Tampilkan postingan dengan label iseng-iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng-iseng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2015

Basa-basi di Pagi Hari...

Здравствуйте....

Menulis...

ini bukan keahlianku... aku sadar akan hal itu... tapi... walaupun begitu, aku tetap ingin menguji kemampuanku, kemana-mana mengirimkan hasil karyaku, tak pasti dan tak tentu, dengan bahasa yang kaku bahkan mungkin sangat menggangu, terkadang ingin rasanya membuat kisah cinta yang pilu tapi ujung-ujungnya malah menjadi kisah cinta yang menggebu-gebu, ada apa denganku? hah... kamu tak tahu apalagi aku, memang susah sih membaca pikiranku, aku sendiri saja seringkali tertipu, selalu berusaha untuk terus maju, tapi malah maju mundur~mundur maju... seperti itu~, yah hidup itu memang begitu, biasanya ambigu dan seringkali tak menentu, sehingga banyak orang bertopang dagu, tak berbicara seharian layaknya orang bisu, tentu saja kebiasaan ini tak banyak membantu, karena duduk temangu tak lantas menyelesaikan masalahmu, malah mungkin saja akan membuatmu terlihat seperti orang dungu, kenapa bisa begitu? yah... mana aku tahu, tiba-tiba saja hal itu terpikirkan olehku, yah sudahlah... kenapa pula kita harus membahas hal itu, hanya membuang-buang waktu membuatku merasa lemah letih lesu, sebenarnya aku telah berfikir cukup keras untuk membuahkan hasil karya yang baru, tapi pada akhirnya aku malah membahas drama terbaru, apa kamu sudah membaca postinganku beberapa hari yang lalu? Ah...kurang menarik buatmu? Oh..oke...anggap saja kamu masih ragu dengan pendapatmu, huhu... paling tidak tulisanku yang tak mutu nantinya akan terlupakan oleh waktu, yah ... siapa tahu saat itu tiba aku telah bisa membuahkan karya baru, karya yang  mungkin saja akan membuatmu terpukau, huhu...apakah kamu ingin menunggu? memang sih akan butuh waktu...tapi bukan berarti aku tak mampu, mewujudkan mimpiku menjadi penulis buku, tentu saja kesuksesanku mewujudkan impianku tergantung dari kesungguhan dan kerja kerasku, kamu setuju? :)

Спасибo :D
...Пока Друзья ...

Kamis, 20 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 3

"Maki!!! Maki!!! Maki!!!" Erika menuruni tangga dengan tergesa-gesa, nafasnya sampai tersenggal-senggal membuatnya sulit untuk memulai kata-katanya.
"Dou shita no?* daijoubu? take ur time, speak slowly..." Maki yang baru saja dari ruang kesehatan lantaran mag-nya kambuh hanya bisa mengerutkan kening.
"ano..."
Mendengar penjelasan Erika, Maki segera berlari ke kelas disusul Erika yang nafasnya masih tidak beraturan.
Sepi... sudah tidak ada razia... terlihat para siswa duduk di sembarang tempat, ada yang bisik-bisik sesama teman, ada yang duduk merenung sendiri, suasanya sungguh... tegang.Maki menyisir sekeliling kelasnya, dia tidak menemukan keberadaan Shota.
"Ah!! Toda chan! Matsuda dibawa ke ruang guru untuk diinterogasi lebih lanjut." Risa mendekati Erika ketika melihatnya di ambang pintu. Langsung saja Maki dan Erika menuju ke ruang guru, dari balik jendela dapat dillihatnya betapa tegang muka Matsuda.
"Apa menurutmu Matsuda akan dipenjara?" Maki menghela nafas.
"entahlah... aku berharap ada keringanan karena bagaimanapun Shota masih di bawah umur." Erika terlihat begitu khawatir, mukanya terlihat sangat tegang, keningnya selalu berkerut, berkali-kali dia menggigit ujung bibirnya, dan kakinya tak henti-hentinya dia hentakkan dengan cepat.
Maki dan Erika secara bersamaan merebahkan diri di dinding, berbagai macam pikiran buruk terlintas di benak mereka masing-masing, sungguh tak disangka masalahnya begini rumit.
Akhirnya pintu ruang guru bergeser, keluar dari balik pintu Shota dengan wajah muram, kepala tertunduk, dan terlihat sekali badannya lemas.
"Shota kun?" Erika memanggilnya dengan sungkan.
Shota menoleh, lemah sekali... matanya sayu, terlihat ada beban berat yang sedang dipikulnya tapi dia tetap memberikan senyum hangatnya ke Erika.
"Gomen ne..." sahut Shota sambil menatap Erika hangat.
Erika tanpa sadar mulai mengeluarkan air mata,"Walaupun a-aku tidak tahu dan tidak mengerti demo.. atashi wa shota kun o shinjite iru* ..." Mendengar pernyataan polos Erika, Shota cuma tersenyum.
"Arigatou...Eri chan ..." Shota mengelus-elus rambut halus Erika, membuat Erika tambah terisak,"Jangan menangis, perbuatanku tidak pantas ditangisi," Shota mengusap air mata Erika.
"Hirokita... maaf... aku titip Erika... sepertinya sebentar lagi jemputanku datang."
Benar, tak berselang lama Shota ditangkap oleh beberapa polisi. Semua mata tertuju padanya, di sepanjang koridor kelas menyembul beberapa kepala di jendela, semua berbisik-bisik sampai terdengar seperti dengungan lebah,Shota hanya menundukkan kepala, hari itu... anak berprestasi kebanggaan sekolah dalam sekejap telah menjadi seorang kriminal, tangan yang terlilit borgol membuatnya nampak buruk.Erika tak henti-hentinya menangis, dia tidak tega memandangi Shota yang digiring polisi seperti itu, dia sembunyikan kepalanya dibalik pundak Maki sambil terus terisak-isak, membuat seragam Maki basah.
"Ada apa dengan dia yah?" pikir Maki.

