Kamis, 26 September 2013

Huuff ~ Salah Paham bag.2


 “Hmm… maaf tapi kamu sudah salah paham!” KiKi hari itu dengan berat hati melangkahkan kaki ke panti, berharap dapat menemukan jalan keluar dari masalah yang mengganggunya akhir-akhir ini.
JunHyung menatap KiKi dengan penuh tanda tanya.”Salah paham? Mengenai apa?”
KiKi yang tadinya menunduk saat meminta maaf , mendongakkan kepala melihat reaksi JunHyung. “Hmm… mengenai pernyataan ngawur  yang dibilang Furukawa 3 hari yang lalu, aku…benar-benar minta maaf nggak langsung men-clear kannya.”
“Ooh... mengenai itu…” JunHyung tersenyum kecil,” Salah paham yah?? Hmm… apa kamu berfikir aku menyukaimu?”
KiKi terbelalak mendengar perkataan Junhyung,”Ja-jadi… reaksi waktu itu…?”
JunHyung tertawa, ini untuk pertama kalinya KiKi melihat ekspresi ini. Dia sedikit terkejut, JunHyung tertawa seperti  baru mendengar sebuah lelucon.
“Ehem..ehem… maaf… jadi sampai dimana kita tadi?”
KiKi masih terkejut, dipandanginya JunHyung seperti orang asing yang aneh.
“Hei!!” JunHyung mengembalikan kesadaran KiKi, KiKi tersadar layaknya orang yang baru ketiduran.
“Ah! Yah… ja- jadi kamu sebenarnya?”
“Hehe…Gomen..gomen…  aku nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”
Kali ini KiKi benar-benar tersentak ,” Eiiiiiih!!!! Pembicaran yang mana?”
JunHyung masih cekikikan, didekatinya KiKi lalu dengan santai dia membisikkan sesuatu,”Kamu su-ka ama Yuki… desu yo?”
KiKi melotot, dipandanginya JunHyung dengan tatapan tak percaya. JunHyung menjulurkan lidah tengil. KiKi nggak pernah menyangka, kalau JunHyung ternyata Cuma  akting?! Rasa bersalahnya yang tadinya melekat begitu besar langsung meluap seketika.
“Lalu apa maksud dari tingkah menyebalkanmu waktu itu?!” Suara KiKi meninggi, Junhyung terbelalak.
“Ano… aku mau ngetes reaksi Yuki aja sih sebenarnya, kenapa dia harus bo’ong, padahal aku lihat sendiri kalau dia juga nguping.” KiKi melihat JunHYung dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Ok… jadi… aku nggak sengaja lewat waktu itu, sebenarnya aku nggak ada niat nguping, tapi… aku lihat Yuki mengendap-endap dibalik pohon tempat kalian bisik-bisik…hmm waktu mau mendekat, aku dengar Wulan teriak kalau kamu suka ama Yuki.”
KiKi merasa benar-benar sudah dipermainkan, “Ka-kalian benar-benar nyebelin!!!!” KiKi menatap marah JunHyung dan dengan kesal dia pergi meninggalkannya, tapi belum jauh dia pergi dia kembali lagi,”Kalau Wulan sampai MATI! Itu semua karena KAMU! Oh… nggak ..itu  karena KALIAN!!!” Furukawa yang baru saja menampakkan diri ikut kena semprot KiKi, dia melongo nggak mengerti. Di tatapnya JunHYung yang seperti baru kena hentakan dahsyat, kaku. KiKi menatap kedua laki-laki yang berdiri penuh tanda tanya di hadapannya, matanya melotot marah. Lalu tanpa berkata apa-apa dia pun pergi.
“Kenapa kamu ke sini?” Sesaat setelah KiKi pergi,JunHyung akhirnya menyadari keberadaan Furukawa. Dia tiba-tiba aja jadi beneran kesal sama sahabatnya ini.
“Ouuuw… santai Hyung… Fujimaru sekarang di Jepang.”
“Fujimaru?? Mana dia sekarang?” JunHyung terlihat begitu antusias mendengar kabar itu, dia hampir lupa dengan apa yang baru saja dikatakan KiKi.
“Hah… lupakan dulu Fujimaru, apa kamu sudah lupa dengan apa yang baru saja dikatakan KiKi? Wulan bisa mati karena Kita… apa maksudnya??”
