Rabu, 12 September 2012

ISI HATI



<<Isi Hati  adalah suatu misteri, tidak ada yang pernah tahu apa yang ada di hati seseorang, itulah yang membuat perasaan itu menjadi sesuatu yang spesial...yah entahlah>>

Namaku Ryo, umurku 17 tahun. Mungkin bagi kalian yang telah berumur diatasku akan menganggapku anak kecil, begitu pula dia. Cinta pertamaku, cinta yang entah kapan akan berbalas. Mungkin menurut kalian, ini hanyalah cinta anak ABG yang datang dan pergi. Tidak… dari dulu sampai sekarang perasaanku padanya tidak berubah, tidak pernah, tidak sedikitpun. Tapi… ternyata seberapapun besarnya rasa sukaku padanya, dia akan tetap menganggapku tidak pantas, tidak pantas untuknya. Tentu saja, alasan utamanya adalah umurku. Selalu mengenai umurku.
“Ryo kun… mau berapa kali kamu menembakku, jawabanku akan tetap sama. Aku benar-benar menganggapmu sebagai adikku. Yah..Aku emang sayang sama kamu, tapi hanya sebagai adik, nggak lebih dari itu.”
Aku hanya terdiam, aku bahkan nggak bisa menggerakkan badan ini. Walaupun ini bukan kali pertama aku menembaknya, aku masih susah menerima penolakan ini. Aku bahkan nggak ingat sudah berapa kali aku melakukan hal konyol ini. Entah kenapa, aku selalu dan tetap berharap suatu hari dia akan memiliki perasaan yang sama denganku.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap diam, dan dengan senyum dipaksakan aku pergi meninggalkannya.
          “ Kanzaki kun, a-aku su-suka sama kamu….”
          Lagi… satu gadis lagi akan mengalami patah hati olehku. Ini sudah terlalu sering, aku sampai bosan menolak mereka. Aku bahkan sampai ingin menjadi laki-laki berengsek yang nggak akan pernah disukai oleh perempuan manapun. Tapi… kalau aku mengingat Mika, aku tidak bisa. Aku tidak akan berani menatapnya, walaupun umurnya lebih tua dariku, dia sangat polos. Di pikirannya tidak ada abu-abu, yang ada hanya hitam dan putih. Sifatnya yang seperti anak kecil, bahkan membuatku benar-benar tak pernah menganggapnya lebih tua dariku.
          “Ka..Kanzaki kun?”
          Aku tersadar dari lamunanku. Kupandangi gadis itu. Manis. Tapi… aku sama sekali tidak tertarik. Dengan berat hati aku mengatakan kata-kata yang aku sendiri sangat membencinya.. kata-kata penolakan.
          Seperti biasa, gadis itu menangis. Sambil menunduk dia berlari meninggalkanku. Aku benar-benar merasa seperti laki-laki yang tak punya perasaan.
          “Wah… Aku iri sama kamu Ryo… dalam sebulan sudah berapa gadis yang kau tolak. Keren bro..”
          “Keren apanya? Aku capek.”
          “Kenapa nggak diterima aja, jangan bilang kamu masih mengharapkan Kak Mika. Sudahlah Ryo… sampai kapanpun…”
          Tanganku entah kenapa langsung menyambar kerah Sano, aku pun tidak mengerti, aku hanya tidak ingin mendengar lanjutan dari kata-katanya. Sano terlihat terkejut. Tapi… dia tidak melawan, dia malah menghela nafas. Aku pun melepaskan genggamanku dari kerahnya. Sano menepuk pundakku.
          “Maaf… aku kurang sensitif.” Sano merangkulku dan menggelitik pinggangku, sontak aku menggeliat geli. Kami pun tertawa.
          Malam itu, aku lapar sekali. Orang tuaku dan adikku sedang mengunjungi bibi yang sakit. Aku akhirnya dengan malas memutuskan untuk keluar mencari makan.
          Tanpa sengaja, aku melihat sesuatu yang tidak pernah, dan tak pernah ingin aku lihat. Mika keluar dari mobil seseorang dan… orang tersebut mengantar Mika sampai di gerbang rumahnya. Mika terlihat senang, dia tersenyum dengan manis ke pria itu. Darahku terasa mendidih, tanpa pikir panjang, tanganku melayang di pipi pria itu. Pria itu tersungkur, hidungnya berdarah, Mika berteriak histeris. Sambil membantu pria itu berdiri, Mika melihatku dengan muka yang sangat menakutkan, dia melotot, dia terlihat sangat marah…sangat marah. Badanku seketika terasa lemas, aku bingung. Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku nggak bisa mengontrol diriku? Tepat setelah Mika menutup pintu rumahnya sambil membopong pria itu, aku terjatuh. Malu… aku malu menatap Mika… sekarang bagaimana?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
          “Aku nggak bisa bantu banyak, tapi … minta maaflah.”
          Sano menguatkanku. Sulit untukku menemui Mika. Tapi… aku harus melakukannya. Kalau tidak, aku nggak akan pernah bisa tertidur pulas.
          “Sudah puas?”
          Hari itu, aku memberanikan diri bertemu dengan Mika. Dia terlihat masih marah.
          “Maaf… aku…”
          “Aku… ingin kamu jangan dekatin aku lagi.”
          DEG… aku benar-benar terkejut. “Bu..bukannya kamu menganggapku adik?” entah kenapa kata-kata itu yang malah terlontar dari mulutku. Aku merasa terpojok, aku tak bisa memikirkan kata-kata yang lebih tepat.
          Mika terlihat gusar.” Ya… ka-kamu emang udah aku anggap adik, tapi…  kali ini kamu keterlaluan. Kamu tahu siapa yang telah kamu pukul itu?”
          Aku terdiam, aku tidak terlalu peduli siapa orang itu.
          “Bossku…dan… tunanganku.”
          Aku merasa tersengat listrik. “A-apa? Tu-tunangan? Sejak kapan?”
          Mika menghela nafas,” Bulan depan, kami akan menikah.”
          Aku gusar, masih tidak percaya,” Bagaimana bisa, kapan…kapan kamu dan dia…” aku nggak bisa berkata-kata lagi. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku selalu memperhatikan Mika, aku merasa aku telah mengetahui semua mengenainya. Menurutku kami cukup dekat, tapi... Bagaimana bisa aku tidak mengetahui dia telah memiliki hubungan dengan pria lain, tanpa sepengetahuanku.
          “Dia adalah pria yang baik, dan dia sangat mencintaiku. Dia juga dewasa, dan aku menyukainya…sangat menyukainya…aku harap kamu bisa mengerti.”
          Sakit…dadaku terasa sakit sekali… aku tidak tahan, aku tidak tahan lagi. Aku pun segera pergi tanpa memandangi Mika. Berat, langkahku terasa sangat berat, tapi… aku tidak ingin mendengar Mika menyebut pria itu lebih lanjut. Aku tidak mau tahu lagi, cukup…cukup.
          “Ayah … aku mau melanjutkan sekolah di luar negri.”
          Ayah begitu terkejut mendengar pernyataanku yang mungkin tak pernah terpikir olehnya. Sebelumnya aku begitu ngotot tidak akan pernah kuliah keluar negri. Ayah tersenyum lebar, dia tertawa bahagia. Berkali-kali dia memelukku, entah kenapa aku bisa merasakan kebahagiaannya. Walaupun keputusan ini kuambil dengan terpaksa, tapi… aku rasa inilah yang terbaik untukku, setidaknya saat ini. Aku pastinya tidak akan sanggup untuk melihat Mika bersama pria itu.
          ***
“Selamat… seperti biasa…no.1, hehe” Sano menggodaku. Aku hanya tersenyum.