to be continued...

* Apa yg terjadi?
* Aku mempercayai Shota

Kamis, 06 November 2014

Ada Apa Dengan Dia? part 2

“Bagaimana? Apa ada sesuatu mencurigakan yang kamu temukan?” Erika memandangi Maki penuh tanya, semenjak membuntuti Shota dari toko buku kemarin,Maki menjadi lebih sering melamun.
“ah eh… ano.. hmm … oh ya aku lupa… aku belum mengerjakan PR matematika, sepertinya aku harus pulang cepat hari ini, gomen Eri-Chan.”
“Ano… Maki!! Maki chan!!” Erika mengerutkan kening, memandangi Maki yang terkesan terburu-buru dengan perasaan penuh tanya.

Maki mempercepat langkahnya, sedikit khawatir Erika berpikir yang tidak-tidak, tapi dia sendiri juga bingung, seharian ini dia memperhatikan shota namun tidak ada hal mencurigakan yang dapat dia tangkap. Sesekali mata mereka bertemu dan Shota tersenyum padanya, biasa… hal ini sangat biasa… iya kan?

“Hirokita ! Chotto matte!* ”Terdengar suara seeseorang memanggilnya, membuat Maki harus menghentikan langkahnya, ketika ia berbalik terlihat Shota berlari kecil menghampirinya.
“Apa kamu ada waktu? Ada yang ingin aku omongin…” Shota menyunggingkan senyum manisnya, tapi entah kenapa perasaan Maki malah tidak nyaman.
“Hmm mochiron*, kamu mau ngomong apa?” Maki mencoba untuk tidak menunjukkan ketidaknyamanannya.
“Hmm… eto…Apa Eri tau?” Shota menatap Maki lekat-lekat, Maki sampai merasa tercekik.
“Tau? Tau apa? sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak mengerti.” Maki mencoba untuk tetap tenang, seakan-akan dia tidak mengetahui apa-apa.
“Aku hanya takut Eri akan berfikir yang tidak-tidak tentangku, bahkan sebelum aku sempat menjelaskan apa pun.” Shota melepaskan pandangannya ke Maki, dia meluruskan badannya, lalu dengan gaya santai menatap ke sekelilingnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Shota sepertinya tetap percaya kalau Maki mengetahui sesuatu.
“Hmm… hmm… apa kamu selalu melakukan hal itu?” Maki membisiki Shota, rasa penasarannya ternyata membuatnya tidak bisa bertahan untuk tetap berakting tidak tahu.
“Eh… iie..iie… ah… mana mungkin aku… kamu tahu sendiri kalau aku…” Shota tiba-tiba salah tingkah, dia mencoba membela diri tapi akhirnya terdiam ketika melihat Maki yang begitu serius memperhatikannya.
“Haaah… itu…aku… aku tidak selalu melakukannya… aku… Cuma iseng…yah Cuma itu.” Shota akhirnya bisa berbicara lebih tenang, terlihat dia mulai berkeringat. Entah kenapa Maki malah menjadi semakin semangat menginterogasinya.
“Apa menurutmu itu bisa dianggap biasa? Iseng? Hah… tapi… aku merasa apa yang kamu lakukan kemarin bukanlah sesuatu yang kamu lakukan satu atau dua kali, menurutku itu sudah menjadi kebiasaanmu.”
“kebiasaan? Hah… apakah itu masuk akal untuk orang sepertiku?”
“Itulah keanehannya… aku tidak habis pikir, anak sepertimu? Kebanggaan sekolah dan orangtuamu? Melakukan hal itu? Huff…”
Shota tanpa basa-basi memegang pundak Maki dengan posisi membungkuk, kepalanya menunduk sambil melihat ke bawah, terdengar suara hembusan nafasnya yang berat,  tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan dengan seius menatap Maki, Maki sedikit tersentak… dia menelan ludah, bisa dilihatnya pantulan dirinya di bola mata Shota yang hitam,” Kamu bisa merahasiakan ini kan?”
Maki terdiam sejenak, ini mengerikan… Shota memang tidak mengancamnya, tapi Maki merasa Shota bukannya “tidak” mengancamnya…hanya saja “belum” mengancamnya.
Maki menurunkan tangan Shota dari pundakknya,”Hmm… aku bukan orang yang suka ngomong sembarangan,  tapi… aku berharap kamu bisa menghilangkan kebiasaan itu, hanya menunggu waktu saja sampai orang tahu, kalau kamu tidak berusaha untuk menghentikan kebiasaan itu, cepat atau lambat…”
Maki belum selesai meneruskan kata-katanya karena ponsel Shota berdering. Shota merogoh ponsel dari saku jaketnya, ketika dia membaca pesan dari ponselnya mimik wajahnya berubah.
“Gomen … aku… harus pergi, arigatou Hirokita…” Terlihat wajah Shota begitu tegang, setelah menepuk pundak Maki sebagai tanda terima kasih dia pun segera berlari seakan ada sesuatu yang sedang menunggunya.