JunHyung menghela nafas. Kebahagiaan mendengar Fujimaru di Jepang langsung sirna. Ditatapnya Furukawa yang balik menatapnya bingung.
“Apa kamu tahu dimana dia tinggal?” JunHYung memecahkan kebingungan. Furukawa mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
***
“Aku benar-benar nggak nyangka, kalau aku benar-benar mirip dengan orang bernama YunHo ini.” Hiro memandangi  gambar Yunho-Tohoshinki .
“Sejak kapan kamu doyan Boyband?” Otoya ikut nimbrung memperhatikan gambar yang  sedang diperhatikan Hiro.
“Kamu… tahu dia?” Hiro terlihat sedikit shock.
“Hahaha… dia salah satu yang disukai Nina, BB dari Korea kan? Kenapa kamu tiba-tiba tertarik?”
“Hmm… Ilma memanggilkku dengan nama orang ini.”
“Ilma? Ah… perempuan yang dulunya ngejer kamu itu?” Hiro mengangguk. Otoya hanya tersenyum tak percaya.”Jangan-jangan dulu dia berfikir kamu Yunho… hahaha.”
“Mungkin…sepertinya dia sangat tergila-gila dengan laki-laki ini.”
“Oh yah… kamu pernah pake komputerku yah?”
Otoya yang tadinya cekikikan langsung diam.”Kamu udah liat yah?”
“Yah… siapa itu gadismanis? Perasaan aku nggak pernah meng-add orang dengan ID itu… lagian kenapa kamu harus pake ID-ku.”
Otoya tersenyum simpul,” Gomen… aku awalnya Cuma iseng, anaknya manis sih.Tapi… nggak tahu kenapa waktu dia ketemu Nina, dia tiba-tiba seperti ngehindar gitu. Kita udah nggak kontak lagi sekarang.”
“Hah… kenapa juga kamu harus pake ID-ku, emangnya kalau kamu mau kontak dia kamu mau pinjam ID-ku lagi?”
Otoya melirik Hiro dengan tatapan manja,”Hentikan!! Tatapan itu mengerikan..”
“Hiro ~.. boleh yah… kan kamu juga nggak doyan chatting kan…boleh..boleh..” Hiro merinding dengan rayuan Otoya, “Ok…pake..pake aja… huuff~.”
“Ouh Arigatou!! Hiro chan!!” Hiro menghindar jijik lihat rayuan Otoya.
“Katanya Jinki mau lanjutin sekolah ke Inggris?”
“Yup… dia berangkat hari sabtu pekan ini. Tadi katanya sih mau mampir sebentar kesini, kok dia belum datang yah?”
***
“Jinki… bukannya kamu sebentar lagi mau pergi, kenapa masih belum beres-beresin barang yang bakalan dibawa? Perasaan dari kemarin kamu pegang gitar terus….” Ibu Jinki terus mengomel, melihat ketidakpedulian Jinki akan keberangkatannya yang tinggal menunggu hari.
Jinki tidak memperhatikan ibunya yang members-bereskan barangnya. Perhatiannya terpusat pada kertas yang penuh dengan coretan-coretan. Berkali-kali terdengar suara petikan gitar dan desahan nafas lelah dan putus asa. Dia harus segera menyelesaikan lagu ini, sebelum dia meninggalkan Jepang.
***
“Wulchin!! Ada yang nyariin kamu nih…” Rani mengetuk-ngetuk pintu kamar Wulan.
Hening… tak ada jawaban.
Rani menatap lemas JunHyung dan Furukawa. “Sudah 3 hari Wulan ngurung diri di kamar, aku nggak tahu apa sebabnya, tapi… dia kayak gini semenjak dia pulang dari panti.”
JunHyung dan Furukawa hanya terdiam.
“Wulan masih belum keluar Ranchin?” Ilma yang baru setengah sadar, keluar sambil nguap dan garuk-garuk kepala, membuat penampilannya serba berantakan.
Sesaat matanya dan mata JunHyung bertemu. Sontak dia teriak, kaget.
“Ke-ke kenapa ada cowok di sini!!! Ranchin kok nggak bilang-bilang sih?” Mood Ilma yang tadinya jelek tambah jelek, dia segera masuk ke kamarnya. Rani Cuma terdiam, Oops.
***
“Jadi… gaya sok nervousnya itu cuma akting?” Wulan mencincang daging yang akan dimasaknya dengan geram.
