"Maki!!! Maki!!! Maki!!!" Erika menuruni tangga dengan tergesa-gesa, nafasnya sampai tersenggal-senggal membuatnya sulit untuk memulai kata-katanya.
"Dou shita no?* daijoubu? take ur time, speak slowly..." Maki yang baru saja dari ruang kesehatan lantaran mag-nya kambuh hanya bisa mengerutkan kening.
"ano..."
Mendengar penjelasan Erika, Maki segera berlari ke kelas disusul Erika yang nafasnya masih tidak beraturan.
Sepi... sudah tidak ada razia... terlihat para siswa duduk di sembarang tempat, ada yang bisik-bisik sesama teman, ada yang duduk merenung sendiri, suasanya sungguh... tegang.Maki menyisir sekeliling kelasnya, dia tidak menemukan keberadaan Shota.
"Ah!! Toda chan! Matsuda dibawa ke ruang guru untuk diinterogasi lebih lanjut." Risa mendekati Erika ketika melihatnya di ambang pintu. Langsung saja Maki dan Erika menuju ke ruang guru, dari balik jendela dapat dillihatnya betapa tegang muka Matsuda.
"Apa menurutmu Matsuda akan dipenjara?" Maki menghela nafas.
"entahlah... aku berharap ada keringanan karena bagaimanapun Shota masih di bawah umur." Erika terlihat begitu khawatir, mukanya terlihat sangat tegang, keningnya selalu berkerut, berkali-kali dia menggigit ujung bibirnya, dan kakinya tak henti-hentinya dia hentakkan dengan cepat.
Maki dan Erika secara bersamaan merebahkan diri di dinding, berbagai macam pikiran buruk terlintas di benak mereka masing-masing, sungguh tak disangka masalahnya begini rumit.
Akhirnya pintu ruang guru bergeser, keluar dari balik pintu Shota dengan wajah muram, kepala tertunduk, dan terlihat sekali badannya lemas.
"Shota kun?" Erika memanggilnya dengan sungkan.
Shota menoleh, lemah sekali... matanya sayu, terlihat ada beban berat yang sedang dipikulnya tapi dia tetap memberikan senyum hangatnya ke Erika.
"Gomen ne..." sahut Shota sambil menatap Erika hangat.
Erika tanpa sadar mulai mengeluarkan air mata,"Walaupun a-aku tidak tahu dan tidak mengerti demo.. atashi wa shota kun o shinjite iru* ..." Mendengar pernyataan polos Erika, Shota cuma tersenyum.
"Arigatou...Eri chan ..." Shota mengelus-elus rambut halus Erika, membuat Erika tambah terisak,"Jangan menangis, perbuatanku tidak pantas ditangisi," Shota mengusap air mata Erika.
"Hirokita... maaf... aku titip Erika... sepertinya sebentar lagi jemputanku datang."
Benar, tak berselang lama Shota ditangkap oleh beberapa polisi. Semua mata tertuju padanya, di sepanjang koridor kelas menyembul beberapa kepala di jendela, semua berbisik-bisik sampai terdengar seperti dengungan lebah,Shota hanya menundukkan kepala, hari itu... anak berprestasi kebanggaan sekolah dalam sekejap telah menjadi seorang kriminal, tangan yang terlilit borgol membuatnya nampak buruk.Erika tak henti-hentinya menangis, dia tidak tega memandangi Shota yang digiring polisi seperti itu, dia sembunyikan kepalanya dibalik pundak Maki sambil terus terisak-isak, membuat seragam Maki basah.
"Ada apa dengan dia yah?" pikir Maki.
to be continued...
* Apa yg terjadi?
* Aku mempercayai Shota
A person by my name and being existed With a strong spirit and an eternal mindset To become a peacemaker for all By sharing the things that really matter "About Things That Matter" Mattie JT.Stepanek
Tampilkan postingan dengan label cerbung.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerbung.... Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 November 2014
Kamis, 06 November 2014
Ada Apa Dengan Dia? part 2
“Bagaimana? Apa ada sesuatu mencurigakan yang kamu temukan?”
Erika memandangi Maki penuh tanya, semenjak membuntuti Shota dari toko buku
kemarin,Maki menjadi lebih sering melamun.
“ah eh… ano.. hmm … oh ya aku lupa… aku belum mengerjakan PR
matematika, sepertinya aku harus pulang cepat hari ini, gomen Eri-Chan.”
“Ano… Maki!! Maki chan!!” Erika mengerutkan kening, memandangi
Maki yang terkesan terburu-buru dengan perasaan penuh tanya.
Maki mempercepat langkahnya, sedikit khawatir Erika berpikir
yang tidak-tidak, tapi dia sendiri juga bingung, seharian ini dia memperhatikan
shota namun tidak ada hal mencurigakan yang dapat dia tangkap. Sesekali mata
mereka bertemu dan Shota tersenyum padanya, biasa… hal ini sangat biasa… iya
kan?
“Hirokita ! Chotto matte!* ”Terdengar suara seeseorang memanggilnya, membuat Maki harus menghentikan langkahnya,
ketika ia berbalik terlihat Shota berlari kecil menghampirinya.
“Apa kamu ada waktu? Ada yang ingin aku omongin…” Shota
menyunggingkan senyum manisnya, tapi entah kenapa perasaan Maki malah tidak
nyaman.
“Hmm mochiron*, kamu mau ngomong apa?” Maki mencoba untuk
tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
“Hmm… eto…Apa Eri tau?” Shota menatap Maki lekat-lekat, Maki
sampai merasa tercekik.
“Tau? Tau apa? sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Aku
tidak mengerti.” Maki mencoba untuk tetap tenang, seakan-akan dia tidak
mengetahui apa-apa.
“Aku hanya takut Eri akan berfikir yang tidak-tidak
tentangku, bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun.” Shota melepaskan
pandangannya ke Maki, dia meluruskan badannya, lalu dengan gaya santai menatap
ke sekelilingnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shota
sepertinya tetap percaya kalau Maki mengetahui sesuatu.
“Hmm… hmm… apa kamu selalu melakukan hal itu?” Maki
membisiki Shota, rasa penasarannya ternyata membuatnya tidak bisa bertahan
untuk tetap berakting tidak tahu.
“Eh… iie..iie… ah… mana mungkin aku… kamu tahu sendiri kalau
aku…” Shota tiba-tiba salah tingkah, dia mencoba membela diri tapi akhirnya
terdiam ketika melihat Maki yang begitu serius memperhatikannya.
“Haaah… itu…aku… aku tidak selalu melakukannya… aku… Cuma
iseng…yah Cuma itu.” Shota akhirnya bisa berbicara lebih tenang, terlihat dia
mulai berkeringat. Entah kenapa Maki malah menjadi semakin semangat
menginterogasinya.
“Apa menurutmu itu bisa dianggap biasa? Iseng? Hah… tapi…
aku merasa apa yang kamu lakukan kemarin bukanlah sesuatu yang kamu lakukan
satu atau dua kali, menurutku itu sudah menjadi kebiasaanmu.”
“kebiasaan? Hah… apakah itu masuk akal untuk orang
sepertiku?”
“Itulah keanehannya… aku tidak habis pikir, anak sepertimu?
Kebanggaan sekolah dan orangtuamu? Melakukan hal itu? Huff…”
Shota tanpa basa-basi memegang pundak Maki dengan posisi
membungkuk, kepalanya menunduk sambil melihat ke bawah, terdengar suara
hembusan nafasnya yang berat, tiba-tiba
dia mengangkat kepalanya dan dengan seius menatap Maki, Maki sedikit tersentak…
dia menelan ludah, bisa dilihatnya pantulan dirinya di bola mata Shota yang
hitam,” Kamu bisa merahasiakan ini kan?”
Maki terdiam sejenak, ini mengerikan… Shota memang tidak
mengancamnya, tapi Maki merasa Shota bukannya “tidak” mengancamnya…hanya saja
“belum” mengancamnya.
Maki menurunkan tangan Shota dari pundakknya,”Hmm… aku bukan
orang yang suka ngomong sembarangan,
tapi… aku berharap kamu bisa menghilangkan kebiasaan itu, hanya menunggu
waktu saja sampai orang tahu, kalau kamu tidak berusaha untuk menghentikan
kebiasaan itu, cepat atau lambat…”
Maki belum selesai meneruskan kata-katanya karena ponsel
Shota berdering. Shota merogoh ponsel dari saku jaketnya, ketika dia membaca
pesan dari ponselnya mimik wajahnya berubah.