To be continued

Ket:


*Tunggu  
*Tentu saja

Rabu, 05 November 2014

Ada Apa Dengan Dia?

"Huff... sepertinya ini hanya perasaanku saja.."
"Hai! Nande?" Maki sepertinya tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh Erika, ia sibuk merogoh kantong roknya mencari beberapa keping uang untuk membayar makanan yang sekarang menemani makan siang mereka.
"Maki chan! huff..." Erika dengan lemas menopang dagu.
"Hai! hai! gomen! Matsuda nande?" kali ini Maki dengan serius memperhatikan Erika.
"Shota kun akhir-akhir ini aneh..." Kening Erika berkerut, dia seperti memikirkan sesuatu, pandangannya jauh ke sudut jalan, walaupun saat itu Maki duduk tepat didepannya memperhatikan setiap mimiknya.
"Dia... selalu memandangi ponselnya, setiap waktu, setiap saat. rangkingnya pun akhir-akhir ini menurun." Sambung Erika akhirnya.
"Hmm... souka... bagaimana kalau kita buntuti dia.." Maki menyunggingkan senyum meyakinkan, seolah-olah idenya begitu cemerlang.
"Ah...iie iie... nande sore... muri muri*..."
"ah... okashii* ne...maumu sebenarnya apa sih... penasaran tapi seperti nggak mau cari tahu."
"Demo... apa aku harus membuntutinya, aku merasa seperti stalker aja.."
"Erika chan! kamu bahkan belum melakukannya kamu udah merasa stalker...hmmm.. ini bukan hal yang mudah sepertinya..."
"are... Shota kun??"
"Doko..doko...??" Maki melihat ke jalan raya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Shota.
"Dia masuk ke toko buku..." Erika kembali menyeruput minumannya.
"Apakah ini hal yang aneh? atau wajar?"
"menurutmu?"
"Orang masuk toko buku, nggak ada yang salah dengan hal itu, tapi... kenapa kita tidak mengeceknya saja..." mata Maki terlihat berbinar-binar, kegemarannya membaca dan menonton serial detektif membuat rasa ingin tahunya begitu besar.
"Silahkan di cek, aku diam di sini aja... Shota pasti akan sangat kecewa padaku kalau tahu aku membututinya.."
"Hitori?? ah... wakatta kamu tunggu di sini..."
Akhirnya Maki segera menyusul Shota ke toko buku di seberang jalan.
Dengan seksama Maki memperhatikan setiap gerak-gerik shota, tidak ada yang mencurigakan, Shota berjalan mengelilingi rak buku, membuka beberapa buku, membacanya sejenak lalu menutupnya dan mengembalikannya ke tempat semula, begitu seterusnya, sampai...
Maki menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang "honour student" bagaimana bisa melakukan hal ini? Oh no... Maki menjatuhkan beberapa buku di dekatnya, dia begitu terkejut, segera dia bersembunyi, berharap Shota tidak menyadari keberadaannya. Setelah agak lama bersembunyi akhirnya dia mencoba mengecek lagi apa Shota masih berada di tempat tadi.
"Nani shiteru no*?" Seseorang memergoki Maki. Takut itu Shota, Maki menunduk mencoba mencari beribu alasan.
"Gakusei? apa kau yang telah membuat buku-buku ini berantakan?" Ternyata sang penjaga toko, dia memarahi Maki yang telah menjatuhkan beberapa buku dan tidak menatanya kembali.
"Ah... hai! hai! sumimasen deshita! sumimasen !" Tanpa pikir panjang, Maki segera memungut buku-buku tersebut, terdengar lonceng pintu toko buku itu berbunyi, sekilas terlihat sosok Shota keluar dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya ada apa dengan Shota, apa sebenarnya yang membuatnya seperti itu? berbagai macam pikiran memenuhi otak Maki sembari tangannya tetap sibuk memunguti buku-buku yang membuat aksi "membuntutinya" gagal total.Apa aku perlu memberitahu Erika apa yang baru saja aku lihat? ah tidak.. lebih baik tidak.. aku mau cari informasi lebih banyak lagi, jangan sampai aku menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka.Maki terus berfikir dan berfikir, sampai akhirnya buku terakhir selesai dia rapikan.

to be continued...

Ket:
* impossible
* weird
* what r u doing?


Selasa, 14 Oktober 2014

What an ordinary story...

