..iie… ah… mana mungkin aku… kamu tahu sendiri kalau aku…” Shota tiba-tiba salah tingkah, dia mencoba membela diri tapi akhirnya terdiam ketika melihat Maki yang begitu serius memperhatikannya.
“Haaah… itu…aku… aku tidak selalu melakukannya… aku… Cuma iseng…yah Cuma itu.” Shota akhirnya bisa berbicara lebih tenang, terlihat dia mulai berkeringat. Entah kenapa Maki malah menjadi semakin semangat menginterogasinya.
“Apa menurutmu itu bisa dianggap biasa? Iseng? Hah… tapi… aku merasa apa yang kamu lakukan kemarin bukanlah sesuatu yang kamu lakukan satu atau dua kali, menurutku itu sudah menjadi kebiasaanmu.”
“kebiasaan? Hah… apakah itu masuk akal untuk orang sepertiku?”
“Itulah keanehannya… aku tidak habis pikir, anak sepertimu? Kebanggaan sekolah dan orangtuamu? Melakukan hal itu? Huff…”
Shota tanpa basa-basi memegang pundak Maki dengan posisi membungkuk, kepalanya menunduk sambil melihat ke bawah, terdengar suara hembusan nafasnya yang berat,  tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan dengan seius menatap Maki, Maki sedikit tersentak… dia menelan ludah, bisa dilihatnya pantulan dirinya di bola mata Shota yang hitam,” Kamu bisa merahasiakan ini kan?”
Maki terdiam sejenak, ini mengerikan… Shota memang tidak mengancamnya, tapi Maki merasa Shota bukannya “tidak” mengancamnya…hanya saja “belum” mengancamnya.
Maki menurunkan tangan Shota dari pundakknya,”Hmm… aku bukan orang yang suka ngomong sembarangan,  tapi… aku berharap kamu bisa menghilangkan kebiasaan itu, hanya menunggu waktu saja sampai orang tahu, kalau kamu tidak berusaha untuk menghentikan kebiasaan itu, cepat atau lambat…”
Maki belum selesai meneruskan kata-katanya karena ponsel Shota berdering. Shota merogoh ponsel dari saku jaketnya, ketika dia membaca pesan dari ponselnya mimik wajahnya berubah.
“Gomen … aku… harus pergi, arigatou Hirokita…” Terlihat wajah Shota begitu tegang, setelah menepuk pundak Maki sebagai tanda terima kasih dia pun segera berlari seakan ada sesuatu yang sedang menunggunya.

To be continued

Ket:


*Tunggu  
*Tentu saja

Rabu, 05 November 2014

Ada Apa Dengan Dia?

"Huff... sepertinya ini hanya perasaanku saja.."
"Hai! Nande?" Maki sepertinya tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Erika, ia sibuk merogoh kantong roknya mencari beberapa keping uang untuk membayar makanan yang sekarang menemani makan siang mereka.
"Maki chan! huff..." Erika dengan lemas menopang dagu.
"Hai! hai! gomen! Matsuda nande?" kali ini Maki dengan serius memperhatikan Erika.
"Shota kun akhir-akhir ini aneh..." Kening Erika berkerut, dia seperti memikirkan sesuatu, pandangannya jauh ke sudut jalan, walaupun saat itu Maki duduk tepat didepannya memperhatikan setiap mimiknya.
"Dia... selalu memandangi ponselnya, setiap waktu, setiap saat. rangkingnya pun akhir-akhir ini menurun." Sambung Erika akhirnya.
"Hmm... souka... bagaimana kalau kita buntuti dia.." Maki menyunggingkan senyum meyakinkan, seolah-olah idenya begitu cemerlang.
"Ah...iie iie... nande sore... muri muri*..."
"ah... okashii* ne...maumu sebenarnya apa sih... penasaran tapi seperti nggak mau cari tahu."
"Demo... apa aku harus membuntutinya, aku merasa seperti stalker aja.."
"Erika chan! kamu bahkan belum melakukannya kamu udah merasa stalker...hmmm.. ini bukan hal yang mudah sepertinya..."
"are... Shota kun??"
"Doko..doko...??" Maki melihat ke jalan raya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Shota.
"Dia masuk ke toko buku..." Erika kembali menyeruput minumannya.
"Apakah ini hal yang aneh? atau wajar?"
"menurutmu?"
"Orang masuk toko buku, nggak ada yang salah dengan hal itu, tapi... kenapa kita tidak mengeceknya saja..." mata Maki terlihat berbinar-binar, kegemarannya membaca dan menonton serial detektif membuat rasa ingin tahunya begitu besar.
"Silahkan di cek, aku diam di sini aja... Shota pasti akan sangat kecewa padaku kalau tahu aku membututinya.."
"Hitori?? ah... wakatta kamu tunggu di sini..."
Akhirnya Maki segera menyusul Shota ke toko buku di seberang jalan.
Dengan seksama Maki memperhatikan setiap gerak-gerik shota, tidak ada yang mencurigakan, Shota berjalan mengelilingi rak buku, membuka beberapa buku, membacanya sejenak lalu menutupnya dan mengembalikannya ke tempat semula, begitu seterusnya, sampai...
Maki menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang "honour student" bagaimana bisa melakukan hal ini? Oh no... Maki menjatuhkan beberapa buku di dekatnya, dia begitu terkejut, segera dia bersembunyi, berharap Shota tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama bersembunyi akhirnya dia mencoba mengecek lagi apa Shota masih berada di tempat tadi.
"Nani shiteru no*?" Seseorang memergoki Maki. Takut itu Shota, Maki menunduk mencoba mencari beribu alasan.
"Gakusei? apa kau yang telah membuat buku-buku ini berantakan?" Ternyata sang penjaga toko, dia memarahi Maki yang telah menjatuhkan beberapa buku dan tidak menatanya kembali.
"Ah... hai! hai! sumimasen deshita! sumimasen !" Tanpa pikir panjang, Maki segera memungut buku-buku tersebut, terdengar lonceng pintu toko buku itu berbunyi, sekilas terlihat sosok Shota keluar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya ada apa dengan Shota, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu? berbagai macam pikiran memenuhi otak Maki sembari tangannya tetap sibuk memunguti buku-buku yang membuat aksi "membuntutinya" gagal total.Apa aku perlu memberitahu Erika apa yang baru saja aku lihat? ah tidak.. lebih baik tidak.. aku mau cari informasi lebih banyak lagi, jangan sampai aku menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.Maki terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya buku terakhir selesai dia rapikan.

to be continued...

Ket:
* impossible
* weird
* what r u doing?


Rabu, 02 April 2014

Kalung...