“Gomen … aku… harus pergi, arigatou Hirokita…” Terlihat
wajah Shota begitu tegang, setelah menepuk pundak Maki sebagai tanda terima
kasih dia pun segera berlari seakan ada sesuatu yang sedang menunggunya.
To be continued
Ket:
*Tunggu
*Tentu saja
Rabu, 05 November 2014
Ada Apa Dengan Dia?
"Huff... sepertinya ini hanya perasaanku saja.."
"Hai! Nande?" Maki sepertinya tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Erika, ia sibuk merogoh kantong roknya mencari beberapa keping uang untuk membayar makanan yang sekarang menemani makan siang mereka.
"Maki chan! huff..." Erika dengan lemas menopang dagu.
"Hai! hai! gomen! Matsuda nande?" kali ini Maki dengan serius memperhatikan Erika.
"Shota kun akhir-akhir ini aneh..." Kening Erika berkerut, dia seperti memikirkan sesuatu, pandangannya jauh ke sudut jalan, walaupun saat itu Maki duduk tepat didepannya memperhatikan setiap mimiknya.
"Dia... selalu memandangi ponselnya, setiap waktu, setiap saat. rangkingnya pun akhir-akhir ini menurun." Sambung Erika akhirnya.
"Hmm... souka... bagaimana kalau kita buntuti dia.." Maki menyunggingkan senyum meyakinkan, seolah-olah idenya begitu cemerlang.
"Ah...iie iie... nande sore... muri muri*..."
"ah... okashii* ne...maumu sebenarnya apa sih... penasaran tapi seperti nggak mau cari tahu."
"Demo... apa aku harus membuntutinya, aku merasa seperti stalker aja.."
"Erika chan! kamu bahkan belum melakukannya kamu udah merasa stalker...hmmm.. ini bukan hal yang mudah sepertinya..."
"are... Shota kun??"
"Doko..doko...??" Maki melihat ke jalan raya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Shota.
"Dia masuk ke toko buku..." Erika kembali menyeruput minumannya.
"Apakah ini hal yang aneh? atau wajar?"
"menurutmu?"
"Orang masuk toko buku, nggak ada yang salah dengan hal itu, tapi... kenapa kita tidak mengeceknya saja..." mata Maki terlihat berbinar-binar, kegemarannya membaca dan menonton serial detektif membuat rasa ingin tahunya begitu besar.
"Silahkan di cek, aku diam di sini aja... Shota pasti akan sangat kecewa padaku kalau tahu aku membututinya.."
"Hitori?? ah... wakatta kamu tunggu di sini..."
Akhirnya Maki segera menyusul Shota ke toko buku di seberang jalan.
Dengan seksama Maki memperhatikan setiap gerak-gerik shota, tidak ada yang mencurigakan, Shota berjalan mengelilingi rak buku, membuka beberapa buku, membacanya sejenak lalu menutupnya dan mengembalikannya ke tempat semula, begitu seterusnya, sampai...
Maki menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang "honour student" bagaimana bisa melakukan hal ini? Oh no... Maki menjatuhkan beberapa buku di dekatnya, dia begitu terkejut, segera dia bersembunyi, berharap Shota tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama bersembunyi akhirnya dia mencoba mengecek lagi apa Shota masih berada di tempat tadi.
"Nani shiteru no*?" Seseorang memergoki Maki. Takut itu Shota, Maki menunduk mencoba mencari beribu alasan.
"Gakusei? apa kau yang telah membuat buku-buku ini berantakan?" Ternyata sang penjaga toko, dia memarahi Maki yang telah menjatuhkan beberapa buku dan tidak menatanya kembali.
"Ah... hai! hai! sumimasen deshita! sumimasen !" Tanpa pikir panjang, Maki segera memungut buku-buku tersebut, terdengar lonceng pintu toko buku itu berbunyi, sekilas terlihat sosok Shota keluar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya ada apa dengan Shota, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu? berbagai macam pikiran memenuhi otak Maki sembari tangannya tetap sibuk memunguti buku-buku yang membuat aksi "membuntutinya" gagal total.Apa aku perlu memberitahu Erika apa yang baru saja aku lihat? ah tidak.. lebih baik tidak.. aku mau cari informasi lebih banyak lagi, jangan sampai aku menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.Maki terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya buku terakhir selesai dia rapikan.
to be continued...
Ket:
* impossible
* weird
* what r u doing?
"Hai! Nande?" Maki sepertinya tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Erika, ia sibuk merogoh kantong roknya mencari beberapa keping uang untuk membayar makanan yang sekarang menemani makan siang mereka.
"Maki chan! huff..." Erika dengan lemas menopang dagu.
"Hai! hai! gomen! Matsuda nande?" kali ini Maki dengan serius memperhatikan Erika.
"Shota kun akhir-akhir ini aneh..." Kening Erika berkerut, dia seperti memikirkan sesuatu, pandangannya jauh ke sudut jalan, walaupun saat itu Maki duduk tepat didepannya memperhatikan setiap mimiknya.
"Dia... selalu memandangi ponselnya, setiap waktu, setiap saat. rangkingnya pun akhir-akhir ini menurun." Sambung Erika akhirnya.
"Hmm... souka... bagaimana kalau kita buntuti dia.." Maki menyunggingkan senyum meyakinkan, seolah-olah idenya begitu cemerlang.
"Ah...iie iie... nande sore... muri muri*..."
"ah... okashii* ne...maumu sebenarnya apa sih... penasaran tapi seperti nggak mau cari tahu."
"Demo... apa aku harus membuntutinya, aku merasa seperti stalker aja.."
"Erika chan! kamu bahkan belum melakukannya kamu udah merasa stalker...hmmm.. ini bukan hal yang mudah sepertinya..."
"are... Shota kun??"
"Doko..doko...??" Maki melihat ke jalan raya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Shota.
"Dia masuk ke toko buku..." Erika kembali menyeruput minumannya.
"Apakah ini hal yang aneh? atau wajar?"
"menurutmu?"
"Orang masuk toko buku, nggak ada yang salah dengan hal itu, tapi... kenapa kita tidak mengeceknya saja..." mata Maki terlihat berbinar-binar, kegemarannya membaca dan menonton serial detektif membuat rasa ingin tahunya begitu besar.
"Silahkan di cek, aku diam di sini aja... Shota pasti akan sangat kecewa padaku kalau tahu aku membututinya.."
"Hitori?? ah... wakatta kamu tunggu di sini..."
Akhirnya Maki segera menyusul Shota ke toko buku di seberang jalan.
Dengan seksama Maki memperhatikan setiap gerak-gerik shota, tidak ada yang mencurigakan, Shota berjalan mengelilingi rak buku, membuka beberapa buku, membacanya sejenak lalu menutupnya dan mengembalikannya ke tempat semula, begitu seterusnya, sampai...
Maki menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang "honour student" bagaimana bisa melakukan hal ini? Oh no... Maki menjatuhkan beberapa buku di dekatnya, dia begitu terkejut, segera dia bersembunyi, berharap Shota tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama bersembunyi akhirnya dia mencoba mengecek lagi apa Shota masih berada di tempat tadi.
"Nani shiteru no*?" Seseorang memergoki Maki. Takut itu Shota, Maki menunduk mencoba mencari beribu alasan.
"Gakusei? apa kau yang telah membuat buku-buku ini berantakan?" Ternyata sang penjaga toko, dia memarahi Maki yang telah menjatuhkan beberapa buku dan tidak menatanya kembali.
"Ah... hai! hai! sumimasen deshita! sumimasen !" Tanpa pikir panjang, Maki segera memungut buku-buku tersebut, terdengar lonceng pintu toko buku itu berbunyi, sekilas terlihat sosok Shota keluar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya ada apa dengan Shota, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu? berbagai macam pikiran memenuhi otak Maki sembari tangannya tetap sibuk memunguti buku-buku yang membuat aksi "membuntutinya" gagal total.Apa aku perlu memberitahu Erika apa yang baru saja aku lihat? ah tidak.. lebih baik tidak.. aku mau cari informasi lebih banyak lagi, jangan sampai aku menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.Maki terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya buku terakhir selesai dia rapikan.
to be continued...