She's sitting right in front of her desk, seriously looking at the monitor of her computer. She has been in that position for almost 8 hours already, she's really tired right now. She's looking at the clock which hanging on the wall, it almost midnight, 5 minutes more will make today become yesterday. She's yawning, she feels that her eyes are getting hard to open, oh no she will fall asleep, she can't do that, no... she should not even think about that. She's trying to move her legs, oh...crap...she can't move them. She looks around and around...but there's no one around. It's only her in that office room tonight, lonely... cover by the darkness where the only light is coming from her messy desk. Huff... her mug is empty she just realized it, and when she checks what inside her desk drawer, unfortunately, nothing left besides dust. Sigh... she just too weary even for to  get up and take water. Suddenly her phone is ringing, but she doesn't know where she put it. Her ringtone sound fills up the room, very noisy for a quiet room.
"Hello.."
"Laura?! Where r u?"
"Well.. I'm still in the office, why?"
"Why? how could u ask me why I call u?"
"Ok.. Tom, I'm sorry but I think I will stay up all night here, there are still a lot of things to be done, I haven't finished yet."
"Wait... r u alone? or..."
"I'm alone... why?" 
"Hmm... " Tom paused, silent for a moment."Oh, nothing... never mind, but I think u should go home, you want me to pick u up?"
"I told u I still have many things to do... and everything must be done today."
"But.. u can do it at home... why u must force urself doing it alone there."
"What happen to u, oh c'mon I really tired I will hang up this phone if u asked me to get home again."
"Ok... Fine... should I accompany u?"
"If u wish, well at least I need someone to talk to anyway... oh yeah please buy me food."
"Alright, take care... I'll be there ASAP. bye.."
"Ok... bye.." 
 Laura giggling, she feels so relieved, even though Tom was annoying sometimes, but he always there for her in the right time. Yeah, the right time... 
Without her knowing, someone has been watching her all day-- Robert-her co-worker who truly admires her. 
***
Tom really come so fast, his hands are full with many kinds of foods. Wow... Laura is so impressed by him, she gives grateful smile to him. 
"You can't sleep?" Laura begins to eat the pizza alone.
"Of course, how can I have a good sleep when you're outside."
"Oh dear, you are so lovely kid,  mom and dad must be proud of you."
"Stop talking, just eating, how could you speaking while eating, very not u."
"Oh really, wow... am I that adorable for ye?" 
"Give me a break, I just don't like seeing u like other girls."
"Other girl? Ah...you have a crush on someone?...tell me who is she...c'mon."
Robert who doesn't know what those two are talking about, feeling disturb and jealousy... he always watching Laura and this is the first time he sees Laura smiling and talking so happy with a man. Who's that man?? He never saw him before, never... 
"Giorgina... I met her in Liverpool, in Harry's wedding, but I never see her again after that."
"Why?... you don't exchange number?"
"Nope... hmm I don't think about that, and I think she has a guy."
"Ouch.. Sounds not good, hmm but well ... here is London, there are still a lot of cute girls around here."
"Yeah... just finish your eating, you don't forget your work, don't you?"
"Ouh Yeah... right.."

Since Tom beside her, Laura feels her strength come back. Tom sometimes corrected her typing, so helpful for her to keep concentrate. Meanwhile, Robert feels more uneasy and more uneasy... Laura and that man are too close, they must be a not just friend, it seems like they are lovers... no... no... Laura doesn't have a Bf, He knows that He had looked for any information about Laura, But... but... is that already all the information? did he miss something?!Aarrrghhh!! What the heck!! Who Is That MAN!!!
"You know that I just have 3 days at home but you aren't home, it's really boring."
"Sorry... but I really can't avoid this, I promise this is the last time I stay up all night outside a home."
"I think ur currently job spent much of ur time, why you must working here, I have a better job for ya.."
"I know I will work for ya, but I really enjoy what I'm doing right now.."
"Just don't force urself, you don't want ur face wrinkled faster, don't you?"
Laura doesn't really pay attention to what Tom's said, her eyes keep on the computer screen, trying to keep focus, but it looks like Laura can't hold herself to reply Tom.
"What r u talking about, stop teasing me... don't u realize how cute I am?"
...
"Tom? why r u silent? I am asking u..."
"Yeah, of course, you are very adorable." reply slow deep voice.
"Oh yeah Thank u, finally u admit it, haha...hmm why ur voice change?" 
"My voice never change..."
"Oh yeah... of course...Oh no...!!! argh!!... I did it again... huff  I think I need more water, could u take water for me please..."
...
"Here..."
"Thanks... oh yeah Tom, how do u think about this, is this make sense?"
...
"Hey.. c'mon... I'm waiting... why u take so long think about this simple thing..."
...
"Why u always call his name!! is he that special for u!!?"
Laura startled, she stops her typing but she afraid to turn her back. "Who r u? Where's Tom?"
"TOM...TOM...TOM... !!!! I hate to hear that name!! ..." He takes a deep breath and exhales it loudly,"I've stabbed ur guy, dunno he is still alive or not?"
Hearing that makes Laura get up on her chair and screw up her courage to face that strange voice. Her eyes wide open seeing who has that terrifying voice. Robert?! the wimpy? 
"Su--ur--ppri-prise!!" Suddenly Robert nervous, looking at Laura's eyes so closely.
Laura stares at Robert without blinking, in dim light, she can see Robert's hand that holding something, but it's not clear what it is. 
"Where...where is my brother?"
"B-brother? who--who is ur b-brother?"
"Tom... Tom is my twin...you said you stabbed him, where-is-he--now!" Laura's voice trembling.
"T--t--twin?!! hahaha... ur t-twin? r u kidding me!! how come he could be ur twin?? is he??" 
"Yes, He is, He is my lovely twin, why? Why you did it to me!! how could u! what I've done to u? Where is he!! tell me!!"
Robert stands up still, bite his lips--anxious.
"Laura? Why r you shouting?" Laura turns her head, someone standing behind her, but it's too dark, she can't see him clearly.
That man approaches her until light from her desk reach him. Laura blinking her eyes rapidly, then rub her eyes, then slap her cheek," Ow..."