Hai... rasanya sudah lama aku nggak menulis cerita, kali ini aku mau mengangkat cerita tentang bagaimana sesuatu hal yang sebenarnya biasa saja menjadi "sesuatu"  ketika seseorang cenderung mengambil kesimpulan hanya dari diri-nya sendiri, tanpa mengklarifikasikan masalah itu terlebih dahulu. Cerita ini mungkin aja fiktif tapi terkadang juga terjadi (di dorama hoho...)... cerita yang terinspirasi dari kata "목걸이 (kalung)" sesaat setelah menonton BOC (Bride of Century) yang sedang tayang saat ini (kok malah jadi promosi drama yah)... yah cerita yang bakalan aku tulis ini pastinya sangat jauh berbeda dengan cerita BOC, hehe...




Lima hari lagi, ulang tahun ibunya tinggal lima hari lagi. Sora nampak bingung memikirkan kado apa yang akan diberikannya. Dia berjalan dengan lunglai setelah hampir sejam berkeliling melihat berbagai toko-toko di pinggir jalan.
“Hei!! Sora Chan!!” Seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Sora membalikkan badan dan dilihatnya sosok lelaki muda yang sangat tampan, dia tak lain adalah gurunya dulu di klub Kendo.
“Ah!! Youji Sensei! Konnichiwa!” Sora memberi hormat, matanya berbinar bahagia. Dia tidak menyangka akan bertemu guru kendo favoritnya.
“Wah… seperti biasa kamu tampak selalu semangat yah!! Hmm apa kamu sedang sibuk?”
“Eh?... ah… nggak kok, aku hanya sedang bingung mencari kado untuk ibuku.”
“Ibumu? Oh… bagaimana kalau kalung… aku tahu tempat yang bagus. Kebetulan aku ingin ada seseorang yang bisa menemaniku.”
“Ah! Benarkah! Ok! Aku siap menemani Sensei! Hehe.” Sora tersenyum lebar, akhirnya dia tahu kado apa yang akan diberikannya pada ibunya.
Di tempat lain, Hiroki Yamada sedang uring-uringan mengikuti acara double date yang diatur oleh temannya. “Maaf Hikun! Aku juga nggak menyangka jadinya akan seperti ini.” Shun Takagi menghela nafas panjang.”Huff… aku kira dia sudah melupakan mantan-nya.”
Hiroki melihat Shun yang terlihat lebih frustasi darinya, double date yang sebenarnya dia ikuti hanya untuk temannya ini hancur berantakan karena gadis yang ditaksir Shun ternyata kembali ke mantannya. Padahal, untuk mendapatkan cinta gadis ini, Shun harus mengorbankan banyak hal, termasuk memberikan Hiroki ponsel yang baru saja dia beli supaya temannya ini mau untuk diajak double date. Hiroki menjadi merasa tidak enak menerima ponsel itu. Pada dasarnya dia juga tidak berniat untuk ikut double date, lagipula dia juga tidak memiliki pasangan. Hanya saja, si Haruna, gadis yang di taksir Shun hanya mau nge-date kalau temannya si Shizuka juga diajak. Tapi… siapa yang menyangka, di tengah acara nge-date yang belum sampai puncak mendebarkan, si Kudo muncul dan dengan sangat mudahnya mengambil Haruna dari Shun, dan Haruna bahkan tidak memberi penolakan sedikit pun. Kejadian beberapa menit itu, sungguh membuat mereka berdua shock!
“Ano… Yamada kun?...” Shizuka entah sejak kapan berdiri tepat di hadapan Hiroki.
“Untuk hari ini… terima kasih banyak, aku… sangat menikmatinya… mungkin… lain waktu…kalau kamu mau…kita bisa pergi lagi… hanya berdua?” Shizuka memberikan sinyal ketertarikan kepada Hiroki, di satu sisi Hiroki senang karena Shizuka termasuk gadis yang manis, tapi… di sisi lain dia merasa tidak nyaman melihat Shun yang baru saja patah hati.
“Ah… yah aku juga.. terima kasih.. hmm.. lain kali yah…” Hiroki mencoba memasang senyum yang manis, tapi sepertinya masih tampak dipaksakan.
“Mengenai Haruna, maaf yah Takagi kun… Haruna benar-benar telah melewati banyak hal untuk melupakan Kudo kun, tapi… sepertinya dia…”
“Ah… aku mau jalan-jalan… mau menemaniku Hikun?!” Shun tiba-tiba berdiri, memotong kata-kata Shizuka dan tanpa memperdulikan Shizuka dia berjalan menjauh. Shizuka terlihat terkejut dengan reaksi Shun, tapi dia hanya bisa terdiam terpaku. Hiroki jadi merasa serba tidak enak, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka akhirnya berjalan tak tentu arah, meninggalkan Shizuka yang penuh kebingungan dan Haruna beserta Kudo yang sedang menikmati masa bersama lagi. Hiroki terus mengikuti Shun tanpa bertanya apa-apa. Tiba-tiba langkah Shun terhenti tepat di sebelah toko perhiasan. Hiroki pun ikut berhenti, dipandanginya Shun yang terlihat begitu tegang.
“Apalagi ini?” suara Shun meninggi dan terdengar kesal. Hiroki pun melihat apa yang menjadi sumber amarah tersebut.
“Eh? Youji San! Bersama… seorang gadis? Bukannya…” Hiroki tidak menyambung kata-katanya, karena nampaknya Shun sudah kesal sekali.
“Ayo pergi!!” Suasana hati Shun tambah tak menentu.
Di dalam toko perhiasan yang baru saja dilalui oleh Shun, tampak Sora tanpa rasa canggung begitu menikmati setiap kali Youji memasangkan kalung ke lehernya.
“Bagaimana? Apa terlihat cantik?” Youji memandangi  kalung itu melalui cermin.
Sora tersenyum memandangi betapa indahnya kalung itu,” Gadis yang akan Youji Sensei berikan pasti akan sangat menyukainya.”Tuturnya senang.
“Benarkah? Baiklah… aku akan ambil ini.” Youji tanpa pikir panjang mengambil kalung itu dan segera membayarnya. “Tolong kalung ini… dan Itu dibungkus.” sahutnya sambil menunjuk sebuah kalung lagi.
“Eh?! Ini kan…” Sora begitu terkejut, karena Youji tanpa basa-basi membayar kalung yang rencananya akan dia berikan kepada ibunya juga.
“Sebagai tanda terima kasih karena kamu telah meluangkan waktumu menemaniku…” Youji tersenyum manis, Sora benar-benar dibuat meleleh.
Belum saja kedua barang itu sampai ditangannya, Youji mendapat telpon mendadak dari kantornya, dia segera keluar dari toko tersebut, terpaksa Sora yang menerima bungkusan kedua kalung cantik itu.