Ket:
* impossible
* weird
* what r u doing?
Rabu, 02 April 2014
Kalung...
Hai... rasanya sudah lama aku nggak menulis cerita, kali ini aku mau mengangkat cerita tentang bagaimana sesuatu hal yang sebenarnya biasa saja menjadi "sesuatu" ketika seseorang cenderung mengambil kesimpulan hanya dari diri-nya sendiri, tanpa mengklarifikasikan masalah itu terlebih dahulu. Cerita ini mungkin aja fiktif tapi terkadang juga terjadi (di dorama hoho...)... cerita yang terinspirasi dari kata "목걸이 (kalung)" sesaat setelah menonton BOC (Bride of Century) yang sedang tayang saat ini (kok malah jadi promosi drama yah)... yah cerita yang bakalan aku tulis ini pastinya sangat jauh berbeda dengan cerita BOC, hehe...
Lima hari lagi, ulang tahun ibunya
tinggal lima hari lagi. Sora nampak bingung memikirkan kado apa yang akan
diberikannya. Dia berjalan dengan lunglai setelah hampir sejam berkeliling
melihat berbagai toko-toko di pinggir jalan.
“Hei!! Sora Chan!!” Seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Sora membalikkan badan dan
dilihatnya sosok lelaki muda yang sangat tampan, dia tak lain adalah gurunya dulu
di klub Kendo.
“Ah!! Youji Sensei! Konnichiwa!” Sora
memberi hormat, matanya berbinar bahagia. Dia tidak menyangka akan bertemu guru
kendo favoritnya.
“Wah… seperti biasa kamu tampak
selalu semangat yah!! Hmm apa kamu sedang sibuk?”
“Eh?... ah… nggak kok, aku hanya
sedang bingung mencari kado untuk ibuku.”
“Ibumu? Oh… bagaimana kalau kalung…
aku tahu tempat yang bagus. Kebetulan aku ingin ada seseorang yang bisa
menemaniku.”
“Ah! Benarkah! Ok! Aku siap
menemani Sensei! Hehe.” Sora
tersenyum lebar, akhirnya dia tahu kado apa yang akan diberikannya pada ibunya.
Di tempat lain, Hiroki Yamada
sedang uring-uringan mengikuti acara double
date yang diatur oleh temannya. “Maaf Hikun! Aku juga nggak menyangka
jadinya akan seperti ini.” Shun Takagi menghela nafas panjang.”Huff… aku kira
dia sudah melupakan mantan-nya.”
Hiroki melihat Shun yang terlihat
lebih frustasi darinya, double date
yang sebenarnya dia ikuti hanya untuk temannya ini hancur berantakan karena
gadis yang ditaksir Shun ternyata kembali ke mantannya. Padahal, untuk
mendapatkan cinta gadis ini, Shun harus mengorbankan banyak hal, termasuk memberikan
Hiroki ponsel yang baru saja dia beli supaya temannya ini mau untuk diajak double date. Hiroki menjadi merasa tidak
enak menerima ponsel itu. Pada dasarnya dia juga tidak berniat untuk ikut double date, lagipula dia juga tidak
memiliki pasangan. Hanya saja, si Haruna, gadis yang di taksir Shun hanya mau
nge-date kalau temannya si Shizuka juga diajak. Tapi… siapa yang menyangka, di
tengah acara nge-date yang belum sampai puncak mendebarkan, si Kudo muncul dan
dengan sangat mudahnya mengambil Haruna dari Shun, dan Haruna bahkan tidak
memberi penolakan sedikit pun. Kejadian beberapa menit itu, sungguh membuat
mereka berdua shock!
“Ano… Yamada kun?...” Shizuka entah
sejak kapan berdiri tepat di hadapan Hiroki.
“Untuk hari ini… terima kasih
banyak, aku… sangat menikmatinya… mungkin… lain waktu…kalau kamu mau…kita bisa
pergi lagi… hanya berdua?” Shizuka memberikan sinyal ketertarikan kepada
Hiroki, di satu sisi Hiroki senang karena Shizuka termasuk gadis yang manis,
tapi… di sisi lain dia merasa tidak nyaman melihat Shun yang baru saja patah
hati.
“Ah… yah aku juga.. terima kasih..
hmm.. lain kali yah…” Hiroki mencoba memasang senyum yang manis, tapi
sepertinya masih tampak dipaksakan.
“Mengenai Haruna, maaf yah Takagi
kun… Haruna benar-benar telah melewati banyak hal untuk melupakan Kudo kun,
tapi… sepertinya dia…”
“Ah… aku mau jalan-jalan… mau
menemaniku Hikun?!” Shun tiba-tiba berdiri, memotong kata-kata Shizuka dan tanpa
memperdulikan Shizuka dia berjalan menjauh. Shizuka terlihat terkejut dengan
reaksi Shun, tapi dia hanya bisa terdiam terpaku. Hiroki jadi merasa serba
tidak enak, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka akhirnya berjalan tak tentu
arah, meninggalkan Shizuka yang penuh kebingungan dan Haruna beserta Kudo yang
sedang menikmati masa bersama lagi. Hiroki terus mengikuti Shun tanpa bertanya
apa-apa. Tiba-tiba langkah Shun terhenti tepat di sebelah toko perhiasan. Hiroki
pun ikut berhenti, dipandanginya Shun yang terlihat begitu tegang.
“Apalagi ini?” suara Shun meninggi
dan terdengar kesal. Hiroki pun melihat apa yang menjadi sumber amarah
tersebut.
“Eh? Youji San! Bersama… seorang gadis? Bukannya…” Hiroki tidak menyambung
kata-katanya, karena nampaknya Shun sudah kesal sekali.
“Ayo pergi!!” Suasana hati Shun
tambah tak menentu.
Di dalam toko perhiasan yang baru
saja dilalui oleh Shun, tampak Sora tanpa rasa canggung begitu menikmati setiap
kali Youji memasangkan kalung ke lehernya.
“Bagaimana? Apa terlihat cantik?”
Youji memandangi kalung itu melalui
cermin.
Sora tersenyum memandangi betapa
indahnya kalung itu,” Gadis yang akan Youji Sensei
berikan pasti akan sangat menyukainya.”Tuturnya senang.
“Benarkah? Baiklah… aku akan ambil
ini.” Youji tanpa pikir panjang mengambil kalung itu dan segera membayarnya. “Tolong
kalung ini… dan Itu dibungkus.” sahutnya sambil menunjuk sebuah kalung lagi.
“Eh?! Ini kan…” Sora begitu
terkejut, karena Youji tanpa basa-basi membayar kalung yang rencananya akan dia
berikan kepada ibunya juga.
“Sebagai tanda terima kasih karena
kamu telah meluangkan waktumu menemaniku…” Youji tersenyum manis, Sora benar-benar
dibuat meleleh.
Belum saja kedua barang itu sampai
ditangannya, Youji mendapat telpon mendadak dari kantornya, dia segera keluar
dari toko tersebut, terpaksa Sora yang menerima bungkusan kedua kalung cantik
itu.
“Ah… maaf Sora Chan, aku harus
segera pergi, ada suatu keadaan mendadak di kantor yang harus aku tangani…”
Tanpa berkata apa-apa lebih lanjut, Youji segera berlari. Sora bahkan belum
sempat menanyakan mengenai kalung yang baru saja dibeli Sensei-nya itu. Akhirnya
daripada bengong, Sora pun memutuskan untuk pergi makan terlebih dahulu sebelum
pulang, karena dari tadi pagi dia belum menyentuh makanan sedikit pun.
Shun menyeruput minumannya dengan
malas, Hiroki sudah sedari tadi meninggalkannya sendirian, tapi dia masih saja
termenung memandangi hamburgernya yang baru digigit sekali. Beberapa kali dia
mencoba menghilangkan mood jeleknya dengan menghela nafas panjang, cara itu
hampir berhasil tapi langsung gagal ketika matanya mendapati sosok gadis yang
tadinya bersama Youji duduk tepat di meja seberang tempat duduknya. Gadis yang
sudah sangat kelaparan itu, memakan makanannya dengan lahap tanpa menyadari ada
mata yang sedang mengawasi setiap gerakannya. Shun terus memandangi gadis itu,
masih tidak masuk akal baginya gadis itu bisa menyaingi Narumi yang merupakan
idola-nya sedari kecil.