"Hey... what r u doing, what happen to u? why u hurt urself?" Tom immediately grab Laura's hand to stop her strange action.
Laura staring at Tom deeply and then she hug her brother tightly and soon she burst into tears."Please don't leave me!! hu hu hu..."
Tom who doesn't understand and really confuse let her sister crying until her feeling gets better.
"Are u ok? you will make me freezing in this cold night if you're not stop crying in my t-shirt."
"Hush... is your fault if you're freezing, how could ur big body so weak."
"Oh, c'mon even the superhero will freeze if their costume is wet in the cold weather."
Laura keep smiling, it makes Tom frown. "alright... so what happen to u earlier?"
_role_story__little_kanda_twins_by_laxye-d5nqhgi.png (1800×1471)Laura think for a while, she looks her around trying to look for Robert, but Robert had vanished, she even  not sure with what happen to her earlier, is it real or just her imagination. The most important is, Tom is standing in front of her right now... again she hug Tom tightly," so where are you earlier?"
"I went to the bathroom, it takes a long time to find it when all the lights off."
"You r not scared? u know that ... the bathroom is where the spooky things usually exist."
"I'm not scared of all that things, I am more scared hearing you shouting like a crazy granny."
"What!! ahh!! feeling it..feeling it... you naughty kiddo!!!! Laura hit Tom repeatedly while laughing.
"Aw.. aw.. Laura!! hey!! stop it... hey granny!!"
"What !! how dare u still call me that!!.. I think I have to shut up your mouth!! hahaha!!"
"Hey!! stop it... what the heck!! hey!! you are a woman, hey!! where u get that smell!! mine not that bad?!"
"Really? how come ur armpit has better smell than mine?"
"Wanna try?"
"Oh No!! What is this!! OH no!! no!! I need a fresh air!! HELP!!!"

***

Laura and Tom's Voices fill up the office room, they are laughing and playing hit and run like children.

Inside the deep darkness standing Robert watching that sibling, he smiles and feels so relieved that Tom is just Laura's twin. But He's afraid his stupid lied back then will make Laura doesn't want to talk to him anymore, however, he wish that Laura didn't remember that stupid thing. It was really stupid, the jealousy made him said a scary thing. Stabbed?? the wimpy kid like Robert even can't kill cockroaches. Well yeah... maybe Robert has to be more patience, it really needs the courage to ask her out. Robert holding two movies tickets and squeezed it tightly... 