“Ah… maaf Sora Chan, aku harus segera pergi, ada suatu keadaan mendadak di kantor yang harus aku tangani…” Tanpa berkata apa-apa lebih lanjut, Youji segera berlari. Sora bahkan belum sempat menanyakan mengenai kalung yang baru saja dibeli Sensei-nya itu. Akhirnya daripada bengong, Sora pun memutuskan untuk pergi makan terlebih dahulu sebelum pulang, karena dari tadi pagi dia belum menyentuh makanan sedikit pun.
Shun menyeruput minumannya dengan malas, Hiroki sudah sedari tadi meninggalkannya sendirian, tapi dia masih saja termenung memandangi hamburgernya yang baru digigit sekali. Beberapa kali dia mencoba menghilangkan mood jeleknya dengan menghela nafas panjang, cara itu hampir berhasil tapi langsung gagal ketika matanya mendapati sosok gadis yang tadinya bersama Youji duduk tepat di meja seberang tempat duduknya. Gadis yang sudah sangat kelaparan itu, memakan makanannya dengan lahap tanpa menyadari ada mata yang sedang mengawasi setiap gerakannya. Shun terus memandangi gadis itu, masih tidak masuk akal baginya gadis itu bisa menyaingi Narumi yang merupakan idola-nya sedari kecil.
Tiba-tiba, ponsel gadis itu berdering, spontan Shun menguping pembicaraan gadis itu.
“Ya.. ini dengan Sora… ah! Youji Sensei!! Ah ya..ya… apartemen Sensei? Oh …yah..yah… tidak apa-apa,  yah..yah… yah sama-sama.”
Telpon singkat itu benar-benar membuat geram Shun, apartemen? apartemen aniki? Apa-apaan ini? segala macam pikiran berkecamuk di kepala Shun. Gadis itu dengan segera menghabiskan burger ke-lima yang dibelinya, lalu dengan kilat meminum cola dingin-nya sampai habis.  Shun saat itu juga langsung tahu apa yang harus dilakukannya segera.
Shun bergegas ke apartemen Youji, dia tidak tahu apakah gadis tadi akan ke sini apa tidak, dia hanya menebak-nebak saja siapa tahu perkiraannya benar. Sambil bersembunyi, dia memperhatikan setiap kejanggalan yang mungkin dia temukan di apartemen itu. Suara langkah kaki mendekat, Shun segera bersembunyi, mengandalkan ponselnya, dia mengintai siapa yang baru saja datang. Ternyata yang datang adalah Narumi, tunangan Youji yang kerap kali datang menyambangi apartemen Youji sekedar untuk membersihkannya atau menyiapkan makanan. Setelah Narumi tidak ada lagi yang datang, Shun sudah hampir tertidur sampai dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Rasa kantuknya seketika itu langsung hilang. Dari ponselnya, dia dapat melihat bahwa yang datang kali ini adalah gadis itu. Gadis itu berkali-kali memencet bel, Shun masih memperhatikan sambil berfikir apa yang harus dia lakukan. Tak lama berselang, terdengar suara klek dari arah dalam apartemen Youji, pintu apartemen yang kalau dibuka mengarah keluar ini spontan ditutup Shun, setelah berlari kilat dari lokasi persembunyiannya.
Gadis itu tersentak, nafas Shun masih tersengal-sengal. Dengan posisi masih menutup pintu dengan tangannya, Shun berdiri tepat di hadapan gadis itu.  Mata mereka bertemu, kali ini jarak mereka sungguh dekat, Shun dapat melihat wajah gadis itu dengan sangat jelas. Terlihat matanya memandang tajam gadis itu, gadis itu pun nampak tidak berkutik memandangi Shun, dia terlihat kesal dengan laki-laki yang datangnya entah darimana ini.
“Kamu siapa?” secara bersamaan Shun dan gadis itu bertanya hal yang serupa. Mereka tersentak, sama-sama mendengus kesal,“Kamu siapa?” kembali mereka mengeluarkan pertanyaan yang sama, sekarang mereka sama-sama tersenyum kesal.
 “Kau…” Shun melepaskan tangannya dari pintu dan saat itu juga pintu terbuka, karena tadinya gadis itu berdiri tepat di depan pintu, terbukanya pintu membuatnya secara tidak sengaja terdorong  oleh pintu sehingga dia menabrak Shun yang berdiri tepat di hadapannya, Shun secara spontan, menjaga kesetimbangannya dengan menahan gadis tersebut tapi… ternyata yang telihat malah seperti dia sedang memeluk gadis itu.
“Eh? Shun Chan??” Narumi memandangi kedua anak ingusan itu, melihat Shun memeluk gadis itu, dia cekikikan. Shun yang terkejut segera menarik lengannya dari tubuh gadis tersebut dan menundukkan badan memberi salam, gadis yang bersamanya itu pun spontan mengikuti. Narumi tersenyum melihat tingkah kikuk Shun, matanya pun akhirnya terpaku pada gadis yang saat ini berdiri tepat di samping Shun.
“Siapa Shun? Pacarmu??”
“Bukan…aku hanya…” Gadis itu belum menyelesaikan kata-katanya, Shun sudah tidak sabar untuk bertanya.
 “Hmm… apa aniki ada?”
“Ah! Youji Kun?? Hmm… sepertinya dia akan pulang telat… hmm…bagaimana kalau kalian makan dulu, aku kebetulan udah masak.” Narumi melirik gadis itu dan Shun melihat reaksi mereka.
“Apa aniki sebentar lagi akan pulang?”
“Hmm… entahlah… kenapa kalian nggak tunggu saja di dalam, sambil makan…ayo…”
Narumi segera masuk sembari mempersiapkan makanan di meja makan, sedangkan Shun dan gadis itu masih berdiri di bibir pintu.
“Aku pulang saja,” Baru saja gadis itu akan pergi, Shun memegang lengannya.
“Kenapa buru-buru? Kamu juga mau ketemu dengan Kakakku kan? Ayo masuk saja…” ajak Shun dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Shun berharap dia bisa menahan gadis itu sampai Kakaknya pulang.
Sora memandangi apartemen Youji dengan kening berkerut. Berat sekali rasanya kakinya untuk melangkah masuk. Sebenarnya dia datang hanya untuk mengantarkan kalung yang dibeli oleh Sensei-nya. Gadis cantik yang membukakannya pintu tadi pastilah tunangan Senseinya. Kalau saja laki-laki bernama Shun itu tidak ada, tugasnya pasti sudah selesai. Sora pada awalnya berencana sebagai pengantar kalung itu tanpa berbasa-basi kalau kalung itu terbawa olehnya, dia hanya tidak ingin nantinya timbul kesalahpahaman. Tapi… karena adegan pelukan tak sengaja yang tak penting tadi itu, serta tak adanya kesempatan untuknya untuk berbicara, membuatnya menjadi berfikir untuk lebih baik menyerahkan kalung itu langsung ke Youji besok saja.