Tiba-tiba, ponsel gadis itu berdering,
spontan Shun menguping pembicaraan gadis itu.
“Ya.. ini dengan Sora… ah! Youji Sensei!! Ah ya..ya… apartemen Sensei? Oh
…yah..yah… tidak apa-apa, yah..yah… yah
sama-sama.”
Telpon singkat itu benar-benar
membuat geram Shun, apartemen? apartemen aniki? Apa-apaan ini? segala
macam pikiran berkecamuk di kepala Shun. Gadis itu dengan segera menghabiskan
burger ke-lima yang dibelinya, lalu dengan kilat meminum cola dingin-nya sampai
habis. Shun saat itu juga langsung tahu
apa yang harus dilakukannya segera.
Shun bergegas ke apartemen Youji,
dia tidak tahu apakah gadis tadi akan ke sini apa tidak, dia hanya
menebak-nebak saja siapa tahu perkiraannya benar. Sambil bersembunyi, dia
memperhatikan setiap kejanggalan yang mungkin dia temukan di apartemen itu.
Suara langkah kaki mendekat, Shun segera bersembunyi, mengandalkan ponselnya,
dia mengintai siapa yang baru saja datang. Ternyata yang datang adalah Narumi,
tunangan Youji yang kerap kali datang menyambangi apartemen Youji sekedar untuk
membersihkannya atau menyiapkan makanan. Setelah Narumi tidak ada lagi yang
datang, Shun sudah hampir tertidur sampai dia mendengar suara langkah kaki
mendekat. Rasa kantuknya seketika itu langsung hilang. Dari ponselnya, dia
dapat melihat bahwa yang datang kali ini adalah gadis itu. Gadis itu
berkali-kali memencet bel, Shun masih memperhatikan sambil berfikir apa yang
harus dia lakukan. Tak lama berselang, terdengar suara klek dari arah dalam apartemen Youji, pintu apartemen yang kalau
dibuka mengarah keluar ini spontan ditutup Shun, setelah berlari kilat dari
lokasi persembunyiannya.
Gadis itu tersentak, nafas Shun
masih tersengal-sengal. Dengan posisi masih menutup pintu dengan tangannya,
Shun berdiri tepat di hadapan gadis itu.
Mata mereka bertemu, kali ini jarak mereka sungguh dekat, Shun dapat
melihat wajah gadis itu dengan sangat jelas. Terlihat matanya memandang tajam
gadis itu, gadis itu pun nampak tidak berkutik memandangi Shun, dia terlihat
kesal dengan laki-laki yang datangnya entah darimana ini.
“Kamu siapa?” secara bersamaan Shun
dan gadis itu bertanya hal yang serupa. Mereka tersentak, sama-sama mendengus kesal,“Kamu
siapa?” kembali mereka mengeluarkan pertanyaan yang sama, sekarang mereka sama-sama
tersenyum kesal.
“Kau…” Shun melepaskan tangannya dari pintu
dan saat itu juga pintu terbuka, karena tadinya gadis itu berdiri tepat di
depan pintu, terbukanya pintu membuatnya secara tidak sengaja terdorong oleh pintu sehingga dia menabrak Shun yang
berdiri tepat di hadapannya, Shun secara spontan, menjaga kesetimbangannya
dengan menahan gadis tersebut tapi… ternyata yang telihat malah seperti dia
sedang memeluk gadis itu.
“Eh? Shun Chan??” Narumi memandangi
kedua anak ingusan itu, melihat Shun memeluk gadis itu, dia cekikikan. Shun
yang terkejut segera menarik lengannya dari tubuh gadis tersebut dan
menundukkan badan memberi salam, gadis yang bersamanya itu pun spontan
mengikuti. Narumi tersenyum melihat tingkah kikuk Shun, matanya pun akhirnya
terpaku pada gadis yang saat ini berdiri tepat di samping Shun.
“Siapa Shun? Pacarmu??”
“Bukan…aku hanya…” Gadis itu belum
menyelesaikan kata-katanya, Shun sudah tidak sabar untuk bertanya.
“Hmm… apa aniki ada?”
“Ah! Youji Kun?? Hmm… sepertinya dia akan pulang telat… hmm…bagaimana kalau
kalian makan dulu, aku kebetulan udah masak.” Narumi melirik gadis itu dan Shun
melihat reaksi mereka.
“Apa aniki sebentar lagi akan
pulang?”
“Hmm… entahlah… kenapa kalian nggak
tunggu saja di dalam, sambil makan…ayo…”
Narumi segera masuk sembari
mempersiapkan makanan di meja makan, sedangkan Shun dan gadis itu masih berdiri
di bibir pintu.
“Aku pulang saja,” Baru saja gadis
itu akan pergi, Shun memegang lengannya.
“Kenapa buru-buru? Kamu juga mau
ketemu dengan Kakakku kan? Ayo masuk saja…” ajak Shun dengan tatapan yang tidak
menyenangkan. Shun berharap dia bisa menahan gadis itu sampai Kakaknya pulang.
Sora memandangi apartemen Youji
dengan kening berkerut. Berat sekali rasanya kakinya untuk melangkah masuk.
Sebenarnya dia datang hanya untuk mengantarkan kalung yang dibeli oleh
Sensei-nya. Gadis cantik yang membukakannya pintu tadi pastilah tunangan Senseinya.
Kalau saja laki-laki bernama Shun itu tidak ada, tugasnya pasti sudah selesai. Sora
pada awalnya berencana sebagai pengantar kalung itu tanpa berbasa-basi kalau kalung
itu terbawa olehnya, dia hanya tidak ingin nantinya timbul kesalahpahaman. Tapi…
karena adegan pelukan tak sengaja yang tak penting tadi itu, serta tak adanya
kesempatan untuknya untuk berbicara, membuatnya menjadi berfikir untuk lebih
baik menyerahkan kalung itu langsung ke Youji besok saja.
“Hoi!!” Shun memanggilnya dengan
kasar, Sora langsung melirik Shun geram.
“Hei!! Kenapa masih di situ?? Ayo
cepat … makanannya udah siap nih…” Narumi memanggil mereka dari dalam, terlihat
wajahnya nampak ceria.
Sora menjadi tidak enak untuk tidak
menerima tawaran Narumi, senyum manis Narumi benar-benar bisa menghipnotis
orang. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk, Shun mengikutinya dari belakang.
“Makan ini, ini, ini, ini, ini,
ini…” Narumi mengambilkan hampir semua jenis lauk yang tersedia di atas meja ke
mangkok nasi Sora. Raut wajah Shun menampakkan ketidaksukaannya atas hal itu.
“Kenapa? Ayo dimakan?” Sora
tersentak mendengar suara Narumi, tadi tanpa sadar dia melirik Shun yang duduk
tepat di sampingnya cukup lama,”Eh?.. ya terimakasih… itadakimasu!!”
Sora mulai memakan lauk tersebut
satu persatu, semakin lama kunyahannya semakin cepat, tanpa sadar dia sudah meminta
tambahan nasi lagi.
“Ahhh!!! Enak sekali…” mata Sora
berbinar, dia tidak pernah merasakan makanan seenak ini sebelumnya.
Dipandanginya Narumi penuh takjub,” Apa ini semua anda yang memasaknya?”
Narumi sedikit terkejut dengan
reaksi Sora yang tak terduga,”Hahaha…. Kamu formal sekali, jangan “anda”
panggil saja aku “kakak” … yah itu aku sendiri yang masak, bagaimana, kamu
suka?” Narumi tersenyum malu-malu menyadari masakannya sangat di sukai. Sora
mengangguk-angguk senang, dengan mantap dia mengambil semua lauk di atas meja,
menghabiskannya satu-persatu tanpa canggung. Shun yang melihat itu, sampai
tidak berkutik, dia bahkan tidak sadar kalau dia sama sekali belum memakan apa
pun.
“Ah…!!! Enak banget > <!!!” Sora
melahap habis makanan di atas meja, Shun yang masih memegang mangkok nasi-nya,
terbelalak tidak percaya.
“Wah!!! Keren > <!!! Aku
tidak menyangka masakanku bisa disukai seperti ini!” Narumi terlihat begitu
senang, sampai tidak sadar kalau Shun benar-benar hanya memakan nasi saja.
Tiba-tiba terdengar suara bel
berbunyi, “Ah!! Mungkin itu Youji… Sebentar!!” Narumi dengan ceria pergi
membuka pintu.