“Aku juga kesel banget waktu denger itu. Makanya spontan aja aku bilang  kalau sampai Wulan mati itu semua karena kamu… hehehe waktu bilang gitu, muka JunHyung ama Furukawa kayak orang bloon, aku puas banget ngeliatnya.  Aku bahkan sampai harus nahan nafas biar nggak ketawa.” KiKi mulai menumis bumbu-bumbu yang sudah diracik oleh Rani.
“Yah… kata Ranchin muka mereka ngenes banget waktu ke sini nyariin aku, kkk… rasain!”
***
“Wah… kalau dilihat baik-baik dari ekspresi wajah kalian, kalian seperti sedang kena masalah yang kalian sendiri nggak paham, yah kan?” Fujimaru duduk diantara JunHyung dan Furukawa lalu merangkul mereka berdua,” Uuuh!! Aku kangen banget ama kalian!!” Katanya gemas.
JunHyung dan Furukawa berusaha melepaskan rangkulan Fujimaru yang hampir membuat mereka nggak bias bernafas.
“Hei!! Kamu beneran Fujimaru nggak sih!! Huuk huuuk… jangan-jangan kamu itu pembunuh bayaran yang nyamar jadi Fujimaru buat bunuh kami?” JunHyung mencibir, mengelus-elus lehernya.
“Wah.. Junhyung kenapa tuh? Tumben banget dia kayak gitu.” Fujimaru ngelirik Furukawa yang adem ayem. Furukawa Cuma mengangkat alis.
“Ini pasti masalah cewek, hmm… ayo cerita dong, aku ngerasa udah banyak ketinggalan berita nih.”
“Akhirnya ada yang suka ama Yuki…” JunHyung menaik turunkan alisnya nakal. Fujimaru mengerling Furukawa yang sekarang wajahnya memerah.
“Wah!! Siapa tuh cewek nggak normal yang bisa suka ama kamu ?hahaha!!!” Fujimaru tanpa tunggu aba-aba langsung ketawa sejadi-jadinya. Wajah memerah furukawa yang tadinya karena malu sekarang berubah menjadi wajah memerah penuh emosi. Dengan penuh dendam di gelitiknya pinggang Fujimaru, Fujimaru tambah nggak bias menahan ketawanya. Melihat adegan seru itu, JunHyung nggak mau ketinggalan bagian.
“Hahahahahahaha…hahahahaha…hahahahaha…hahahahaha…hahahaha…”
***
“Wow!! Daebak, kamu yang nulis lirik ini? Wah… buat nuna-mu itu lagi?” Otoya begitu terkesima melihat hasil jerih payah Jinki selama seminggu terakhir ini.
“Yah… aku udah coba cari musik yang pas, tapi… aku nggak bisa kosentrasi karena waktu keberangkatanku semakin dekat.”
Hiro memperhatikan lirik yang dibuat JinKi dengan seksama, sambil membacanya tanpa sadar dia membuat beberapa melodi. JinKi terperanjat dari duduknya.
“Aku suka! Aku suka itu Aniki!! Apa kamu bisa mengulangnya?”
Hiro menghela nafas… kembali membaca lirik itu dan mencoba kembali melantunkan beberapa melodi seperti sebelumya. JinKi menutup mata mencoba menikmati melodi dadakan itu. Otoya yang mendengar melodi itu segera mengambil gitarnya.
***
Rani melihat kalender yang terpajang manis di atas meja belajarnya. Tepat di samping kalender itu, bingkisan dari JinKi masih terbungkus rapi. Sejenak Rani berfikir untuk membukanya, tapi… beberapa detik kemudian dia mengurungkan niatnya. Tapi… bingkisan itu sudah membuat–nya  penasaran beberapa hari terakhir ini. Dengan berat hati dia mulai membuka bungkusan itu, saking ragunya, dia bahkan membuka bungkusan itu sambil memejamkan matanya.
Belum terbuka semuanya, Rani mencoba mengintip isi bingkisan itu. Tidak terlihat. Tiba-tiba dia menjadi mengurungkan niat lagi melanjutkan membuka bingkisan itu. Rani menghela nafas berat, di lemparkannya bingkisan itu di kasur.
Bersambung






2 komentar:

LeeAne butuh saran dan komentarnya...
Berkomentarlah dengan bahasa baik And no SARA yah guys :)