“Hoi!!” Shun memanggilnya dengan kasar, Sora langsung melirik Shun geram.
“Hei!! Kenapa masih di situ?? Ayo cepat … makanannya udah siap nih…” Narumi memanggil mereka dari dalam, terlihat wajahnya nampak ceria.
Sora menjadi tidak enak untuk tidak menerima tawaran Narumi, senyum manis Narumi benar-benar bisa menghipnotis orang. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk, Shun mengikutinya dari belakang.
“Makan ini, ini, ini, ini, ini, ini…” Narumi mengambilkan hampir semua jenis lauk yang tersedia di atas meja ke mangkok nasi Sora. Raut wajah Shun menampakkan ketidaksukaannya atas hal itu.
“Kenapa? Ayo dimakan?” Sora tersentak mendengar suara Narumi, tadi tanpa sadar dia melirik Shun yang duduk tepat di sampingnya cukup lama,”Eh?.. ya terimakasih… itadakimasu!!”
Sora mulai memakan lauk tersebut satu persatu, semakin lama kunyahannya semakin cepat, tanpa sadar dia sudah meminta tambahan nasi lagi.
“Ahhh!!! Enak sekali…” mata Sora berbinar, dia tidak pernah merasakan makanan seenak ini sebelumnya. Dipandanginya Narumi penuh takjub,” Apa ini semua anda yang memasaknya?”
Narumi sedikit terkejut dengan reaksi Sora yang tak terduga,”Hahaha…. Kamu formal sekali, jangan “anda” panggil saja aku “kakak” … yah itu aku sendiri yang masak, bagaimana, kamu suka?” Narumi tersenyum malu-malu menyadari masakannya sangat di sukai. Sora mengangguk-angguk senang, dengan mantap dia mengambil semua lauk di atas meja, menghabiskannya satu-persatu tanpa canggung. Shun yang melihat itu, sampai tidak berkutik, dia bahkan tidak sadar kalau dia sama sekali belum memakan apa pun.
“Ah…!!! Enak banget > <!!!” Sora melahap habis makanan di atas meja, Shun yang masih memegang mangkok nasi-nya, terbelalak tidak percaya.
“Wah!!! Keren > <!!! Aku tidak menyangka masakanku bisa disukai seperti ini!” Narumi terlihat begitu senang, sampai tidak sadar kalau Shun benar-benar hanya memakan nasi saja.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, “Ah!! Mungkin itu Youji… Sebentar!!” Narumi dengan ceria pergi membuka pintu.
“Apa kamu kerja part time jadi Sumo? tadi kamu habiskan 5 burger, sekarang…”
“Eh?!? Darimana kau…” Belum sempat Sora menyelesaikan kata-katanya, Narumi datang sambil membawa sebuah paket. “Hah! Ternyata bukan Youji…hmm apa aku telpon saja… tanya kapan dia pulang…”
“Ah… tidak usah, hmm sudah mau larut juga, aku pulang saja.” Sora menawarkan diri pulang setelah melirik jam di tangannya.
“Eh? Tidak apa-apa? Kau kan baru habis makan.”
“Ah.. tidak kok, aku tidak apa-apa…aku takut kalau kemalaman aku bisa dimarahi oleh Ayah.”
“Ah… baiklah… kalau begitu hati-hati yah…eh Shun, kamu nggak antar dia sampai rumah? Tidak baik perempuan dibiarkan jalan sendiri.” Narumi menatap Shun, Shun menghela nafas sambil memelas.
“Tapi… aku mau menunggu aniki.”  Shun memalingkan muka, dia sebenarnya paling tidak bisa menolak permintaan Narumi.
“Shun~…Shun~ Shun~…” Narumi mendekati Shun dan menggoda-godanya dengan nakal. Shun akhirnya tidak tahan dan memutuskan untuk mengantar Sora.
Sepanjang perjalanan dilewati mereka dengan diam. Dari apartemen Youji sampai di tempat perhentian bis, Shun ingin sekali menanyakan perihal yang dilihatnya tadi siang, tapi dia bingung harus mengawalinya dari mana. Sora merasa super tidak nyaman dengan ke kikuk an ini, sekali dua dia mengerling Shun, tapi Shun seringkali melihat ke arah lain. Setelah lama berfikir akhirnya Shun menemukan apa yang akan di tanyakannya pertama kali, tapi tepat saat itu bis berhenti dan Sora tanpa mengucapkan selamat tinggal ke Shun menaiki bis tersebut. Shun akhirnya spontan ikut menaiki bis tersebut dan mengambil tempat duduk di sebelah Sora. Sora sempat terkejut melihat Shun di sampingnya, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.
Kembali Shun merangkai pertanyaan apa saja yang akan dia tanyakan, setelah mantap dia pun memulai pertanyaan pertama-nya.
“Bagaimana kamu bisa mengenal Kakakku?” Shun mengucapkan pertanyaan itu dengan cepat tanpa menatap Sora, lama dia menunggu jawaban yang dia harapkan. Sampai akhirnya dia kesal dan saat dia mau menumpahkan kekesalannya, didapatinya gadis itu sudah terlelap dengan nyenyaknya.
 ***
“Hah!! Kalung itu dimana?? Hah!! Kenapa kalung buat ibu juga tidak ada?? Huff!! Coba ingat Sora… kemarin kamu kemana aja… hmm hmm… ah ya!! Youji Sensei… apartemen!!”
Sora pagi itu akhirnya berangkat ke sekolah pagi sekali, dia berharap tidak terlambat ke sekolah setelah dari apartemen Youji, di lain pihak, Shun juga ternyata semalaman tidak bisa tertidur memikirkan kemungkinan Youji selingkuh, sebelum ke sekolah dia harus mendapatkan kepastian tersebut, dia tidak ingin datang ke sekolah dengan penuh tanda tanya.
“Maaf Sensei, aku… sepertinya meninggalkan kalung untuk ibuku di sini.”
“Eh? Kamu sempat ke sini kemarin?”
“Maaf aku kemarin sempat kesini, tapi aku belum sempat memberikan kalung itu, aku…”
“Yah nggak apa-apa, ayo masuk saja, kebetulan aku masih ada kerjaan nggak apa-apa kan kalau nggak bantuin kamu, maaf banget.”
“Ah! aku boleh masuk?” Sora terlihat begitu senang, Youji hanya mengangguk,” Ah.. terimakasih Sensei, hmm… Sensei nggak usah khawatir, aku bisa cari sendiri kok.”
Tepat ketika Sora memasuki apartemen Youji, Shun datang dan melihat Sora memasuki apartemen Youji pagi-pagi, dia menjadi semakin curiga. Hanya saja, Shun tidak langsung bertindak. Dia menunggu cukup lama sampai akhirnya Sora keluar dari apartemen itu.