Setelah mencoba untuk tidak terlalu memikirkan Mika, entah kenapa aku merasakan beberapa hal baru yang sebenarnya selalu aku alami. Mendapatkan peringkat terbaik dari dulu adalah hal biasa buatku, hanya saja sekarang aku merasa sangat menikmatinya. Acara wisuda berlangsung lancar, yah paling tidak begitu sampai…
“Selamat Ryo kun… aku bangga padamu.”
Mika, datang dengan pria itu sambil membawakan aku bunga. Pria itu tersenyum memandangiku, aku kesal. Aku kesal, kenapa bukan aku yang berada di posisinya, aku kesal kenapa dia tersenyum begitu hangat padaku, aku masih belum bisa menerima hubungan mereka. Aku terdiam, tanpa ekspresi.
“Hmmm, maaf aku tidak pernah menemuimu akhir-akhir ini. Aku takut mengganggumu, tapi… aku harap kamu tidak berkeberatan menerima undangan dariku…” Mika seperti segan mengundangku, dia terlihat ragu.
“Mika sangat mengharapkan kedatanganmu…” Pria bernama Satoshi itu menambahkan.
Aku muak melihatnya, wajahnya, senyumannya. “Aku tidak akan datang.” Sahutku mantab, “ Jangan pernah berharap aku akan datang.” Aku menatap pria itu dengan tajam, dia hanya melongo melihatku. “Kalau Cuma itu yang mau kamu sampaikan, aku pergi…”
Aku sudah bersiap pergi, Mika memanggilku. “Maaf… tolong  Ryo kun… maafkan aku…” Aku membelakanginya, tapi terdengar jelas suara tangisannya. Ingin aku berbalik, tapi… “Aku… bagaimanapun juga aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku, tolong jangan benci aku…” Mika terus terisak.
Tidak…tidak…kamu salah Mika. Aku tidak pernah… dan tidak mungkin membencimu. Aku … aku hanya…
“Hentikan tangisanmu, aku tidak suka mendengar orang menangis. Kalau kamu memang ingin aku datang, aku…aku akan datang.” Aku pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Tanpa melihatnya, tanpa menunggu reaksinya, tanpa mengharapkan apa-apa…
          Berkali-kali aku melihat jam. Setengah jam lagi… 15 menit lagi… Aku semakin gusar. Akhirnya tinggal 5 menit lagi… aku pun memutuskan untuk pergi, setelah sedari tadi mondar-mandir di kamar.
          Ternyata aku tidak terlambat, walaupun aku berharap terlambat. Mika terlihat begitu cantik, mukanya memancarkan kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan. Wajahnya terlihat lebih bersinar dibandingkan biasanya. Sulit kuterima, tapi… untuk pertama kalinya aku merasa, pria itu pantas untuknya. Selama aku bersamanya, dia tidak pernah menunjukkan wajah sebahagia itu. Hanya saat bersama pria itu saja, wajahnya bisa terlihat begitu bahagia. Aku kalah…. Kalah telak. Mungkin … inilah akhir cintaku…akan tetap bertepuk sebelah tangan…
          ***
Sudah 2 tahun berlalu, walaupun belum hilang sama sekali. Aku sudah bisa melupakan Mika sedikit demi sedikit. Mungkin agak sulit melepaskan berbagai memori tentangnya.  Perempuan pertama yang kukenal selain ibuku adalah dia, kami besar bersama. Aku terlalu terpesona dengan Mika, sampai tidak pernah melihat perempuan lain. Tapi… aku mencoba, benar-benar mencoba kali ini.
Namanya Mizuki. Gadis periang ini cukup menghiburku. Aku rasa takdirlah yang mempertemukan kami beberapa kali di beberapa acara seminar. Pertama waktu di Berlin, kedua di Ankara, ketiga di Busan, keempat di Paris, dan terakhir di London. Pertemuan berkali-kali itu, akhirnya membuat kami menjadi teman, apalagi ketika aku mengetahui kalau kami ternyata satu universitas. Dia begitu humoris, aku merasa nyaman dengannya. Ngobrol dengannya bagaikan ngobrol dengan kawan lama, padahal aku baru mengenalnya sebulan yang lalu. Hubungan itu, ternyata terus berlanjut, sampai entah kenapa aku pun melamarnya. Mizuki terlihat begitu senang. Aku pun untuk pertama kalinya, merasa begitu bahagia.  
Mizuki adalah satu-satunya wanita yang dekat denganku selain Mika. Melamarnya adalah keputusan yang berat untukku, tapi .. aku tidak suka dengan tahap pacaran, menurutku itu hanya membuang waktu. Aku sudah terlalu lama menunggu cintaku, saat ini aku merasa Mizuki adalah gadis yang tepat untukku. Aku tidak mau menyesal untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang aku melamarnya. Segala resiko aku tempuh, aku tidak pernah berharap Mizuki akan menerimaku. Walaupun terlihat dekat denganku, Mizuki cukup populer, tak jarang aku mendengar teman-temanku membicarakannya. Mendengar Mizuki menerima lamaranku, aku kira mereka akan kecewa. Tapi… mereka malah bersorak senang. Ternyata, selama ini mereka suka menggosipkan hubunganku dengan Mizuki.
Begitulah…tak lama kemudian kami menikah…tepat setelah kami lulus kuliah. Tapi… setahun kemudian, ketika Mizuki mengandung anak kami, aku mendapatkan kabar yang tidak menyenangkan. Satoshi… suami Mika, meninggal karena kecelakaan mobil.
Aku dan Mizuki segera bertolak dari Inggris. Awalnya aku melarang Mizuki ikut karena kandungannya, tapi … dia memaksa. Mizuki telah mendengar semua ceritaku tentang Mika. Aku tidak pernah menceritakan bagaimana dulunya perasaanku pada Mika, yang Mizuki tahu hanyalah Mika yang selama ini bersikap layaknya kakak kandungku. Mizuki terlihat begitu ingin bertemu dengan Mika. Mukanya terlihat khawatir ketika mendengar berita itu. Dengan muka yang sangat memelas dia meminta untuk ikut, aku tahu benar kalau mukanya sudah seperti itu, itu tandanya dia tidak akan menyerah sampai keinginannya terpenuhi. Aku jarang mendapati mukanya begitu, karena itu, ketika dia menunjukkan ekspresi itu, entah kenapa aku merasa aku harus menurutinya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tidak takut lagi bertemu dengan Mika. Aku sudah memiliki Mizuki, dan menurutku aku mencintainya. Yah… aku berharap rasa cinta itu lebih besar dari perasaanku ke Mika dulu. Tapi… Perasaan apa ini? Kenapa dadaku sakit sekali melihat Mika menangisi suaminya. Apakah aku masih menyukainya? Tidak… bukan… aku hanya simpati… yah hanya simpati, bukan karena dulunya aku menyukai Mika, bukan… bukan.
“Apa itu kak Mika?”
Aku tersentak mendengar suara Mizuki. Kupandangi wajahnya. Mizuki pun melihatku dengan heran. Kuyakini diriku sekali lagi. Aku suami Mizuki, dan sebentar lagi aku akan memiliki anak. Tidak… perasaanku ke Mika sudah tidak seperti dulu lagi… sudah tidak…
“Ryo?” Mizuki kembali mengembalikan kesadaranku. Aku tersenyum kecil sambil mengangguk. Mizuki segera mendekati Mika. Di elusnya punggung Mika dengan lembut. Perhatian Mika pun tertuju ke arahnya. Lama dia memandangi Mizuki, namun tak lama setelahnya dia melihat sekelilingnya. Lalu matanya terpaku padaku.
“Ryo kun?” Mika bangkit, berjalan perlahan-lahan mendekatiku. Lalu terjatuh tepat selangkah didepanku, aku segera menopangnya. Dia pingsan…
***
“Seharian dia tidak tidur, dia terlihat begitu terpukul, setelah 5 tahun menikah, akhirnya dia mengandung, tapi… suaminya malah meninggal…”