***

FIN

Minggu, 07 Juli 2013

Huuff~ Warm and Fuzzy


Rani berpikir keras melihat tumpukan baju di atas ranjangnya. Sudah hampir 1 jam dia membongkar lemarinya, mengeluarkan hampir seluruh isinya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa nggak ada baju yang pantas dipakainya.
“Sampai kapan kamu mau memilah-milah bajumu…” Ilma yang sedari tadi memperhatikannya akhirnya berkomentar.
“Ah..oh… hmm … menurutmu yang bagus yang mana yah MaChin, yang biru? Ungu? Pink? Hijau? Kuning? Merah?---“
“Stop!!... aku rasa yang ini cantik, modelnya simple tapi menarik, lagipula ini bukan kencan kan? Kenapa kamu harus sibuk memilih baju seperti orang yang mau kencan..”
Rani cengengesan, sesuai dengan saran Ilma dia akhirnya memutuskan menggunakan baju itu.
http://image7.oasap.com/o_img/2013/02/20/26507-151331-home/Apricot-Lace-Detail-Dress.jpg“Bagaimana?” Rani membolak-balikkan badan memamerkan dandanannya, dengan sepatu high heels plus kaos kaki rumbai yang imut, Rani terlihat manis dengan dress-nya.
Ilma tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya.
06.00 pm
Tepat pukul 06.00 Rani sudah sampai di café yang dituju, tapi dia nggak langsung masuk, entah kenapa tiba-tiba dia menjadi ragu.
Tapi… setelah 15 menit merenung nggak jelas di pintu depan, dipandangi oleh-orang-orang yang lalu-lalang, akhirnya Rani risih juga dan memutuskan untuk masuk.
Café x sangat ramai hari itu, Rani sampai mendongak cukup tinggi dan sedikit berjinjit mencari keberadaan Jinki. Ternyata sosok JinKi tidaklah sulit ditemukan. Tapi… Rani sempat tertegun karena anak itu mengenakan seragam sekolahnya, melihat itu Rani merasa konyol sekali. Sempat dia berfikir untuk pulang, tapi… saat dia akan berbalik tanpa sengaja dia bertubrukan dengan salah seorang waitress.
“Ah… maaf… anda tidak apa-apa?” Waitress itu merasa sangat bersalah melihat baju Rani yang sekarang telah kotor terkena saos yang tadi dibawanya.
Rani hanya melongo melihat bajunya yang sekarang dipenuhi bercak-bercak merah, dia hanya menghela nafas,” Ah…  tidak apa-apa, lagipula tadi itu salahku juga.” Memaksakan diri tersenyum, Rani tidak ingin memperbesar masalah ini. Waitress itu masih merasa bersalah, tapi Rani memberikan kode kalau dia sama sekali tidak apa-apa. Melihat kostumnya yang sudah nggak mendukung, Rani semakin mantab untuk bergegas pulang.
“Nuna?” Ternyata sedikit keributan tadi, menarik perhatian JinKi. Sekarang dia berdiri tepat di belakang Rani.
Dengan berat hati Rani membalikkan badan sambil menunduk.”Bajuku kotor, aku rasa aku pulang saja.” Tanpa mendengar respon dari JinKi dan tanpa memandanginya, Rani membalikkan badan lagi dan bersiap untuk pergi tapi JinKi menarik tangannya.
“Tunggu!! Huff ~ ,” JinKi membuka jas sekolahnya dan memakaikannya ke Rani.” Apa ini bisa menutupinya?” JinKi menggigit bibirnya ragu-ragu menatap Rani menunggu reaksinya.
Rani yang masih menunduk semakin nggak ingin mengangkat wajahnya, mukanya benar-benar panas, mungkin sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
“Maaf Nuna kalau aku sedikit memaksa, tapi—“
Rani bergegas keluar dari café, JinKi yang belum menyelesaikan kata-katanya spontan mengikutinya.
“Nuna!! Nuna!! Nuna mau kemana?”
Rani menghentikan langkahnya, menghela nafas, membalikkan badan dan mulai menatap JinKi.
“Huuff~ kita bicara di sini saja.”
“Tapi di sini nggak ada tempat untuk duduk,” JinKi memandang sekelilingnya, jalanan saat itu lumayan padat.
“Yah… kita ngobrol sambil jalan.” Rani mulai melangkah lagi, dia nggak ingin JinKi melihat wajahnya yang memerah.
“Eh?!” JinKi masih belum setuju, tapi dia tetap mengikuti Rani dari belakang. Ia akhirnya sampai harus mempercepat langkahnya karena Rani sudah agak jauh mendahuluinya.
***
KiKi membolak-balik halaman buku tentang penyakit hewan yang nggak kelar-kelar dibacanya.
“Aduuh… sebenarnya Manis kenapa sih? Kalau emang hamil kenapa anak-anaknya belum lahir, tapi… kalau dia buncit? Arrggh!! Masa sih kucingku buncit.” KiKi membenturkan kepalanya di atas meja.
“Itai! Bagaimana kamu nggak semakin bodoh kalau kamu doyan membenturkan kepalamu.”
KiKi mendongak melihat siapa empunya suara. Ternyata Furukawa. Dia membawa banyak sekali buku di tangannya, menaruhnya tepat di hadapan KiKi.
“Huuff~ kenapa dia harus muncul di saat seperti ini sih,” KiKi bergumam sambil tetap membenamkan wajahnya di buku.
“Manis sakit?” Furukawa mengintip bacaan KiKi.
KiKi tersentak dan tak sengaja tulangnya berbunyi saat dia berusaha duduk tegak.
“Itai!!” KiKi mengelus-elus tulang punggungnya. Terdengar cekikikan Furukawa.
“Jangan-jangan yang sakit malah kamu.” Masih cekikikan, Furukawa mengambil buku yang sedari tadi dibaca KiKi.