“Huh… aku tidak menemukannya, maaf sudah datang mengganggu pagi-pagi.” Sora terlihat kusut.
“Hmm… maaf yah aku tidak bisa membantu, hmm… nanti aku akan coba mencarinya lagi, kalau aku menemukannnya nanti aku hubungi, bagaimana?”
“Hmm… maaf… soalnya selain kalung ibuku, aku juga jadinya kehilangan kalung Sensei…”
“Ah… nggak apa-apa, aku bisa membelinya lagi, yang penting aku udah tahu selera perempuan itu seperti apa…” Youji tersenyum menenangkan, Sora menjadi sedikit lebih tenang,” Sudahlah, kamu cepat ke sekolah saja, sudah siang nih.”
Sora melihat jam di tangannya,” ah! Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih Sensei.”
Sora bergegas pergi, dia nampak agak tergesa-gesa. Shun yang sedari tadi menunggu di luar, segera menyusulnya. “Hoi!!” Sora tetap berlari tidak menghiraukan panggilan Shun. Shun menjadi sedikit kesal. Dia pun mempercepat langkahnya, ketika jaraknya sudah semakin dekat dengan Sora, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di dekat mereka. Kaca mobil terbuka dan terlihat siapa yang ada di dalamnya.
“Hei! Kenapa kalian masih di sini? Bukannya sebentar lagi kalian masuk?” Narumi menyapa mereka. Sora sedikit terkejut melihat Narumi, dia pun baru menyadari kalau Shun juga berada di dekatnya.
“A..! apa kalian butuh tumpangan?”
“Tidak us…” Baru saja Shun akan menolak, Sora sudah bersiap untuk naik,” Eh?!...” akhirnya Shun pun ikut naik.
“Hahaha… hmm akhirnya kamu mau juga berangkat bareng aku Shun Chan!” Narumi tersenyum manis memandangi Shun yang nampak tidak nyaman.” Tapi… sebenarnya apa sih yang ingin kamu bicarakan dengan Youji sampai datang sepagi ini, kamu tadi dari apartemen Youji Kun kan?”
Shun tidak menjawab pertanyaan Narumi, pandangannya terpusat ke luar jendela. Narumi menghela nafas, lalu akhirnya dia memandangi Sora yang sedari tadi takjub melihat limosin yang sekarang dinaikinya itu.
“Ah!! seragam sekolah putri Meisei?? Apa kamu sekolah di sana?” Narumi baru menyadari seragam yang dikenakan Sora. Sora sedikit terkejut dibuatnya, lalu dengan tampang bingung mengangguk.
“Ah… aku benar-benar kangen dengan masa-masa itu… eh?! Jadi… kau dan Shun Chan?” Narumi melirik Shun, Shun akhirnya menatapnya,”Ada apa?” Tanyanya dengan ketus.
“Ouh… jadi kalian beda sekolah, bagaimana bisa kemarin kalian terlihat begitu mesra,” Narumi mengingat saat Shun tak sengaja memeluk Sora. Narumi melihat Shun dan Sora bergantian.
“Itu tidak seperti yang kamu bayangkan.”Shun merasa tidak nyaman.
Ano… Kak Narumi… dulu sekolah di Meisei?” Sora sekarang memperhatikan Narumi lekat-lekat.
“Eh! Yah... perkenalkan aku Narumi Hikawa… “ Narumi memperkenalkan diri dengan imut, tapi masih tetap berkarisma.
Sora terbelalak, menutup mulutnya sembari terus memperhatikan Narumi tidak percaya,” Ah!! Senpai!! Perkenalkan aku Sora Kanzaki!! Maafkan aku karena tidak mengenali Senpai!.”
“Jangan bilang kamu masuk klub kendo, wah… berarti kamu juga kenal dengan Youji Kun!”
“Yah tentu saja… Sensei adalah idolaku, mungkin hampir semua gadis di klub kendo mengidolakan-nya, soalnya Sensei selain hebat juga sangat ramah, masih muda lagi…”Sahut Sora semangat, tapi tiba-tiba dia tersadar setelah memandangi Narumi,”Oops… maaf aku terlalu bersemangat.“Sora terdiam. “Hmm.. Sebenarnya aku juga mengidolakan Senpai karena Senpai sebagai perempuan begitu hebat, mengalahkan hampir semua lawan tanpa ampun baik laki-laki mau pun perempuan, apalagi Senpai sangat cantik, aku sering mendengar banyak yang iri dengan Senpai karena Senpai begitu sempurna… Sen…
“Berisik…” Shun menghela nafas, dilonggarkannya dasi yang membelit lehernya.
Narumi memandang Shun heran. “Kamu kenapa sih dari tadi Shun? Kenapa juga kamu melonggarkan dasimu, kamu jadi terlihat tidak rapi, Shun… kamu denger aku nggak… Shun!!” Shun tidak memperdulikan Narumi, Narumi terlihat kesal. “ Shun~… apa perlu aku perbaiki dasimu?”Shun tidak bergeming. “Sora Chan!”
“Eh! Ya Senpai!”
“Perbaiki dasi Shun… kamu bisa kan?” Narumi yang tadinya terlihat mengerikan spontan langsung bersuara lembut ketika meminta Sora merapikan dasi Shun, Sora jadi tidak bisa menolak.
“Eh..eh… yah..ba baiklah Senpai” Tanpa berfikir panjang Sora segera duduk menghadap ke arah Shun yang duduk tepat di sampingnya. Dengan tangan gemetar Sora meraih dasi Shun, Shun yang sedari tadi terdiam pun menjadi bereaksi.” Hoi!! Apa-apaan ini!” Dia mencoba untuk menghindari tangan Sora meraih dasinya,” Narumi!” Shun terdengar geram, Narumi hanya tersenyum, dia terlihat begitu menikmati tingkah Shun.
“Maaf…” Sora seperti sedang menerima tugas, mukanya serius sekali. Shun yang merasa terdesak memegang tangan Sora tepat setelah Sora berhasil meraih dasinya,”A-aku bisa sendiri!” Dia melihat Narumi yang sekarang tersenyum menang. Sora yang tidak mengerti dengan keadaan ini, hanya mengikuti perintah yang diberikan, dia pun segera duduk sempurna. Shun merapikan dasinya dengan kesal. Dia tidak suka kalau Narumi menertawakannya.
Setelah itu, Narumi terus cekikikan. Shun masih terlihat kesal sedangkan Sora cuma terdiam.
“Ah! sudah sampai! Aku turun dulu, terima kasih Kak Narumi.” Sora segera turun dari mobil dan memberikan salam hormat ke Narumi.
“Sampai jumpa Sora Chan!!” Narumi tersenyum manis, tapi… waktu melihat Shun yang cuek Narumi pun menendang kaki Shun yang duduk di depannya, memberikan aba-aba supaya Shun mengucapkan sesuatu. Shun hanya menghela nafas,”have a nice day,” Shun mengucapkannya tanpa memandang Sora. Narumi nampak kesal dibuatnya. Sora hanya tersenyum kecil. Limosin itu pun melaju meninggalkannya.