Tante  Toda- Ibu Mika mengelus-elus rambut Mika. Mika yang tertidur terlihat begitu pucat. Aku hanya terdiam, tak tega melihatnya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Esoknya, aku mendapati Mika masih memandangi foto suaminya. Dia tersenyum padaku ketika kudekati.
“Wah… kamu sudah terlihat sangat dewasa sekarang Ryo kun, perempuan kemarin itu istrimu?”
“Yah… bagaimana menurutmu?”
Mika berfikir sejenak,” hmmm dia gadis yang manis… kamu beruntung.” Entah kenapa Mika menampakkan mimik sedih dibalik senyumannya.
Aku terdiam.
“Aku senang kamu akhirnya bisa mendapatkan seorang istri yang begitu baik, sentuhan tangannya begitu hangat.”
Aku tersenyum.” Terimakasih… Kak Mika.”
Mika tersenyum,” aku senang… kamu akhirnya memanggilku dengan sebutan Kak…” Mika terdiam.” Ryo kun… aku tahu ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang penting lagi… tapi entah kenapa aku ingin sekali mengatakan ini padamu…”
Aku mengernyitkan kening. Kenapa Mika menunjukkan muka yang begitu serius.
Mika memandangiku.” Maaf… aku telah membuatmu banyak terluka, dan maaf aku selama ini nggak jujur ama perasaanku.” Mika menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan,” aku …” dia memandangiku,” sebenarnya aku menyukaimu dari dulu.”
Aku benar-benar terkejut. Tapi… yang lebih membuatku terkejut adalah ketika melihat Mizuki dari bayangan cangkir di depanku. Aku segera berbalik, terlihat Mizuki sangat shock. Mika pun terkejut, dia segera bangkit dari tempat duduknya, dan seperti ingin menjelaskan sesuatu, namun Mizuki sudah terlanjur  berlari dari tempat itu. Aku mau mengejarnya, namun Mika menarik tanganku.
“Tu..tunggu Ryo kun, aku belum selesai… aku…”
“Bisa kita bicarakan lain waktu?...” Aku gusar. Pernyataan Mika benar-benar membuatku kaget. Tapi… saat ini Mizuki harus kutenangkan terlebih dahulu.
Tak susah mencari Mizuki. Kalau dia menangis, dia akan mencari tempat yang paling tersembunyi, dimana tidak akan ada orang yang menemukannya.
“Mizu?...” Mizuki masih terisak, mendengar aku memanggilnya.
“A-apa maksud dari semua itu, apa maksud dari kata-kata kak Mika itu, ka-kalian saudara kan, maksudku… hubungan kalian…” Mizuki seperti susah mengendalikan diri, dia terlihat bingung dengan kata-katanya sendiri.
Aku segera memeluknya, mencoba memberikan dia ketenangan. Aku hanya terdiam, membiarkan dia menangis sepuasnya. Setelah tangisannya mereda, aku pun mulai menceritakan semua, yah semua tentang perasaanku dulunya kepada Mika, semua… tanpa aku tutupi lagi. Mizuki benar-benar shock, sangat shock. Tapi… yang membuatku khawatir adalah dia tidak mengatakan apa-apa sesudahnya, dia hanya terdiam. Dia bahkan tidak bertanya apa-apa. Aku menjadi serba salah, aku sebenarnya ingin melupakan semua masa lalu itu. Tapi… jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin Mizuki mengetahuinya, aku tidak ingin ada rahasia antara aku dengannya. Apalagi itu hanyalah masa lalu, walaupun masih ada bekasnya, itu tetap masa lalu…
Dingin… begitulah suasana yang kurasakan setelah kejadian pagi itu. Mizuki terlihat tidak bersemangat, Mika terlihat tidak nyaman. Aku menjadi lebih salah tingkah. Aku sebenarnya ingin mendengar penjelasan Mika lebih lanjut. Aku percaya, ada kesalahpahaman di sini, tapi… aku tidak mungkin berbicara dengan Mika saat ini. Kalau Mizuki memergoki kami, dia kemungkinan akan lebih tidak percaya padaku. Saat aku berfikir keras mencari solusi melumerkan suasana. Mika ternyata mengajak Mizuki dan aku untuk bertemu. Mizuki terlihat enggan, tapi dia mengiyakan.
“Maaf… sebelumnya aku bukannya ingin membuat ketegangan di rumah tangga kalian. Yah… aku tahu… pernyataanku kemarin mungkin sangat mengejutkan Ryo ataupun Mizu… tapi… tolong percayalah… aku benar-benar merestui hubungan kalian.”
Mizuki hanya terdiam, begitu pula aku.
“Aku tahu, seharusnya aku tidak perlu mengungkapkan sesuatu yang sudah lalu, aku hanya terus kepikiran, dan … aku rasa aku harus mengungkapkan ini… sesuatu yang sudah menggangguku, sampai hampir membuat hubunganku dulunya dengan Satoshi renggang.”
Mika melihat langit yang saat itu gelap tanpa bintang. Mizuki tetap menunduk, dan aku… entahlah.
“Mungkin … aku memang dulunya menyukai Ryo… setidaknya sampai kemarin ketika Satoshi meninggal, barulah aku sadar dengan perasaanku.”
Mika memberanikan diri memandangi Mizuki, yang kali ini memandang tajam ke Mika. Aku mengambil jarak dari mereka.
“Apa maksudmu? Apa kamu menikahi Kak Satoshi tapi… sebenarnya kamu suka sama Ryo?” suara Mizuki bergetar.”
Mika mengangguk. “Itulah hal yang paling aku sesali selama ini…Aku menyembunyikan perasaanku ke Ryo karena egoku, dan telah mempermainkan perasaan Satoshi dan menyakiti Ryo berkali-kali…aku benar-benar jahat.” Mika mulai terisak.
“Awalnya aku memang benar-benar ingin melupakan perasaanku ke Ryo dengan menikahi Satoshi. Tapi… ternyata semenjak Ryo keluar negri aku malah bertingkah aneh. Ternyata Satoshi sadar dengan hal itu, hubungan kami sempat berantakan. Tapi… Satoshi benar-benar pria yang hebat, dia benar-benar menunjukkan cintanya yang begitu besar dan tulus kepadaku. Aku tersentuh… tapi… mendengar Ryo menikah, aku kembali membuatnya terluka. Tak ada yang mengetahui semua ini. Kami selalu terlihat rukun, lamanya kami menghasilkan keturunan pun kami tutupi dengan berbagai alasan. Satoshi telah berbuat banyak untukku, dia tetap yakin suatu saat aku akan melupakan Ryo dan mencintai dia.” Mika terdiam, tapi ternyata isakan tadi berubah menjadi tangisan.
“Aku benar-benar menyesal… kenapa aku baru menyadari semua pengorbaan, serta cinta tulusnya, setelah dia meninggalkanku… sekarang aku benar-benar merasa kehilangan… 5 tahun bersamanya, tapi pikiranku malah ke orang lain. Tapi… dia tidak pernah memaksaku untuk mencintainya, yang dia lakukan adalah tetap menjadi suami dan laki-laki yang baik untukku. Akhirnya aku luluh, aku berusaha mencintainya. Tapi… saat kabar bahagia mengenai kehamilanku datang, Satoshi malah mengalami kecelakaan.“ Mika menangis tersedu… dia sudah tidak bisa lagi membendung tangisannya. Mizuki segera memeluknya. Aku tak tahu harus bagaimana.
Cerita Mika tadi seperti sesuatu yang sangat tidak bisa kupecaya. Masih terlihat dengan jelas ekspresi wajahnya yang begitu bahagia ketika menikahi Satoshi.  Apa semua itu hanya acting? Sulit untukku percaya… tapi bagaimanapun juga, kita memang tidak akan pernah mengetahui isi hati orang lain… 
Aku senang cintaku ternyata berbalas, walaupun aku sangat menyayangkan masa-masa sulit yang ditempuh Mika. Bagaimanapun juga ... aku bersyukur, Mika menolakku. Mendengar pernyataan Mika, sekarang aku sadar. Perasaanku ke Mika hanyalah masa lalu, saat ini cintaku hanya ke Istriku seorang. Orang yang selalu peduli, dan sangat mengerti aku. Aku tidak akan menyia-nyiakan orang ini..tidak akan…