“Bukan urusanmu,” KiKi merampas buku itu dari tangan Furukawa. Masih dengan muka jutek, dia bangkit dari tempat duduknya.
“Mau kemana?”
“Bukan urusanmu.” KiKi menjawab ketus, Furukawa hanya mengernyitkan kening. KiKi nggak peduli.
“Masih marah dengan kejadian kemarin?” Furukawa tersenyum kecil, tapi matanya terpusat pada buku bawaanya tadi yang sekarang mulai dibacanya.
KiKi menatapnya tajam, ingin rasanya dia menghajar wajah sok kalem itu, tapi Furukawa terfokus dengan bacaannya.
“Mau sampai kapan menatapku.” Tiba-tiba Furukawa bersuara dengan nada datar tapi mata tetap pada buku bacaannya.
Mendengar pernyataan itu, KiKi menghela nafas kesal,”PD banget sih! Huh..” KiKi sudah nggak mau ambil pusing lagi, ditinggalkannya Furukawa yang sekarang sudah kembali cekikikan, dia sampai lupa kalau tasnya ketinggalan.
***
Wulan uring-uringan di kamarnya.  Dia ingin sekali ke panti, siapa tahu bisa bertemu dengan JunHyung. Tapi… kalau dia keseringan ke sana, takutnya JunHyung risih.
“Wulchin! Ke panti yuk!” KiKi tiba-tiba saja masuk ke kamarnya dan mendaratkan badannya di atas ranjang Wulan yang empuk.
Wulan hanya melongo melihatnya. Tiba-tiba perasaan galau-nya hilang. Kalau bersama KiKi, pastinya nggak akan terlalu kentara kalau dia ke sana dengan maksud lain.
“Kenapa kamu tiba-tiba yang ngajak, biasanya kamu males banget.” Wulan sedikit sok jaim.
“Huuff~ aku bête aja, mungkin kalau berinteraksi sama kanek (kakek dan nenek) di sana, perasaanku bisa lebih baik.” KiKi cengengesan.
“Bukannya kemarin kamu bilang nggak mau lagi ke sana?”
“Huuff~ itu karena Furukawa ngerjain aku, aku kesel aja. Tapi… aku rasa hari ini dia nggak ke panti, lagian untuk apa dia ke panti. Sebelumnya dia nggak pernah ke panti.” KiKi mencibir.
***
KiKi berdiri lemas, hatinya yang cerah tiba-tiba saja mendung.
“Kamu datang lagi? Mau ngasih pertunjukan apa lagi hari ini?”
KiKi menganga sampai Wulan menutup mulutnya. Sadar dengan tingkahnya, KiKi tidak menggubris Furukawa melainkan menarik Wulan untuk segera menyingkir dari sana.
“ Hei! Kalian datang lagi… hari ini agak telat, aku kira kalian nggak akan datang.” JunHyung menghampiri Wulan dan KiKi, tampilannya hari ini cukup berbeda, membuat Wulan sedikit shock.
Menyadari tatapan heran di wajah Wulan dan KiKi, JunHyung menjadi salah tingkah.
“Hahahaha… ini… aku memakai seragam sekolah karena nenek Haruna kangen ama cucunya yang masih SMA, cucunya sudah meninggal dan di ingatannya hanya cucunya yang memakai seragam, setiap hari senin dia pasti akan mencari cucunya.”
“Setiap hari senin?” Wulan menegaskan.
JunHyung mengangguk sambil tersenyum manis, terlihat wajah Wulan merona.  KiKi sampai menyenggol badan Wulan sambil cekikikan, Wulan menatapnya kesal. Untung saja JunHyung nggak menyadari reaksi Wulan. Mereka pun akhirnya menuju ke tempat nenek Haruna. JunHyung berjalan dengan semangat, dia benar-benar menikmati menjadi sukarelawan di sini. Hampir setiap hari dia datang, tak heran kalau dia menghafal hampir semua nama kanek di sini. Para perawat juga terlihat begitu akrab dengannya, tak jarang mata-mata centil menatapnya, JunHyung hanya membalas dengan senyum, membuat para mata-mata centil tambah kesemsem.
JunHyung benar-benar menikmati perannya, dia seketika itu berubah menjadi anak SMA yang sok manja ke neneknya. Terlihat wajah nenek Haruna begitu bahagia. Wulan tanpa sadar senyum-senyum sendiri menatap tingkah JunHyung yang sok manja dan sok imut. Matanya berbinar melihat JunHyung, menurutnya JunHyung benar-benar sosok yang tidak biasa.
“Nih… kaset yang kamu minta.” Tiba-tiba Furukawa nongol di balik pintu melempar sekeping CD ke JunHyung, dengan sigap JunHyung menangkapnya.
Sambil tersenyum manis ke nenek Haruna dia menyalakan lagu L’arc en CieL kesukaan nenek Haruna. Wulan dan KiKi terbelalak melihatnya, terlihat nenek Haruna begitu menikmatinya sampai ikut bernyanyi bersama JunHyung. Furukawa malah tertawa.
Setelah menyanyikan hampir 3 lagu, nenek Haruna sudah nampak kecapekan. JunHyung akhirnya mengantarkan nenek ke tempat tidurnya dan sebagai penutup menyanyikan lagu nina bobo. Nenek Haruna perlahan-lahan tertidur. KiKi yang mendengar lagu itu ikut terkantuk-kantuk, tapi Furukawa yang menyadari hal tersebut membisikkannya sesuatu yang membuatnya seperti tertampar, rasa kantuknya seketika itu hilang. Di tatapnya Furukawa dengan kesal, Furukawa hanya tersenyum, senyum mengejek.
***
Setelah pertemuannya dengan JYH beberapa hari yang lalu, Ilma menjadi malas-malasan. Sendirian di kantin tak membuat perasaannya tambah membaik. Rani hari ini kumpul dengan klub memasaknya, Wulan seperti orang yang mempunyai dunia lain, tak dapat diganggu. Pergi makan aja ngajaknya minta ampun. KiKi? Dia entah kenapa mukanya nggak bersahabat dari kemarin. Tiba-tiba saja sekelebat wajah si YunHo muncul di pikirannya.