“Kamu itu benar-benar tidak bisa bersikap manis ke perempuan, pantas saja kamu susah mendapatkan pasangan.”
Shun menguap walaupun tidak mengantuk, kata-kata Narumi bahkan tidak digubrisnya.
“Apa Narumi sangat menyukai aniki?” Tanya Shun sebaliknya tanpa menatap Narumi, matanya masih tetap menatap luar jendela.
“Ya.. tentu saja.. kenapa?? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya?” Narumi nampak antusias menjawab pertanyaan dari Shun,  tapi Shun tidak menjawab pertanyaannya, Narumi jadi sungkan untuk bertanya lebih lanjut.
Narumi menjadi bingung harus bagaimana, tiba-tiba dia mengingat sesuatu,“Ah!! hampir lupa, aku menemukan ini kemarin tertinggal di apartemen Youji Kun, aku rasa ini punyamu…” Narumi menyerahkan sebuah bungkusan ke Shun. Shun memperhatikan bungkusan itu.
“Kalungnya bagus, kamu pintar juga memilihnya. Hanya saja, kenapa kamu harus membeli dua, apa itu tidak terlalu boros… kalau kamu ragu mau pilih mana, kenapa tidak tanya aku saja?”
Shun segera merampas bungkusan itu dikeluarkannya isinya dan diperhatikan kedua kalung itu. Melihat reaksi Shun, Narumi menjadi bingung. Tingkah Shun seringkali tidak dipahaminya.
“Aku rasa, yang kiri lebih cantik…” Narumi tersenyum memandangi kalung yang dipegang oleh Shun, Shun memperhatikan Narumi, kembali perasaan kesal itu muncul. Tidak, kalau seperti ini, dia tidak bisa sekolah, pikirnya. “ Aku turun di sini…”
“Memangnya kenapa?” Shun tidak menjawab pertanyaan Narumi, dia turun begitu saja.
Shun benar-benar kesal, sedari kecil dia bercita-cita menjadikan Narumi istrinya, tapi Narumi juga sedari kecil sudah menyukai Youji. Berkali-kali Shun mencari pengganti Narumi, tapi dia tidak menemukan seorang pun yang dapat menandingi Narumi untuknya. Kalaupun sebelumnya dia pernah mengejar-ngejar Haruna itu karena Narumi pernah mengatakan kalau Haruna itu manis, kalau tidak, dia tidak ada niat mendekati gadis itu. Tapi, saat gadis itu lebih memilih mantan-nya, tetap saja Shun kesal dibuatnya.
Hari itu Sora tidak bisa berkonsentrasi mengikuti kelas, entah kenapa jantungnya masih berdebar semenjak tangannya di pegang oleh Shun, tidak…lebih tepatnya di genggam, kembali mukanya memerah.
“So..ra..? kamu baik-baik saja?” Mei ternyata memperhatikan tingkah laku anehnya sedari tadi.
“Eh?” Sora akhirnya tersadar,” Ah… aku baik-baik saja.” Sora tersenyum kecil. Dia masih bingung dengan Shun, apa yang sebenarnya ada di pikiran laki-laki itu. Tapi… tingkah canggung-nya tadi benar-benar imut, Sora sampai beberapa kali senyum-senyum sendiri.
Sepanjang hari, Sora tidak bisa melepaskan memori tadi pagi dari ingatannya. Dia masih tersipu-sipu malu setiap mengingat momen itu. Mei hanya menggeleng-gelengkan kepala memperhatikannya.
“Eh?? Ada apa di gerbang sekolah, ramai banget!” Mei berlari menuju ke gerbang sekolah mengecek apa yang terjadi, meninggalkan Sora yang masih asik dalam lamunannya.
Sora terus berjalan tanpa menyadari keramaian yang semakin lama semakin didekatinya, dia terus berjalan lurus ke depan, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.  Dia bahkan tidak sadar kalau ada yang memanggilnya sedari tadi.
 “Hoi!” orang yang memanggilnya sedari tadi sekarang berdiri tepat di hadapannya, membuat langkahnya terhenti. Orang yang berdiri dihadapannya ini nampaknya sangat tinggi, Sora bahkan hanya setinggi pundaknya. Saat dia mendongak ke atas mencoba memperhatikan wajah orang tersebut, spontan dia mundur sambil terbelalak.
Shun tidak menampakkan reaksi apa pun melihat tingkah aneh Sora, dia bahkan tidak peduli dengan suara ribut para gadis di sekelilingnya. Keberadaannya sebagai siswa laki-laki di sekolah perempuan tentu saja membuat histeris, apalagi Shun memiliki tampang yang bisa membuat mereka semua terpikat.
“Ini… “ Tanpa basa-basi Shun menyerahkan sebuah kotak ke Sora.
 Sora segera tersadar melihat kotak itu, melihat adegan itu, semua anak gadis berteriak histeris penasaran apa itu. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Sora mencoba mengecek isi kotak tersebut, dan benar… kotak itu isinya kalung yang dibeli oleh Youji. Semua yang melihat kalung itu, semakin histeris.
Sora memandang Shun mau berterima kasih, tapi sebelum dia sempat mengucapkan ucapan “terima kasih” itu, Shun menambahkan,”Apa kamu mau aku memakaikannya?” Sora sontak menelan ludah, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Di satu sisi dia ingin menolak karena itu bukan kalungnya, tapi… ini adalah tawaran yang menggiurkan. Sora tidak sanggup menjawab, dia terus memandang Shun tidak percaya.
“Ada apa ini?” pikirnya dalam hati. Shun lalu mendekatinya, dan dengan mantap memasangkan kalung itu di leher Sora, semua gadis berteriak histeris, iri.  Sora sampai menutup matanya karena malu.
Shun terkekeh, Sora akhirnya membuka matanya.
“Kamu pikir dengan memakai kalung cantik kamu akan terlihat cantik?” Shun mencibir dengan tampang menyebalkan.
Sora tersentak, Semua gadis tiba-tiba terdiam. Shun mendekati Sora, Sora terdiam tidak bergeming,”Aku tidak akan tinggal diam, kamu tidak akan bisa mengelabuiku, hah…seharusnya kamu sadar dengan tampangmu…” Bisik Shun, dipandanginya Sora dari ujung kaki sampai rambut, lalu dia tersenyum sinis, senyum yang membuat Sora merasa benar-benar terhina.
 Lalu setelahnya, Shun pergi meninggalkan Sora yang masih terdiam membisu dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Para gadis memandangi Shun dengan terbelalak, tidak ada yang memahami apa yang terjadi.
***