Kamis, 06 September 2012

Pulau Lombok ...

Pulau Lombok...

Tak semua dari sobat  mungkin mengenal pulau ini...
akhir-akhir ini aku sering melihat di TV, banyak acara-acara berlibur yang mengambil tempat di Lombok, bahkan ada beberapa film yang mengambil lokasi di Lombok, tentu saja dalam rangka promosi sepertinya...karena pulau ini lagi menggalang visit Lombok -Sumbawa... Sumbawa? apa lagi tuh?
Sumbawa adalah sebuah pulau juga... Jadi.. jelasnya gini...
Pulau Lombok dan Sumbawa merupakan bagian dari Propinsi Nusa Tenggara Barat (Ingat yah, NTB bukan NTT, bukannya apa-apa tapi banyak yang salah mengira NTB adalah NTT. contoh kecil aja, bagi kalian yang mungkin udah baca buku Raditya Dika dengan judul "Radikus Makan Kakus" pasti bakalan nemuin cerita mengenai orang yang katanya orang NTB, tapi dari ciri-ciri orangnya bahkan bahasa yang digunakan jelas-jelas menunjukkan kalau yang dimaksud adalah NTT, sejak kapan bahasa orang NTB menggunakan "beta").

Baiklah...
Aku mengangkat topik ini karena banyak yang masih nggak tahu Lombok dimana, dan Mataram dimana. Bagi sobat yang doyan pelototin peta pasti bakalan tau banget, kalau Lombok itu letaknya tepat di sebelah kanan/timurnya pulau Bali. Mataram merupakan ibu Kota NTB dan letaknya di pulau Lombok. 
Berbicara mengenai Lombok dan Mataram, aku ingat sama celetukan adik kosku yang menurutku lucu banget. Entah kenapa dengan polosnya dia bilang," Orang Lombok itu yang mirip ama orang Thailand ya Kak, kalau orang Mataram mirip sama orang Korea." Denger pernyataan ngawur itu, sontak aku ketawa guling-guling... Belum lagi teman Kakakku yang dengan mantapnya mengatakan kalau pulau NTT itu adalah pulau Seribu Masjid...

So...
 