“Apa kamu kerja part time jadi Sumo? tadi kamu habiskan
5 burger, sekarang…”
“Eh?!? Darimana kau…” Belum sempat Sora
menyelesaikan kata-katanya, Narumi datang sambil membawa sebuah paket. “Hah!
Ternyata bukan Youji…hmm apa aku telpon saja… tanya kapan dia pulang…”
“Ah… tidak usah, hmm sudah mau
larut juga, aku pulang saja.” Sora menawarkan diri pulang setelah melirik jam
di tangannya.
“Eh? Tidak apa-apa? Kau kan baru
habis makan.”
“Ah.. tidak kok, aku tidak apa-apa…aku
takut kalau kemalaman aku bisa dimarahi oleh Ayah.”
“Ah… baiklah… kalau begitu
hati-hati yah…eh Shun, kamu nggak antar dia sampai rumah? Tidak baik perempuan
dibiarkan jalan sendiri.” Narumi menatap Shun, Shun menghela nafas sambil
memelas.
“Tapi… aku mau menunggu aniki.” Shun memalingkan muka, dia sebenarnya paling
tidak bisa menolak permintaan Narumi.
“Shun~…Shun~ Shun~…” Narumi
mendekati Shun dan menggoda-godanya dengan nakal. Shun akhirnya tidak tahan dan
memutuskan untuk mengantar Sora.
Sepanjang perjalanan dilewati
mereka dengan diam. Dari apartemen Youji sampai di tempat perhentian bis, Shun
ingin sekali menanyakan perihal yang dilihatnya tadi siang, tapi dia bingung
harus mengawalinya dari mana. Sora merasa super tidak nyaman dengan ke kikuk an
ini, sekali dua dia mengerling Shun, tapi Shun seringkali melihat ke arah lain.
Setelah lama berfikir akhirnya Shun menemukan apa yang akan di tanyakannya pertama
kali, tapi tepat saat itu bis berhenti dan Sora tanpa mengucapkan selamat
tinggal ke Shun menaiki bis tersebut. Shun akhirnya spontan ikut menaiki bis
tersebut dan mengambil tempat duduk di sebelah Sora. Sora sempat terkejut
melihat Shun di sampingnya, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.
Kembali Shun merangkai pertanyaan
apa saja yang akan dia tanyakan, setelah mantap dia pun memulai pertanyaan
pertama-nya.
“Bagaimana kamu bisa mengenal
Kakakku?” Shun mengucapkan pertanyaan itu dengan cepat tanpa menatap Sora, lama
dia menunggu jawaban yang dia harapkan. Sampai akhirnya dia kesal dan saat dia mau
menumpahkan kekesalannya, didapatinya gadis itu sudah terlelap dengan
nyenyaknya.
***
“Hah!! Kalung itu dimana?? Hah!!
Kenapa kalung buat ibu juga tidak ada?? Huff!! Coba ingat Sora… kemarin kamu
kemana aja… hmm hmm… ah ya!! Youji Sensei…
apartemen!!”
Sora pagi itu akhirnya berangkat ke
sekolah pagi sekali, dia berharap tidak terlambat ke sekolah setelah dari
apartemen Youji, di lain pihak, Shun juga ternyata semalaman tidak bisa tertidur
memikirkan kemungkinan Youji selingkuh, sebelum ke sekolah dia harus
mendapatkan kepastian tersebut, dia tidak ingin datang ke sekolah dengan penuh
tanda tanya.
“Maaf Sensei, aku… sepertinya meninggalkan kalung untuk ibuku di sini.”
“Eh? Kamu sempat ke sini kemarin?”
“Maaf aku kemarin sempat kesini,
tapi aku belum sempat memberikan kalung itu, aku…”
“Yah nggak apa-apa, ayo masuk saja,
kebetulan aku masih ada kerjaan nggak apa-apa kan kalau nggak bantuin kamu,
maaf banget.”
“Ah! aku boleh masuk?” Sora
terlihat begitu senang, Youji hanya mengangguk,” Ah.. terimakasih Sensei, hmm… Sensei nggak usah khawatir, aku bisa cari sendiri kok.”
Tepat ketika Sora memasuki
apartemen Youji, Shun datang dan melihat Sora memasuki apartemen Youji
pagi-pagi, dia menjadi semakin curiga. Hanya saja, Shun tidak langsung
bertindak. Dia menunggu cukup lama sampai akhirnya Sora keluar dari apartemen
itu.
“Huh… aku tidak menemukannya, maaf
sudah datang mengganggu pagi-pagi.” Sora terlihat kusut.
“Hmm… maaf yah aku tidak bisa membantu,
hmm… nanti aku akan coba mencarinya lagi, kalau aku menemukannnya nanti aku
hubungi, bagaimana?”
“Hmm… maaf… soalnya selain kalung
ibuku, aku juga jadinya kehilangan kalung Sensei…”
“Ah… nggak apa-apa, aku bisa
membelinya lagi, yang penting aku udah tahu selera perempuan itu seperti apa…”
Youji tersenyum menenangkan, Sora menjadi sedikit lebih tenang,” Sudahlah, kamu
cepat ke sekolah saja, sudah siang nih.”
Sora melihat jam di tangannya,” ah!
Kalau begitu aku permisi dulu, terima kasih Sensei.”
Sora bergegas pergi, dia nampak
agak tergesa-gesa. Shun yang sedari tadi menunggu di luar, segera menyusulnya.
“Hoi!!” Sora tetap berlari tidak menghiraukan panggilan Shun. Shun menjadi
sedikit kesal. Dia pun mempercepat langkahnya, ketika jaraknya sudah semakin
dekat dengan Sora, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di dekat mereka. Kaca
mobil terbuka dan terlihat siapa yang ada di dalamnya.
“Hei! Kenapa kalian masih di sini? Bukannya
sebentar lagi kalian masuk?” Narumi menyapa mereka. Sora sedikit terkejut melihat
Narumi, dia pun baru menyadari kalau Shun juga berada di dekatnya.
“A..! apa kalian butuh tumpangan?”
“Tidak us…” Baru saja Shun akan
menolak, Sora sudah bersiap untuk naik,” Eh?!...” akhirnya Shun pun ikut naik.
“Hahaha… hmm akhirnya kamu mau juga
berangkat bareng aku Shun Chan!”
Narumi tersenyum manis memandangi Shun yang nampak tidak nyaman.” Tapi…
sebenarnya apa sih yang ingin kamu bicarakan dengan Youji sampai datang sepagi
ini, kamu tadi dari apartemen Youji Kun
kan?”
Shun tidak menjawab pertanyaan
Narumi, pandangannya terpusat ke luar jendela. Narumi menghela nafas, lalu
akhirnya dia memandangi Sora yang sedari tadi takjub melihat limosin yang
sekarang dinaikinya itu.
“Ah!! seragam sekolah putri
Meisei?? Apa kamu sekolah di sana?” Narumi baru menyadari seragam yang
dikenakan Sora. Sora sedikit terkejut dibuatnya, lalu dengan tampang bingung
mengangguk.
“Ah… aku benar-benar kangen dengan
masa-masa itu… eh?! Jadi… kau dan Shun Chan?” Narumi melirik Shun, Shun
akhirnya menatapnya,”Ada apa?” Tanyanya dengan ketus.
“Ouh… jadi kalian beda sekolah, bagaimana
bisa kemarin kalian terlihat begitu mesra,” Narumi mengingat saat Shun tak
sengaja memeluk Sora. Narumi melihat Shun dan Sora bergantian.
“Itu tidak seperti yang kamu
bayangkan.”Shun merasa tidak nyaman.
“Ano… Kak Narumi… dulu sekolah di Meisei?” Sora sekarang
memperhatikan Narumi lekat-lekat.
“Eh! Yah... perkenalkan aku Narumi
Hikawa… “ Narumi memperkenalkan diri dengan imut, tapi masih tetap berkarisma.
Sora terbelalak, menutup mulutnya
sembari terus memperhatikan Narumi tidak percaya,” Ah!! Senpai!! Perkenalkan aku Sora Kanzaki!! Maafkan aku karena tidak
mengenali Senpai!.”
“Jangan bilang kamu masuk klub
kendo, wah… berarti kamu juga kenal dengan Youji Kun!”