“Huuff~ kenapa aku malah ingat orang itu sih? Padahal orang itu udah jelas-jelas nolak aku.”
“Ilma?” Seseorang menyapanya.
Ilma melihat orang itu sambil memicingkan mata, dia masih setengah tertidur. Sendirian dari tadi membuatnya benar-benar mengantuk. Setelah penglihatannya agak jelas, Ilma begitu terkejut, segera dia alihkan pandangannya, mengeluh karena penglihatannya benar-benar sudah parah. Bagaimana mungkin dia melihat orang di hadapannya ini seperti YunHo, emang YunHo mukanya pasaran.
“Ilma? Aku mau ngomong sesuatu.” Orang ini kembali bersuara.
Ilma menutup matanya sejenak, menepuk-nepuk pipinya dan pelan-pelan membuka matanya.
“Fokus ma..fokus..” Gumamnya.
Kali ini Ilma tak berkedip, kembali dia menatap orang itu, hasilnya sama, orang itu tetap terlihat seperti YunHo.
“Apa aku udah gila!!” Ilma berteriak sambil meremas kepalanya, “Ah… aku butuh udara segar.” Tanpa menghiraukan laki-laki yang sedari tadi memanggilnya, Ilma beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan laki-laki itu melongo melihatnya.
***
Rani tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya melanglang buana tak tentu kemana. Di tatapnya baskom yang berisi tepung di hadapannya. Suara JinKi tiba-tiba kembali terdengar, ingatan percakapan mereka kemarin sore masih terngiang di telinganya.
“Awalnya aku nggak mau cerita, tapi… aku pikir… Nuna perlu tahu. Lagipula aku yang mengawali semua ini, Nuna pasti berfikir macam-macam tentangku. Sekali lagi aku minta maaf dengan lagu yang kunyanyikan saat konser waktu itu.” JinKi mencoba menatap Rani, tapi Rani menghindari pandangannya.
“Aku nggak nyangka hasilnya akan kayak gini, seharusnya aku jujur ama Nuna. Huuff~ aku benar-benar minta maaf Nuna.” Kembali lagi Jinki menatap Rani.
“Perempuan yang kupanggil waktu itu adalah mantan guru lesku jauh sebelum Nuna.”
Tiba-tiba langkah Rani terhenti. JinKi sampai tidak menyadarinya.
“Bisa nggak kamu bicara langsung ke inti?” Rani yang sedari tadi bungkam, akhirnya bersuara.
JinKi menelan ludah, dia menghela nafas berat. Rani terlihat tidak nyaman, dia merasa serba salah. JinKi menatap Rani, di tengah-tengah keramaian mereka berhenti. Orang-orang melewati mereka sambil memberikan pandangan singkat.
“Nuna… aku suka Nuna… itulah intinya.” JinKi terdengar gugup.
Mendengar itu, Rani akhirnya menatap JinKi. Dipandanginya wajah polos JinKi lekat-lekat. “Apa kamu sedang mempermainkan aku? Kalau mau bercanda, aku lagi nggak berminat.” Rani menghela nafas dan kembali berjalan.
“Aku serius Nuna… lagu itu—“
“Huuff~ aku capek, udah… kamu nggak usah jelasin apa-apa. Aku nggak peduli dengan lagu itu… tolong jangan ucapkan pernyataan itu lagi.” Rani menghela nafas,” berapa perempuan yang sudah menerima gombalmu?”
JinKi tertegun,”Berapa? Maksud Nuna?”
“Yah… apa perempuan… tidak… Nuna-mu yang sebelumnya menolakmu, makanya sekarang kamu ngejer aku, berharap aku bakalan nerima kamu?” Suara Rani bergetar, sangat berat rasanya dia mengatakan semua itu, tapi entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tanpa alasan jelas dia sangat kesal.
“Hari itu… sebenarnya aku mau menembak Nuna tapi—“
“Lupakan… “ Rani seperti orang bingung. Dia mencoba menahan air matanya yang seperti ingin segera menyembur keluar. “JinKi… aku tidak suka orang yang lebih muda dariku.” Kata-kata itu keluar begitu saja, Rani bahkan nggak sadar akan mengatakan hal itu. Jelas-jelas jantungnya berdegup kencang kalau JinKi berada di dekatnya. Jelas-jelas wajahnya panas saat JinKi menatapnya, tapi…tapi… apa yang baru saja dia katakan? Rani benar-benar menyesal sedetik setelah mengatakannya. Dengan bergetar dia melepaskan jas JinKi yang sedari tadi dikenakannya.
“Sebentar lagi kamu ujian. Aku nggak ingin memperpanjang masalah ini. Sebaiknya kamu mulai mengatur jadwal belajarmu. Aku kira percakapan kita hari ini cukup sampai di sini.”
Rani baru saja akan pergi, tapi JinKi menahannya.
“Nuna!!” JinKi memanggil Rani dan segera menghadangnya, dia berdiri tepat dihadapan Rani. “Maaf…maaf kalau aku membuat Nuna menjadi serba salah, maaf kalau aku membuat Nuna tidak nyaman, hmm… paling tidak… Nuna mau menerima ini…” JinKi menyerahkan sebuah bingkisan ke Rani. “Maaf…tapi Nuna terlihat manis hari ini…” Sambungnya sambil menunduk. Rani spontan menatapnya, wajah JinKi yang merah karena cuaca yang dingin terlihat semakin memerah. Melihat tatapan Rani, JinKi memalingkan wajahnya, malu. Rani pun menjadi salah tingkah. Malam yang dingin hari itu entah kenapa terasa begitu hangat bagi  JinKi dan Rani.

Bersambung