Pantai Mawun

Lombok merupakan pulau yang memiliki banyak tempat wisata, salah satu yang paling terkenal adalah pantainya. Salah satu pantai di Lombok  memiliki nama yang sama dengan nama pantai di Bali yaitu Kuta (baca: Kute). Hanya saja di Lombok nama Kute selain merupakan nama pantai juga merupakan nama Desa. Pantai ini terletak di Lombok Selatan, selain Kute terdapat beberapa Pantai yang tak kalah indahnya, ada Pantai Aan, Gerupuk, Seger, Mawun, dan masih banyak lagi pantai yang lainnya. Yang aku sebutin baru di wilayah Lombok Selatan, belum lagi pantai-pantai yang berada di bagian Lombok yang lain.
Pantai Aan


Aku paling suka pantai Mawun, mungkin karena waktu aku kesana, sepi banget, jadi puuuuuaaaas mau teriak-teriak nggak jelas, plus jalan ke sana keren, harus naik-naik bukit... asyiiiiiik banget...
Ada juga pantai Surga dan Cemara, tapi aku belum sempat kesana...kedua pantai ini terletak di Lombok Timur... 
http://www.nusatravel.com/blog/wp-content/uploads/2011/08/1lyry4rx.jpg
pantai cemara
Dari semua pantai yang udah aku paparkan, udah jelas banget kalau semuanya berpasir putih, tapi... pantai Kute pasirnya bukan hanya putih, tapi merupakan pasir "merica", maksudnya, bentuk pasirnya menyerupai merica agak besar-besar gitu, nggak halus banget...
http://www.nusatravel.com/blog/wp-content/uploads/2011/08/su8ydsu1.jpg
pantai surga

Selain Pantai, Lombok juga memiliki wisata air terjun, yang paling terkenal adalah air terjun "Sendang Gile"..
Selain Sendang Gile, masih terdapat banyak wisata air terjun lainnya, seperti Benang Stokel dan Kelambu, Jerman (Jeruk-manis), dan lain-lain.

selain itu, terdapat juga beberapa Gili (pulau kecil) yang sangat terkenal pula, yaitu Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno dan beberapa gili-gili lainnya yang mengitari pulau Lombok.

http://www.nusatravel.com/blog/wp-content/uploads/2011/08/9s5jl1dx.jpg Di sini, juga terdapat wisata Gunung Rinjani. Jadi bagi yang doyan ngedaki gunung, di Rinjani ini, terdapat sebuah danau yang terbentuk di Kaldera Gunung Rinjani, namanya Danau Segara Anak. Sedangkan gunung kecil yang terlihat di gambar adalah Gunung Baru Jari sempat meletus di tahun 2004 silam.
Jadi selain bisa lihat pemandangan di atas puncak gunung Rinjani, sobat juga dapat menikmati indahnya danau ini.


https://www.goodizz.com/uploads/assets/desa-sade-lombok.jpgAda pula Sade, dikenal pula dengan sebutan Sasak Village. Di sinilah sobat bisa nemuin rumah adat suku Sasak (suku asli Lombok), serta beberapa masyarakatnya yang masih melakukan kegiatan menenun dan mengolesi lantai rumahnya dengan Kotoran sapi, katanya sih biar lantainya kuat...
Jika Sade terletak di Lombok Tengah, ada pula Desa Senaru yang terletak di Lombok Utara.
Desa Senaru
kegiatan menenun menggunakan
Lambung (baju tradisional suku Sasak)

















Yang terakhir ... cuma sebagai tambahan. Lombok memiliki julukan Pulau seribu Masjid, karena disini terdapat banyak sekali Masjid, maklum ... masyarakat Lombok mayoritas Muslim...

So... berikut letak pulau Lombok di Peta ...

Sekian dulu bincang-bincang mengenai Lombok...
sebenarnya masih banyak yang pengen aku omongin... tapi cukup segini aja dah... semoga nggak ada lagi kebingungan mengenai Lombok...

Buat yang baca postingan ini Tampi Asih (Makasih) ...
Jangan lupa, masukin juga Lombok sebagai destination liburan sobat yah...^^v...

Au Revoir....

Rabu, 15 Agustus 2012

My Precious One

Penarkah kalian membayangkan orang yang sangat kalian sayangi akhirnya pergi untuk selama-lamanya...???

Yup!!.. beberapa dari kalian mungkin malah sudah mengalaminya,... dan beberapa yang lainnya berharap hal itu tidak akan pernah terjadi....

Aku begitu takut...sangat takut!! Orang yang sangat berharga dan sangat aku sayang suatu saat akan meninggalkanku, aku sering membayangkan bahkan berfikir mengenai hal tersebut, apalagi setelah melihat orang-orang sekelilingku yang satu persatu kehilangan orang yang sangat berharga untuk mereka.

Lalu... apa yang aku lakukan?? Aku berdoa setiap hari untuk diberi kekuatan, keikhlasan, dan selalu menugulangi kata-kata bahwa "semua ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya cepat atau lambat"... Hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan fana. Namun... tentu saja apa yang ditangkap oleh indra selalu terasa nyata. sekuat apapun aku melatih diriku, saat hal itu benar-benar terjadi, saat orang yang sangat berharga itu akhirnya menempuh jalan hidup baru yang lebih nyata, aku malah tak bisa membendung air mata ini. Sulit... sulit sekali untuk bersikap tegar, apalagi jika teringat kenangan-kenangan yang masih samar-samar terlihat. 

Mamiq.... begitulah panggilan sayangku padanya... orang yang sudah kuanggap sebagai "Ayahku" ini begitu berarti untukku.  Aku menghabiskan masa-masa kecilku bersamanya. sangat menyedihkan mengetahui di hari terakhirnya, beliau masih mengingatku. sedangkan aku yang sampai detik terakhir beliau pergi tidak   terbersit sedikitpun firasat akan ditinggalkan...Aku sangat "payah"... bagaimana bisa sampai hari ke 7 beliau meninggal aku masih tidak memimpikan beliau, walaupun aku sangat menginginkan pertemuan dengannya,,, aku ingin melihat senyumnya sekali lagi, aku ingin mendengar gurauan konyolnya... tapi... aku tahu itu memang sudah tidak mungkin...

aku selalu tidak tega melihat beliau yang semakin tua, badan yang dulunya gembul itu terakhir kali kulihat begitu kurus, gigi yang sudah mulai ompong. setiap hal mengenai beliau dari dulu selalu menarik untuk kusimak, namun saat ini menjadi jauh-jauh lebih menarik,, coretan-coretan yang beliau torehkan seperti sebuah harta karun yang harus disimpan. Aku berusaha menangis tanpa suara, aku takut tanginsanku memberatkan kepergian beliau...

sebenarnya ingin kutahan untuk tidak menulis perasaan sedih ini, tapi... entah kenapa memasuki hari ke-7 ini aku kepikiran beliau... aku masih ingat temanku yang tak berapa lama ini kehilangan "bapak"nya.,.. dia begitu sedih, aku mencoba memberikan beberapa masukan untuk membuatnya tenang, yah aku selalu berfikir suatu saat kata-kata itu pun akan diungkapkan untukku juga... "sabar ya nduk.. semua orang pasti akan mati..."

sayangnya semakin mendengar kata-kata itu, kesedihan malah semakin melanda...

so... enough for sharing today...