“Yah tentu saja… Sensei adalah idolaku, mungkin hampir
semua gadis di klub kendo mengidolakan-nya, soalnya Sensei selain hebat juga sangat ramah, masih muda lagi…”Sahut Sora
semangat, tapi tiba-tiba dia tersadar setelah memandangi Narumi,”Oops… maaf aku
terlalu bersemangat.“Sora terdiam. “Hmm.. Sebenarnya aku juga mengidolakan Senpai karena Senpai sebagai perempuan begitu hebat, mengalahkan hampir semua
lawan tanpa ampun baik laki-laki mau pun perempuan, apalagi Senpai sangat cantik, aku sering
mendengar banyak yang iri dengan Senpai
karena Senpai begitu sempurna… Sen…”
“Berisik…” Shun menghela nafas,
dilonggarkannya dasi yang membelit lehernya.
Narumi memandang Shun heran. “Kamu
kenapa sih dari tadi Shun? Kenapa juga kamu melonggarkan dasimu, kamu jadi
terlihat tidak rapi, Shun… kamu denger aku nggak… Shun!!” Shun tidak
memperdulikan Narumi, Narumi terlihat kesal. “ Shun~… apa perlu aku perbaiki
dasimu?”Shun tidak bergeming. “Sora Chan!”
“Eh! Ya Senpai!”
“Perbaiki dasi Shun… kamu bisa
kan?” Narumi yang tadinya terlihat mengerikan spontan langsung bersuara lembut
ketika meminta Sora merapikan dasi Shun, Sora jadi tidak bisa menolak.
“Eh..eh… yah..ba baiklah Senpai” Tanpa
berfikir panjang Sora segera duduk menghadap ke arah Shun yang duduk tepat di
sampingnya. Dengan tangan gemetar Sora meraih dasi Shun, Shun yang sedari tadi
terdiam pun menjadi bereaksi.” Hoi!! Apa-apaan ini!” Dia mencoba untuk
menghindari tangan Sora meraih dasinya,” Narumi!” Shun terdengar geram, Narumi hanya
tersenyum, dia terlihat begitu menikmati tingkah Shun.
“Maaf…” Sora seperti sedang
menerima tugas, mukanya serius sekali. Shun yang merasa terdesak memegang tangan
Sora tepat setelah Sora berhasil meraih dasinya,”A-aku bisa sendiri!” Dia
melihat Narumi yang sekarang tersenyum menang. Sora yang tidak mengerti dengan
keadaan ini, hanya mengikuti perintah yang diberikan, dia pun segera duduk
sempurna. Shun merapikan dasinya dengan kesal. Dia tidak suka kalau Narumi menertawakannya.
Setelah itu, Narumi terus
cekikikan. Shun masih terlihat kesal sedangkan Sora cuma terdiam.
“Ah! sudah sampai! Aku turun dulu,
terima kasih Kak Narumi.” Sora segera turun dari mobil dan memberikan salam
hormat ke Narumi.
“Sampai jumpa Sora Chan!!” Narumi
tersenyum manis, tapi… waktu melihat Shun yang cuek Narumi pun menendang kaki
Shun yang duduk di depannya, memberikan aba-aba supaya Shun mengucapkan sesuatu.
Shun hanya menghela nafas,”have a nice
day,” Shun mengucapkannya tanpa memandang Sora. Narumi nampak kesal
dibuatnya. Sora hanya tersenyum kecil. Limosin itu pun melaju meninggalkannya.
“Kamu itu benar-benar tidak bisa bersikap
manis ke perempuan, pantas saja kamu susah mendapatkan pasangan.”
Shun menguap walaupun tidak
mengantuk, kata-kata Narumi bahkan tidak digubrisnya.
“Apa Narumi sangat menyukai aniki?” Tanya Shun sebaliknya tanpa
menatap Narumi, matanya masih tetap menatap luar jendela.
“Ya.. tentu saja.. kenapa?? Kenapa
kamu tiba-tiba menanyakannya?” Narumi nampak antusias menjawab pertanyaan dari
Shun, tapi Shun tidak menjawab
pertanyaannya, Narumi jadi sungkan untuk bertanya lebih lanjut.
Narumi menjadi bingung harus
bagaimana, tiba-tiba dia mengingat sesuatu,“Ah!! hampir lupa, aku menemukan ini
kemarin tertinggal di apartemen Youji Kun, aku rasa ini punyamu…” Narumi
menyerahkan sebuah bungkusan ke Shun. Shun memperhatikan bungkusan itu.
“Kalungnya bagus, kamu pintar juga
memilihnya. Hanya saja, kenapa kamu harus membeli dua, apa itu tidak terlalu
boros… kalau kamu ragu mau pilih mana, kenapa tidak tanya aku saja?”
Shun segera merampas bungkusan itu
dikeluarkannya isinya dan diperhatikan kedua kalung itu. Melihat reaksi Shun,
Narumi menjadi bingung. Tingkah Shun seringkali tidak dipahaminya.
“Aku rasa, yang kiri lebih cantik…”
Narumi tersenyum memandangi kalung yang dipegang oleh Shun, Shun memperhatikan
Narumi, kembali perasaan kesal itu muncul. Tidak, kalau seperti ini, dia tidak
bisa sekolah, pikirnya. “ Aku turun di sini…”
“Memangnya kenapa?” Shun tidak
menjawab pertanyaan Narumi, dia turun begitu saja.
Shun benar-benar kesal, sedari
kecil dia bercita-cita menjadikan Narumi istrinya, tapi Narumi juga sedari
kecil sudah menyukai Youji. Berkali-kali Shun mencari pengganti Narumi, tapi
dia tidak menemukan seorang pun yang dapat menandingi Narumi untuknya. Kalaupun
sebelumnya dia pernah mengejar-ngejar Haruna itu karena Narumi pernah
mengatakan kalau Haruna itu manis, kalau tidak, dia tidak ada niat mendekati
gadis itu. Tapi, saat gadis itu lebih memilih mantan-nya, tetap saja Shun kesal
dibuatnya.
Hari itu Sora tidak bisa
berkonsentrasi mengikuti kelas, entah kenapa jantungnya masih berdebar semenjak
tangannya di pegang oleh Shun, tidak…lebih tepatnya di genggam, kembali mukanya
memerah.
“So..ra..? kamu baik-baik saja?”
Mei ternyata memperhatikan tingkah laku anehnya sedari tadi.
“Eh?” Sora akhirnya tersadar,” Ah…
aku baik-baik saja.” Sora tersenyum kecil. Dia masih bingung dengan Shun, apa
yang sebenarnya ada di pikiran laki-laki itu. Tapi… tingkah canggung-nya tadi
benar-benar imut, Sora sampai beberapa kali senyum-senyum sendiri.
Sepanjang hari, Sora tidak bisa
melepaskan memori tadi pagi dari ingatannya. Dia masih tersipu-sipu malu setiap
mengingat momen itu. Mei hanya menggeleng-gelengkan kepala memperhatikannya.
“Eh?? Ada apa di gerbang sekolah,
ramai banget!” Mei berlari menuju ke gerbang sekolah mengecek apa yang terjadi,
meninggalkan Sora yang masih asik dalam lamunannya.
Sora terus berjalan tanpa menyadari
keramaian yang semakin lama semakin didekatinya, dia terus berjalan lurus ke
depan, tidak menoleh ke kiri dan ke kanan.
Dia bahkan tidak sadar kalau ada yang memanggilnya sedari tadi.
“Hoi!” orang yang memanggilnya sedari tadi sekarang
berdiri tepat di hadapannya, membuat langkahnya terhenti. Orang yang berdiri dihadapannya
ini nampaknya sangat tinggi, Sora bahkan hanya setinggi pundaknya.
Saat dia mendongak ke atas mencoba memperhatikan wajah orang tersebut, spontan
dia mundur sambil terbelalak.
Shun tidak menampakkan reaksi apa
pun melihat tingkah aneh Sora, dia bahkan tidak peduli dengan suara ribut para
gadis di sekelilingnya. Keberadaannya sebagai siswa laki-laki di sekolah
perempuan tentu saja membuat histeris, apalagi Shun memiliki tampang yang bisa
membuat mereka semua terpikat.
“Ini… “ Tanpa basa-basi Shun
menyerahkan sebuah kotak ke Sora.