Bersambung…

Minggu, 06 Oktober 2013

Ketakutan Doni

       
        Namanya Doni, Doni Anggara. Wajahnya tampan, tinggi semampai, dengan badan yang proporsional. Rambut lurus yang selalu tertata rapi tapi tidak terlihat norak ditambah penampilan yang selalu menawan, membuat Doni tambah semakin menarik saja. Apalagi, dia memiliki otak encer dan pribadi yang sangat baik. Dia benar-benar menjadi idola di sekolahnya.
        Hidup Doni benar-benar hampir sempurna beberapa tahun terakhir ini. Akhirnya, 3 tahun terakhir ini dia bisa merasakan nikmatnya menjadi sorotan. Tidak seperti sebelumnya, Doni sangat menikmati perannya sebagai buah bibir setiap saat. Oleh karenanya, senyuman di bibirnya tidak pernah hilang menghiasi hari-harinya. Tanpa usaha yang berarti dia bisa mendapatkan teman yang banyak. Tanpa mengeluarkan kata-kata gombal, laci meja-nya sudah dipenuhi oleh amplop-amplop berwarna pink atau terkadang penuh dengan gambar “love”. Hidup Doni benar-benar mulus tanpa cela. Yah… dia sangat menikmati masa-masa SMP-nya.
        Hari ini adalah hari pertama Doni menjadi anak SMA. Dengan celana panjang abu-abu, Doni tampak lebih gagah. Rambut yang sekarang dipotong cepak membuatnya terlihat lebih keren. Doni benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menikmati masa SMA-nya yang akan dia jalani sebentar lagi.
        “Doni!! Wah, kamu tambah gagah aja!” Raka terlihat begitu bahagia melihat Doni, teman duduknya itu memang fans berat Doni.
        Di samping Raka, berdiri Dimas, Reno dan Hadi dan… mata Doni tak henti-hentinya menatap seorang gadis cantik yang berdiri tepat di belakang Hadi.
        “Woi!! Liat apaan sih! Kamu naksir aku yah?” Hadi sok centil menepuk Doni layaknya banci kaleng. Raka, Dimas dan Reno tertawa melihat tingkah Hadi, tapi Doni meresponnya dengan tampang geli dan sedikit kesal karena Hadi mengalihkan perhatiannya.
        “Doni? Kamu Doni Anggara?” Gadis cantik yang tadinya menarik perhatian Doni, tiba-tiba menghampiri Doni dan membuatnya serta keempat sahabatnya terbelalak membisu.
        Gadis ini benar-benar cantik, tak pernah Doni melihat gadis secantik ini sebelumnya. Kulitnya mulus dengan warna kuning langsat yang tidak pucat. Badannya tidak terlalu tinggi, tapi… tubuh mungilnya membuatnya terlihat manis. Rambutnya yang ikal dikuncir manis ke samping. Bibirnya yang mungil membuat senyumnya nampak sangat memikat.
        “Ah..eh i-i-iya… apa kita pernah ketemu sebelumnya?” Doni tanpa sadar ternyata sangat gugup sampai jantungnya berdegup cukup kencang.
        Gadis itu hanya tersenyum, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lembut. “Tapi… aku tahu kamu, hmm…”
        “Risa!!” terdengar suara gadis lain memanggil dari kejauhan. Gadis manis tadi menoleh dan melambai-lambaikan tangannya dengan semangat.
        “Maaf… aku harus pergi… bye… Doni…” Doni dan ketiga sahabatnya seperti tidak berkedip menatap Risa, senyum menawan Risa seperti sudah menghipnotis 3 bocah baru gede itu.
***
        Setelah hari yang begitu mendebarkan itu, Doni tidak pernah lagi melihat gadis itu selama masa orientasi sekolah. Semangatnya ke sekolah menjadi menurun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia menjadi uring-uringan ke sekolah.
        “Sepertinya rumah Pak Irwan bakalan nggak kosong lagi.” Ibu Doni mengawali sarapan dengan pembicaraan yang membuat Doni menjadi tak selera makan.
        “Mak-maksudnya? Apa Pak Irwan balik lagi bu?” Doni seketika itu menjadi mual.
        “Entahlah, hanya saja kemarin Ibu lihat ada mobil yang parkir di depan rumah itu.”
        Doni benar-benar tidak bisa lagi melanjutkan sarapannya, perutnya tiba-tiba saja menolak untuk diisi. Dia bergegas mengambil tas-nya sembari mencium tangan kedua orang tuanya, dengan senyum dipaksakan dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
        Doni memandangi rumah kosong yang berada tepat di samping rumahnya. Sudah 3 tahun inii rumah itu dibiarkan kosong tanpa ada penghuni pengganti. Tiba-tiba memori yang berusaha dikuburnya  sekelebat muncul, segera dia berusaha mengusir memori tak sedap itu.
        Tidak… dia tidak mungkin balik lagi… tidak…
        Doni berusaha melewati rumah itu tanpa meliriknya sedikit pun, sudah 3 tahun dia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan setiap memori yang pernah dia lewati sebelumnya.
        “Doni!” Suara yang nampaknya tak asing memanggilnya. Anehnya, suara itu sepertinya berasal dari rumah kosong yang berusaha dihindarinya.
        Bulu kuduk Doni seketika itu berdiri, dia diam terpaku, ingin rasanya kakinya melangkah tapi tak tahu kenapa terasa sangat berat sekali untuk digerakkan.
        “Hei!!” Sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
        Sontak Doni berteriak dan tanpa menoleh ke belakang, dia mengambil langkah seribu. Tak seperti biasanya, Doni nampak sangat lusuh hari ini. Keringatnya bercucuran, membuat sekujur tubuhnya basah. Penampilannya benar-benar tidak seperti biasanya. Mukanya yang biasanya cerah pun hari ini terlihat mendung. Dia terlihat sangat payah, image keren Doni benar-benar luntur saat ini.
        ”Wah… ada apa dengan pangeran tampan kita hari ini, sepertinya ada masalah serius nih.” Reno menggoda Doni, tapi Doni tidak menampakkan reaksi sedikit pun.
        “Jangan diganggu, kamu nggak lihat wajahnya. Dia seperti baru saja melihat hantu. “ Hadi memperhatikan wajah Doni yang sangat tegang.
        “Baiklah anak-anak… kembali ke tempat duduk kalian, kita akan memulai pelajaran matematika untuk hari ini.”