Makasih buat yang baca... Persiapkan diri kalian,
Jangan sampai tangisan kalian memberatkan Those Precious Persons In Your Life...

Have a Great Day Guys...
Ciao...

Minggu, 05 Agustus 2012

Cerita singkat ala LeeAne 2 (preview Maou)


http://img1.ak.crunchyroll.com/i/spire4/68bf163bbc17aa4ce0b1b92fd0e357b71241644185_full.png
Ohno Satoshi  (MAOU)
Sedikit tentang Maou (the devil), sebenarnya setelah posting sedikit cerita ngawur yang entah kenapa aku buat jadi cerita bersambung, sekarang aku udah benar-benar melupakan postingan cerita itu.. terlalu banyak nonton drama seru setelah itu membuatku benar-benar lupa kelanjutan cerita mendadak yang sempat aku susun itu...


Ok, bicara tentang maou, dorama jepang yang merupakan remake drama korea ini (The Devil) mendapatkan rating yang jauh lebih bagus dari drama aslinya. aku jadi penasaran, dan setelah menontonnya aku pun mengakui kalau versi Jepang lebih menarik dari versi Korea... kasus yang diceritakan sampai 3 episode di versi Koreanya di ceritakan hanya 1 episode di versi Jepangnya, tapi inti ceritanya tersampaikan... 
Aku belum menonton versi koreanya sampai selesai, tapi cerita kedua versi ini hampir sama,... endingnya menyedihkan tapi begitu menyentuh...huhu...
Lewat drama ini, aku mulai hunting dorama-dorama lainnya yang dibintangi oleh Ohno Satoshi dan dari teman dan hasil downloadku sendiri aku mendapatkan dorama yang cukup seru juga Kagi no Kakatte Heya dan Uta no nii san, keduanya cukup menarik...

Baiklah kembali ke postinganku yang sebelumnya, aku nggak yakin bisa memberikan ending yang bagus untuk cerita singkat bin ngawur itu...tapi karena aku udah pake label to be continued aku merasa harus menyelesaikannya....
Buat yang baru mampir, and  nggak sempat baca cerita ini dari awal bisa cek Cerita Singkat ala LeeAne ... 
 so this is it...hope you enjoying reading this...:)