Sora segera tersadar melihat kotak itu, melihat adegan itu, semua anak gadis berteriak histeris penasaran apa itu. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Sora mencoba mengecek isi kotak tersebut, dan benar… kotak itu isinya kalung yang dibeli oleh Youji. Semua yang melihat kalung itu, semakin histeris.
Sora memandang Shun mau berterima kasih, tapi sebelum dia sempat mengucapkan ucapan “terima kasih” itu, Shun menambahkan,”Apa kamu mau aku memakaikannya?” Sora sontak menelan ludah, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Di satu sisi dia ingin menolak karena itu bukan kalungnya, tapi… ini adalah tawaran yang menggiurkan. Sora tidak sanggup menjawab, dia terus memandang Shun tidak percaya.
“Ada apa ini?” pikirnya dalam hati. Shun lalu mendekatinya, dan dengan mantap memasangkan kalung itu di leher Sora, semua gadis berteriak histeris, iri. Sora sampai menutup matanya karena malu.
Sora segera tersadar melihat kotak itu, melihat adegan itu, semua anak gadis berteriak histeris penasaran apa itu. Tanpa memperdulikan sekelilingnya, Sora mencoba mengecek isi kotak tersebut, dan benar… kotak itu isinya kalung yang dibeli oleh Youji. Semua yang melihat kalung itu, semakin histeris.
Sora memandang Shun mau berterima kasih, tapi sebelum dia sempat mengucapkan ucapan “terima kasih” itu, Shun menambahkan,”Apa kamu mau aku memakaikannya?” Sora sontak menelan ludah, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Di satu sisi dia ingin menolak karena itu bukan kalungnya, tapi… ini adalah tawaran yang menggiurkan. Sora tidak sanggup menjawab, dia terus memandang Shun tidak percaya.
“Ada apa ini?” pikirnya dalam hati. Shun lalu mendekatinya, dan dengan mantap memasangkan kalung itu di leher Sora, semua gadis berteriak histeris, iri. Sora sampai menutup matanya karena malu.
Shun terkekeh, Sora akhirnya membuka
matanya.
“Kamu pikir dengan memakai kalung cantik kamu akan terlihat cantik?” Shun mencibir dengan tampang menyebalkan.
Sora tersentak, Semua gadis tiba-tiba terdiam. Shun mendekati Sora, Sora terdiam tidak bergeming,”Aku tidak akan tinggal diam, kamu tidak akan bisa mengelabuiku, hah…seharusnya kamu sadar dengan tampangmu…” Bisik Shun, dipandanginya Sora dari ujung kaki sampai rambut, lalu dia tersenyum sinis, senyum yang membuat Sora merasa benar-benar terhina.
Lalu setelahnya, Shun pergi meninggalkan Sora yang masih terdiam membisu dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Para gadis memandangi Shun dengan terbelalak, tidak ada yang memahami apa yang terjadi.
“Kamu pikir dengan memakai kalung cantik kamu akan terlihat cantik?” Shun mencibir dengan tampang menyebalkan.
Sora tersentak, Semua gadis tiba-tiba terdiam. Shun mendekati Sora, Sora terdiam tidak bergeming,”Aku tidak akan tinggal diam, kamu tidak akan bisa mengelabuiku, hah…seharusnya kamu sadar dengan tampangmu…” Bisik Shun, dipandanginya Sora dari ujung kaki sampai rambut, lalu dia tersenyum sinis, senyum yang membuat Sora merasa benar-benar terhina.
Lalu setelahnya, Shun pergi meninggalkan Sora yang masih terdiam membisu dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Para gadis memandangi Shun dengan terbelalak, tidak ada yang memahami apa yang terjadi.
***
Bersambung…
Minggu, 06 Oktober 2013
Ketakutan Doni
Hidup Doni benar-benar hampir sempurna
beberapa tahun terakhir ini. Akhirnya, 3 tahun terakhir ini dia bisa merasakan
nikmatnya menjadi sorotan. Tidak seperti sebelumnya, Doni sangat menikmati
perannya sebagai buah bibir setiap saat. Oleh karenanya, senyuman di bibirnya
tidak pernah hilang menghiasi hari-harinya. Tanpa usaha yang berarti dia bisa
mendapatkan teman yang banyak. Tanpa mengeluarkan kata-kata gombal, laci
meja-nya sudah dipenuhi oleh amplop-amplop berwarna pink atau terkadang penuh
dengan gambar “love”. Hidup Doni benar-benar mulus tanpa cela. Yah… dia sangat
menikmati masa-masa SMP-nya.
Hari ini adalah hari pertama Doni
menjadi anak SMA. Dengan celana panjang abu-abu, Doni tampak lebih gagah.
Rambut yang sekarang dipotong cepak membuatnya terlihat lebih keren. Doni
benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menikmati masa SMA-nya yang akan dia
jalani sebentar lagi.
“Doni!! Wah, kamu tambah gagah aja!”
Raka terlihat begitu bahagia melihat Doni, teman duduknya itu memang fans berat
Doni.
Di samping Raka, berdiri Dimas, Reno dan
Hadi dan… mata Doni tak henti-hentinya menatap seorang gadis cantik yang
berdiri tepat di belakang Hadi.
“Woi!! Liat apaan sih! Kamu naksir aku
yah?” Hadi sok centil menepuk Doni layaknya banci kaleng. Raka, Dimas dan Reno
tertawa melihat tingkah Hadi, tapi Doni meresponnya dengan tampang geli dan
sedikit kesal karena Hadi mengalihkan perhatiannya.
“Doni? Kamu Doni Anggara?” Gadis cantik
yang tadinya menarik perhatian Doni, tiba-tiba menghampiri Doni dan membuatnya
serta keempat sahabatnya terbelalak membisu.
Gadis ini benar-benar cantik, tak pernah
Doni melihat gadis secantik ini sebelumnya. Kulitnya mulus dengan warna kuning
langsat yang tidak pucat. Badannya tidak terlalu tinggi, tapi… tubuh mungilnya
membuatnya terlihat manis. Rambutnya yang ikal dikuncir manis ke samping.
Bibirnya yang mungil membuat senyumnya nampak sangat memikat.
“Ah..eh i-i-iya… apa kita pernah ketemu
sebelumnya?” Doni tanpa sadar ternyata sangat gugup sampai jantungnya berdegup
cukup kencang.
Gadis itu hanya tersenyum, dia
menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lembut. “Tapi… aku tahu kamu, hmm…”
“Risa!!” terdengar suara gadis lain
memanggil dari kejauhan. Gadis manis tadi menoleh dan melambai-lambaikan
tangannya dengan semangat.
“Maaf… aku harus pergi… bye… Doni…” Doni
dan ketiga sahabatnya seperti tidak berkedip menatap Risa, senyum menawan Risa
seperti sudah menghipnotis 3 bocah baru gede itu.
***
Setelah hari yang begitu mendebarkan
itu, Doni tidak pernah lagi melihat gadis itu selama masa orientasi sekolah.
Semangatnya ke sekolah menjadi menurun, untuk pertama kalinya setelah sekian
lama dia menjadi uring-uringan ke sekolah.
“Sepertinya rumah Pak Irwan bakalan
nggak kosong lagi.” Ibu Doni mengawali sarapan dengan pembicaraan yang membuat
Doni menjadi tak selera makan.
“Mak-maksudnya? Apa Pak Irwan balik lagi
bu?” Doni seketika itu menjadi mual.
“Entahlah, hanya saja kemarin Ibu lihat
ada mobil yang parkir di depan rumah itu.”
Doni benar-benar tidak bisa lagi
melanjutkan sarapannya, perutnya tiba-tiba saja menolak untuk diisi. Dia
bergegas mengambil tas-nya sembari mencium tangan kedua orang tuanya, dengan
senyum dipaksakan dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Doni memandangi rumah kosong yang berada
tepat di samping rumahnya. Sudah 3 tahun inii rumah itu dibiarkan kosong tanpa
ada penghuni pengganti. Tiba-tiba memori yang berusaha dikuburnya sekelebat muncul, segera dia berusaha
mengusir memori tak sedap itu.
Tidak…
dia tidak mungkin balik lagi… tidak…
Doni berusaha melewati rumah itu tanpa
meliriknya sedikit pun, sudah 3 tahun dia berusaha sekuat tenaga untuk
melupakan setiap memori yang pernah dia lewati sebelumnya.