        Mata pelajaran yang paling disukai Doni terasa sangat lama pagi itu. Doni bahkan tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh Bu Leli. Dia benar-benar susah untuk berkonsentrasi, tanpa bisa di bendung lagi memori buruk itu bermunculan tanpa kendali.
        Menjelang malam, suasana hati Doni semakin memburuk. Lampu kamar di rumah sebelah yang dulunya kosong sekarang menyala dan terlihat bayangan orang  di dalamnya. Doni merinding. Apa benar dia sudah kembali? Katanya dalam hati. Pikiran tak menyenangkan yang sedari tadi pagi mengganggunya terus saja bermunculan.
***
        Besoknya Doni berangkat agak siang, dia kesusahan tidur tadi malam sehingga Ibunya harus menyiramnya supaya dia tersadar. Dia tidak terbiasa bangun kesiangan dan tidak terbiasa berjalan dengan langkah cepat. Dengan kesal dia merapikan dasinya yang berantakan. Rambutnya masih basah dan belum sempat disisirnya. Penampilannya benar-benar urakan.
        “Doni! Tunggu!” Langkah Doni terhenti. Suara tak asing yang sebelumnya pernah memanggilnya dari arah rumah kosong itu sepertinya mencoba mendekat. Langkah kaki orang itu semakin lama semakin dekat. Doni baru saja akan berlari tapi dia mengurungkan niat setelah melihat siapa si pemilik suara.
        “Apa kamu mau ninggalin aku lagi seperti kemarin?” Senyum manis Risa melumerkan suasana hati Doni yang tidak baik dari kemarin. Menyadari kalau ternyata suara yang kemarin menyapanya adalah Risa membuatnya bisa bernafas lega.
        “Jadi… kamu tetangga baru ku?” Doni akhirnya dapat menyunggingkan senyum.
        “Iya… maaf aku belum sempat berkunjung ke rumahmu. Orang tuaku baru datang besok, aku sekarang hanya tinggal dengan pembantuku.”
        “Syukurlah ternyata tetangga baruku itu kamu,” Doni menghembuskan nafas penuh kelegaan. Beban berat di pundaknya lenyap dalam sekejap. Saking leganya, dia hampir lupa kalau bel masuk tinggal 10 menit lagi. Langsung tanpa pikir panjang, diraihnya tangan Risa dan mereka berlari sekuat tenaga menuju ke sekolah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        “Cie..cie..ada yang lagi berbunga-bunga nih ceritanya,” Raka menyikut kepala Doni.
        “Aw..hahaha… sakit Raka…” Doni mencoba melepaskan tangan Raka, tapi sebenarnya dia  tidak terlalu memperdulikan tangan itu, karena pikirannya dipenuhi oleh Risa.
        “Akhirnya muka suram kemarin sudah berubah cerah lagi, syukurlah…”Hadi tersenyum simpul sambil mengambil tempat duduk tepat di depan tempat duduk Doni. Doni hanya membalas dengan tersenyum.
        “Nah… kalau wajahmu kayak gini kan jadinya enak dilihat…” Reno mengacak-acak rambut Doni. Doni hanya tertawa menerima setiap perlakuan teman-temannya kepadanya.
        “Hei!! Hei !! hei!! Perhatian teman-teman!! Kita bakalan dapat anak pindahan!!” Dengan nafas yang masih tersengal, Mika berteriak dengan semangat, menghentikan setiap aktifitas di dalam kelas saat itu.
        “Oh ya?? Cewek apa cowok?? Ganteng nggak? Cantik nggak?” Setiap orang terlihat memberikan reaksi dan pertanyaan yang beragam, Mika sampai kewalahan.
        TOK TOK TOK… “Tenang anak-anak!!!” Bu Leli memukul-mukul papan tulis membuat perhatian menjadi terpusat ke arah sumber suara.
        “Eheem…baiklah anak-anak, jadi hari ini kalian kedatangan teman baru. Lisa?” Bu Lelii memandangi pintu kelas, setiap mata pun akhirnya ikut terpusat ke sana.
        Sebuah kepala mendongak dari pintu kelas, bersamaan dengan itu semua mata merasa begitu menyesal telah memusatkan perhatian ke sana, semua… kecuali…Doni. Dengan mata terbelalak, tanpa berkedip Doni melihat gadis bernama Lisa itu memasuki kelas dengan cekikikan memamerkan kawat giginya yang menyembul.
        Tak ada yang menarik dari gadis ini, rambutnya dikuncir dua seperti candy-candy. Tampangnya sok imut, tapi mungkin lebih tepatnya dibilang dummy, dia selalu cekikikan dan memutar-mutar poninya dengan telunjuknya. Matanya nanar melihat ke sekelilingnya. Matanya ditutupi oleh kacamata tebal, membuat penampilannya tak menarik sedikitpun.
        “Salam kenal semuanya!! Namaku Lisa Irwan, aku baru pindah dari Inggris.” Lisa memamerkan giginya yang dipenuhi kawat gigi. Senyumnya benar-benar membuat perasaan tidak nyaman.
        “Eh?” Lisa tiba-tiba termangu, pandangannya lurus tertuju ke posisi dimana Doni duduk. Seketika itu, Doni merinding.
        “Kita sekelas!!” Senyumnya lebih merekah dibandingkan sebelumnya,”Downy!!” Semua mata serentak menatap Doni, Doni saat itu juga ingin sekali membuka jendela yang berada tepat dii sampingnya dan terjun bebas, tapi… itu adalah pikiran terkonyol yang tak mungkin dia lakukan.
        “Oh kebetulan sekali…Kamu mengenal salah satu dari mereka?” Hanya Bu Leli yang terlihat senang dengan kebetulan tak menyenangkan buat Doni itu.
        Lisa mengangguk semangat tanpa menghilangkan senyum yang mengerikan itu,” Aku dan Downy satu TK dan SD. Bahkan selama SD kami selalu sekelas.”
        “Ouuh!! Wow!! Sepertinya kalian jodoh ya?? Hohoho.” Bu Leli lagi-lagi memperlihatkan respon yang menyayat perasaan Doni. Lisa menunduk malu, terlihat sekali kalau dia senang mendengar perkataan Bu Leli.
        “Eheem, kalau begitu, Downy…” terdengar suara cekikikan seisi kelas,”ehemm maaf maksudku Doni… kamu Ibu tugaskan untuk mengantar Lisa berkeliling sekolah, kamu pastinya tidak keberatan kan?” Bu Leli menampakkan senyum yang terlihat sangat mengerikan, senyum itu seperti berkata, tolong aku…
        Doni tertunduk lemas. Perasaan senang tadi pagi langsung sirna tanpa bekas. Sepertinya mimpii buruk baru saja akan dimulai… Doni menghembuskan nafas dengan berat. Dia benar-benar kembali…Apa jadinya masa SMA-ku!!! Arrghhh!!!!