"Bagaimana keadaanmu?" Kwang Min duduk di kursi tepat di samping kasur tempat Jun Ki berbaring.
Jun Ki mencoba bangkit dari tempat tidur,"yah lumayan." 
"Apakah kali ini kamu akan benar-benar sekolah lagi?"
"Sepertinya begitu, aku sudah menemukannya..."
"Menemukan apa?"
"Gadis penyelamatku..." Jun Ki tersenyum. Kwang Min hanya mengernyitkan kening.
"Wah.... akhirnya... setelah 4 tahun mencari..." Jun Ki menghela nafas lega.
"Lalu setelah ini, kamu mau apa?"
"Mau apa?" Jun Ki menatap Kwang Min.
"Entahlah..."
***
Sae Min duduk dengan malas, dipandanginya lapangan di halaman sekolah melalui jendela kelas. Terlihat di sana, Kwang Min dan teman sekelasnya sedang pelajaran olahraga. Mata Sae Min terpusat ke Kwang Min, Ia pun akhirnya ingat kalau Kwang Min sampai saat ini belum memberikan jawaban apa-apa setelah dia menembaknya. 
"Apakah tidak apa-apa kamu nggak menyimak pelajaran?"
Tiba-tiba terdengar suara asing di belakangnya, Sae Min langsung mengecek keberadaan Mr. Kim, tidak... bukan Mr. Kim, pikirnya, lalu siapa?...
Sae Min menoleh ke belakang, keningnya mengkerut,"kamu? sejak kapan?"
***
"Hahahahahaha...kenapa juga kamu harus teriak gitu." Da Bin tertawa sampai air matanya keluar. 
Malam itu, Sae Min meminta Da Bin menginap di rumahnya.
"Eh ... nggak usah berlebihan deh, aku cuma kaget aja, dia tiba-tiba duduk dibelakangku."
"Oh ya, siapa namanya tadi? aku lupa."
"Hmmm... kalau nggak salah Jun Ki, katanya dia pindah dua hari yang lalu."
"Lalu ..pertama kali kalian bertemu?"
"Kemarin di ruang kesehatan... aku sedikit merinding olehnya."
"Kenapa?"
"Dia entahlah, sepertinya menyukaiku."
"Hahahaha, jangan ke ge-eran deh, atas dasar apa kamu berfikir begitu?"
***
"Hai!! Sae Min". Jun Ki dengan riang menyapa Sae Min pagi itu dan duduk menghadap Sae Min dengan senyum lebarnya. Semua orang menatapnya, ini pertama kalinya ada laki-laki yang begitu santainya menyapa Sae Min, apa lagi mendekatinya dan menatapa wajahnya lekat-lekat.
Sae Min merasa sangat tidak nyaman, wajah garangnya tidak mempengaruhi raut muka Jun Ki. Semua tingkahnya terlihat 'imut' di mata Jun Ki. Sae Min benar-benar bingung bagaimana harus bersikap. Apalagi, Jun Ki ternyata sahabat Kwang Min. Semenjak ada Jun Ki, frekuensi Sae Min bertemu Kwang Min meningkat drastis.
"Wah... ternyata nafsu makanmu tidak seperti bayanganku." Jun Ki benar-benar mengikuti kemana pun Sae Min berada.
Sae Min menatapnya bingung," memangnya bayanganmu seperti apa?"
"Hmmm, biasanya kalau cewek yang doyan kelahi makannya banyak, kecuali ....kamu lagi suka seseorang..."
Sae Min tanpa sengaja saling tatap dengan Kwang Min, mendengar kata-kata Jun Ki spontan semua makanan yang ada di mulut Sae Min tersembur tanpa sengaja, tepat di muka Jun Ki yang duduk di hadapannya. Kwang Min yang berada di sebelah Jun Ki langsung mengambil tisu membantu Jun Ki membersihkan mukanya. Sae Min kelabakan, berharap bisa tampil manis di depan Kwang Min, malah terlihat memalukan.
"Maaf..maaf... " Sae Min pun segera mengambil sapu tangannya dan membersihkan muka Jun Ki, Jun Ki tiba-tiba memegang tangannya, Sae Min kaget. Berusaha menarik tangannya, Jun Ki menahannya lebih kuat lagi. "Siapa orang itu." Jun Ki menatap Sae Min dengan serius. Sae Min terbelalak kaget, ini pertama kalinya Jun Ki memperlihatkan tatapan serius seperti itu. 
Entah kenapa Kwang Min salah tingkah. ditepuknya pundak Jun Ki sambil berkata " Sudahlah, kenapa kamu harus mengurusi urusan pribadinya, hormati privasinya."
Jun Ki menatap Sae Min lebih tajam dari sebelumnya, lalu perlahan-lahan dia melepaskan tangan Sae Min. Sae Min hanya terdiam, tangannya memerah.
"Maaf..."Jun Ki seketika itu berdiri, dan pergi begitu saja.
Melihat itu, Kwang Min pun ikut berdiri, sedikit membungkuk "Maaf ... " katanya sambil tersenyum kecil dia pun pergi meninggalkan Sae Min yang sedari tadi diam seribu bahasa.
***
Sae Min menghela nafas, bingung dengan kejadian siang tadi di kantin. Dia masih mengingat dengan jelas ekspresi wajah Jun Ki.
"Laa lalaalalalalalalalala~.." Da Bin pulang dengan riang, selama orang tua Sae Min ke Hawaii Da Bin menginap di rumah Sae Min.
Sae Min sedikit merengut, menatap muka bahagia Da Bin. Da Bin akhirnya sadar setelah merasakan hawa dingin yang semakin lama semakin kuat." Oww... aku merinding, sepertinya ada yang lagi galau nih." sedikit bercanda, Da Bin mengedipkan mata dengan centilnya ke arah Sae Min, Sae Min semakin menyipitkan matanya.
"Ok..Ok.. ada apa?" Da Bin segera menghampiri Sae Min namun masih dengan senyum sok imutnya.
"Dia memang sepertinya menyukaiku."
"Siapa?" Da Bin sok lupa, tapi melihat wajah Sae Min yang serius, dia pun akhirnya berusaha serius." Lalu, kalau iya memangnya kenapa? jangan bilang.."
"Nggak..aku ...aku hanya nggak nyaman aja, karena dia sahabatnya Kwang Min, aku takut Kwang Min berfikir aku juga menyukainya."
"Aku nggak mengerti, emangnya kamu terlihat seperti menyukainya?"
"Nggak, hanya saja... laki-laki itu selalu dekat-dekat denganku, aku takut Kwang Min berfikir kalau..."
"Sudah sudah...huff... aku capek denger nama Kwang Min.. Kwang Min setiap hari, apa dia belum kasih jawaban? setelah kamu tembak itu?"
Sae Min menggeleng dengan lesu. Da Bin menghela nafas kesal. 
"Kamu baru dari mana?"
Sae Min memecahkan keheningan, ternyata penampilan Da Bin menarik perhatiannya. Da Bin salah tingkah, ini pertama kalinya dia benar-benar berdandan.
"A ... aneh ya?" 
Sae Min menatap Da Bin dengan tampang sok berfikir layaknya polisi yang sedang menginterogasi penjahat.
"Oh no, jangan bilang kamu akhirnya ikut blind date"
Da Bin mengangguk dengan wajah memerah. " Dia begitu keren, dan kami cocok, ya kami begitu cocok." Da Bin tiba-tiba menggenggam erat tangan Sae Min, matanya berbinar-binar. 
"Siapa orangnya? aku harus ketemu..." Sae Min memaksa...
"Ara... ara... ngerti..ngerti.. minggu depan, dia mengajakku ke rumahnya."
"Mwo??Apa?? secepat itukah prosesnya?"
Da Bin menggigit bibir, sedikit enggan melihat wajah Sae Min yang mulai curiga.
"Sasireun...Sebenarnya... kami udah jalan cukup lama, dari sebulan yang lalu.." Da Bin memberanikan diri menatap Sae Min.
Sae Min mengangkat alis."Mwo rago? Museun soriya? apa? apa maksudmu?"
Sepanjang malam itu akhirnya Da Bin bercerita panjang lebar mengenai hubungannya dengan laki-laki pujaan hatinya. 
***
Seminggu berlalu...
"Wah... dia orang yang berada, apa kamu akan dipertemukan sama orang tuanya?"
Da Bin mengangguk tersenyum.
Dengan sedikit ragu, Da Bin mengetuk pintu rumah itu, tangannya terlihat sedikit bergetar.
"Gwenchana Onni? Apakah kamu baik-baik saja?"