“Doni!” Suara yang nampaknya tak asing
memanggilnya. Anehnya, suara itu sepertinya berasal dari rumah kosong yang
berusaha dihindarinya.
Bulu kuduk Doni seketika itu berdiri,
dia diam terpaku, ingin rasanya kakinya melangkah tapi tak tahu kenapa terasa
sangat berat sekali untuk digerakkan.
“Hei!!” Sebuah tangan menepuk pundaknya
dari belakang.
Sontak Doni berteriak dan tanpa menoleh
ke belakang, dia mengambil langkah seribu. Tak seperti biasanya, Doni nampak
sangat lusuh hari ini. Keringatnya bercucuran, membuat sekujur tubuhnya basah.
Penampilannya benar-benar tidak seperti biasanya. Mukanya yang biasanya cerah
pun hari ini terlihat mendung. Dia terlihat sangat payah, image keren Doni
benar-benar luntur saat ini.
”Wah… ada apa dengan pangeran tampan
kita hari ini, sepertinya ada masalah serius nih.” Reno menggoda Doni, tapi Doni
tidak menampakkan reaksi sedikit pun.
“Jangan diganggu, kamu nggak lihat
wajahnya. Dia seperti baru saja melihat hantu. “ Hadi memperhatikan wajah Doni
yang sangat tegang.
“Baiklah anak-anak… kembali ke tempat
duduk kalian, kita akan memulai pelajaran matematika untuk hari ini.”
Mata pelajaran yang paling disukai Doni
terasa sangat lama pagi itu. Doni bahkan tidak memperhatikan apa yang
disampaikan oleh Bu Leli. Dia benar-benar susah untuk berkonsentrasi, tanpa
bisa di bendung lagi memori buruk itu bermunculan tanpa kendali.
Menjelang malam, suasana hati Doni
semakin memburuk. Lampu kamar di rumah sebelah yang dulunya kosong sekarang
menyala dan terlihat bayangan orang di
dalamnya. Doni merinding. Apa benar dia
sudah kembali? Katanya dalam hati. Pikiran tak menyenangkan yang sedari
tadi pagi mengganggunya terus saja bermunculan.
***
Besoknya Doni berangkat agak siang, dia
kesusahan tidur tadi malam sehingga Ibunya harus menyiramnya supaya dia
tersadar. Dia tidak terbiasa bangun kesiangan dan tidak terbiasa berjalan dengan
langkah cepat. Dengan kesal dia merapikan dasinya yang berantakan. Rambutnya masih
basah dan belum sempat disisirnya. Penampilannya benar-benar urakan.
“Doni! Tunggu!” Langkah Doni terhenti.
Suara tak asing yang sebelumnya pernah memanggilnya dari arah rumah kosong itu
sepertinya mencoba mendekat. Langkah kaki orang itu semakin lama semakin dekat.
Doni baru saja akan berlari tapi dia mengurungkan niat setelah melihat siapa si
pemilik suara.
“Apa kamu mau ninggalin aku lagi seperti
kemarin?” Senyum manis Risa melumerkan suasana hati Doni yang tidak baik dari
kemarin. Menyadari kalau ternyata suara yang kemarin menyapanya adalah Risa membuatnya
bisa bernafas lega.
“Jadi… kamu tetangga baru ku?” Doni
akhirnya dapat menyunggingkan senyum.
“Iya… maaf aku belum sempat berkunjung
ke rumahmu. Orang tuaku baru datang besok, aku sekarang hanya tinggal dengan
pembantuku.”
“Syukurlah ternyata tetangga baruku itu
kamu,” Doni menghembuskan nafas penuh kelegaan. Beban berat di pundaknya lenyap
dalam sekejap. Saking leganya, dia hampir lupa kalau bel masuk tinggal 10 menit
lagi. Langsung tanpa pikir panjang, diraihnya tangan Risa dan mereka berlari
sekuat tenaga menuju ke sekolah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Cie..cie..ada yang lagi berbunga-bunga
nih ceritanya,” Raka menyikut kepala Doni.
“Aw..hahaha… sakit Raka…” Doni mencoba
melepaskan tangan Raka, tapi sebenarnya dia tidak terlalu memperdulikan tangan itu, karena
pikirannya dipenuhi oleh Risa.
“Akhirnya muka suram kemarin sudah
berubah cerah lagi, syukurlah…”Hadi tersenyum simpul sambil mengambil tempat
duduk tepat di depan tempat duduk Doni. Doni hanya membalas dengan tersenyum.
“Nah… kalau wajahmu kayak gini kan
jadinya enak dilihat…” Reno mengacak-acak rambut Doni. Doni hanya tertawa
menerima setiap perlakuan teman-temannya kepadanya.
“Hei!! Hei !! hei!! Perhatian teman-teman!!
Kita bakalan dapat anak pindahan!!” Dengan nafas yang masih tersengal, Mika berteriak
dengan semangat, menghentikan setiap aktifitas di dalam kelas saat itu.
“Oh ya?? Cewek apa cowok?? Ganteng nggak?
Cantik nggak?” Setiap orang terlihat memberikan reaksi dan pertanyaan yang beragam,
Mika sampai kewalahan.
TOK TOK TOK… “Tenang anak-anak!!!” Bu
Leli memukul-mukul papan tulis membuat perhatian menjadi terpusat ke arah
sumber suara.
“Eheem…baiklah anak-anak, jadi hari ini
kalian kedatangan teman baru. Lisa?” Bu Lelii memandangi pintu kelas, setiap
mata pun akhirnya ikut terpusat ke sana.
Sebuah kepala mendongak dari pintu
kelas, bersamaan dengan itu semua mata merasa begitu menyesal telah memusatkan
perhatian ke sana, semua… kecuali…Doni. Dengan mata terbelalak, tanpa berkedip Doni
melihat gadis bernama Lisa itu memasuki kelas dengan cekikikan memamerkan kawat
giginya yang menyembul.
Tak ada yang menarik dari gadis ini,
rambutnya dikuncir dua seperti candy-candy.
Tampangnya sok imut, tapi mungkin lebih tepatnya dibilang dummy, dia selalu cekikikan dan memutar-mutar poninya dengan
telunjuknya. Matanya nanar melihat ke sekelilingnya. Matanya ditutupi oleh
kacamata tebal, membuat penampilannya tak menarik sedikitpun.
“Salam kenal semuanya!! Namaku Lisa
Irwan, aku baru pindah dari Inggris.” Lisa memamerkan giginya yang dipenuhi
kawat gigi. Senyumnya benar-benar membuat perasaan tidak nyaman.
“Eh?” Lisa tiba-tiba termangu,
pandangannya lurus tertuju ke posisi dimana Doni duduk. Seketika itu, Doni
merinding.
“Kita sekelas!!” Senyumnya lebih merekah
dibandingkan sebelumnya,”Downy!!” Semua mata serentak menatap Doni, Doni saat
itu juga ingin sekali membuka jendela yang berada tepat dii sampingnya dan
terjun bebas, tapi… itu adalah pikiran terkonyol yang tak mungkin dia lakukan.
“Oh kebetulan sekali…Kamu mengenal salah
satu dari mereka?” Hanya Bu Leli yang terlihat senang dengan kebetulan tak
menyenangkan buat Doni itu.
Lisa mengangguk semangat tanpa
menghilangkan senyum yang mengerikan itu,” Aku dan Downy satu TK dan SD. Bahkan
selama SD kami selalu sekelas.”
“Ouuh!! Wow!! Sepertinya kalian jodoh
ya?? Hohoho.” Bu Leli lagi-lagi memperlihatkan respon yang menyayat perasaan
Doni. Lisa menunduk malu, terlihat sekali kalau dia senang mendengar perkataan
Bu Leli.
“Eheem, kalau begitu, Downy…” terdengar
suara cekikikan seisi kelas,”ehemm maaf maksudku Doni… kamu Ibu tugaskan untuk mengantar
Lisa berkeliling sekolah, kamu pastinya tidak keberatan kan?” Bu Leli
menampakkan senyum yang terlihat sangat mengerikan, senyum itu seperti berkata,
tolong aku…
Doni tertunduk lemas. Perasaan senang
tadi pagi langsung sirna tanpa bekas. Sepertinya mimpii buruk baru saja akan
dimulai… Doni menghembuskan nafas dengan berat. Dia benar-benar kembali…Apa jadinya masa SMA-ku!!! Arrghhh!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)