Da Bin mengangguk dan mengambil nafas dalam-dalam berkali-kali.
Pintu itu terbuka, dari ujung pintu tampak kepala seorang gadis kecil yang cantik sekali, matanya bulat berwarna hitam, mukanya tambah chubby karena rambut yang dikepang dua.
"Da Bin Onni?" Da Bin terperanjat, "Ye~ee" katanya segera. Anak itu lalu menatap ke arah Sae Min, lama sekali. Sae Min sampai salah tingkah," Halo, namaku Sae Min, salam kenal," Sae Min sedikit menunjukkan muka centilnya.Anak itu mengangkat alisnya..."Cho nun Sera eyo, muka kakak nggak asing."
" apa?" Sae Min mengangkat alis.
"Sera... !! Nugu ya?"
Sae Min dan Da Bin menatap dengan mata terbelalak, begitu pula dengan-nya. 
"Eh Da Bin! haha" Seung Gun dari dalam rumah segera menuju ke pintu, "kenapa kalian bengong aja?" sedikit menepuk pundak Sera dan Kwang Min."yang sopan dong sama tamu, diajak masuk...hehe...ayo masuk... Omma dan Appa udah nunggu dari tadi, oh ...Sae Min-ah juga ikut..." Seung Gun tersenyum, sedikit melirik Kwang Min. 
"Amma..Appa...ini Da Bin, dan ini temannya Sae Min."
Kedua orangtua Seung Gun begitu senang menyambut mereka, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol panjang lebar. Ibu SeungGun dan ayahnya begitu ramah dan baik. Da Bin atau pun Sae Min sampai tidak sadar dengan berlalunya waktu. 
"Ah... sudah sore, maaf om, tante, kami harus pulang,terima kasih atas jamuannya.."
"Oh hahahahaha, sering-seringlah kesini, Tante sering kesepian... nggak punya teman yang enak diajak ngobrol, anak Tante selain Sera cowok semua, sedangkan Sera masih kecil."
"Haha, yah akan saya usahakan.." Da Bin tersenyum manis, Sae Min hanya ikut tersenyum.
"Oh.. Sae Min juga yah..."
"eh?? ah Yeee..." Sae Min sedikit terkejut lalu dengan malu-malu mengangguk, entah kenapa mukanya merona merah.
Mereka pun akhirnya berpamitan. 
"Oppa, Sera kok merasa nggak asing sama muka Sae Min Onni," Sera menatap Kwang Min.
"Mana aku tahu... paling kamu pernah melihatnya di mall." Kwang Min dengan dingin pergi masuk ke kamarnya.
"Ahh... dingin banget, Oppa... kenapa muka Sae Min Onni nggak asing buat Sera."
kali ini target tempat Sera bertanya adalah SeungGun, SeungGun yang masih terbayang-bayang wajah Da Bin malah tidak mendengarkan pertanyaan Sera,"apa?"
"Babo~.." Sera yang kesal segera pergi meninggalkan SeungGun dan bergabung dengan orang tuanya.
***
Jun Ki semenjak di kantin waktu itu, menjadi agak kalem saat berada dekat dengan Sae Min. Dia bahkan berkali-kali membuang muka jika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Sae Min benar-benar merasa tidak nyaman, entah kenapa. 
"Kamu kenapa jadi menghindarinya?"Kwang Min akhirnya bertanya.
"Entahlah, aku takut, kalau aku mendekatinya aku akan semakin menyukainya.sedangkan dia sudah mempunyai orang yang dia sukai."
"Hmmm... seandainya dia jadian dengan orang yang dia sukai itu, kamu..."
"Akan aku bunuh orang itu..." tiba-tiba Jun Ki bangkit dari tempat duduknya, teriakannya dan tingkahnya membuat semua mata tertuju ke arahnya. setelah menghela nafas sambil melihat mata-mata nanar yang melihatnya dia duduk lagi. Kwang Min hanya tercengang melihat reaksi spontan Jun Ki.
"Aku nggak tahu, pastinya aku...huuh akan sangat cemburu."
"Kamu sangat menyukainya yah..." Kwang Min menghela nafas.
JunKi mengernyitkan alis," Emangnya kenapa kalau iya, jangan bilang kamu..."
"Ah... aniya..aniya jinjja aniya..." Kwang Min salang tingkah.
"Yah... aku berharap juga tidak, aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap jika orang itu kamu."
"Ahh?" Kwang Min tidak mengerti dengan perkataan Jun Ki." Museun Mariya? apa yang kamu bicarakan?"
JunKi menatap KwangMin," Jangan sampai kau suka SaeMin yah..."
***
Kwang Min pulang dengan lesu. "Aku pulang.."
Tiba-tiba Sera berlari ke arahnya...."hahahahaha aku tahu sekarang, kenapa muka Sae Min Onni nggak asing..." Sera seperti menyembunyikan sesuatu di balik bajunya.
Kwang Min curiga, segera dia rebut dari Sera. Dengan segenap tenaga Sera mempertahankan diri, sesuatu yang disembunyikan itu tak sengaja terlepas dan jatuh tepat di bawah kaki Ibunya, berserakan.
"Apa ini?" Ibu mengambil foto yang tergeletak tepat di bawah kakinya...
"Andwae!!" Kwang Min belum sempat meraih foto itu..
"Sae Min? ini foto Sae Min kan?" dengan polosnya ibunya bertanya. Kwang Min menutup mukanya malu, mukanya merah padam.
Sera tertawa terbahak-bahak," Ahh Kwang Min Oppa suka ama Sae Min Onni.."
"Oh ya? chongmal?" Ibu masih tidak percaya.
"Ada apa ini.." SeungGun tiba-tiba datang. Kwang Min sudah pasrah, badannya sudah kaku.
"Oh...hahahaha... koleksi si freak Kwang Min, kenapa bisa ada di sini?" SeungGun malah dengan santainya tertawa.
Kwang Min akhirnya membereskan semua itu sambil menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.
"eh.. mukanya merah, wah sampai telinganya merah, hahahaha, kamu benar-benar menyukainya, apa aku perlu membantumu lagi?"
"Tidak usah..!!" dengan kesal Kwang Min mengambil foto Sae Min yang waktu itu sedang di pegang oleh SeungGun, SeungGun hanya tertawa geli.
***
Malam itu, entah kenapa, Sae Min tiba-tiba membuka album foto semasa dia masih TK mungkin karena tadi dia baru saja bertemu Jandi salah satu teman TKnya. Dipandanginya teman-teman kecilnya itu. Ada seseorang yang selalu bersamanya bermain, tapi dia tidak ingat namanya. Pembicaraan dengan Jandi sore tadi mengingatkannya pada teman kecilnya itu.
"Lihat apa?" Da Bin mendekatinya."Oh... bukannya dia anak yang sering bermain denganmu itu, siapa namanya yah??"
"Seung Min... seingatku namanya Seung Min".
"Hmmm apa kamu tahu sekarang dia dimana?"
"entahlah, semenjak ayahnya meninggal, dia pindah rumah."
"oh...jadi kalian benar-benar tidak pernah berhubungan lagi?"
"yah begitulah..."
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sampai kapan kamu akan berdiam diri begini, kenapa kamu nggak bilang aja kalau kamu suka."
SeungGun tiba-tiba memasuki kamar KwangMin, KwangMin segera menyembunyikan foto SaeMin.
"Sudahlah ngggak usah disembunyiin, aku udah tahu kok, tenang aja.."
"Ngapain kamu kesini." Kwang Min berkata ketus.
"aku rasa dia tidak ingat denganmu, apa kamu mau menyatakan perasaanmu kalau dia ingat."
"Apa maksudmu?"
"SeungMin... jangan terlalu paksakan dirimu.." SeungGun menepuk bahu KwangMin sambil tersenyum sebelum beranjak meninggalkan kamar KwangMin.
***
"KwangMin, kita bolos yuk.." JunKi tersenyum nakal ke KwangMin. KwangMin si anak baik, hanya menggeleng...
"Iyaaaah kali ini aja... aku bosen, aku belum kerjain PR." 
KwangMin tetap tidak mau, JunKi yang tengil menarik tangan KwangMin dan mengajaknya bolos.
"haaaaaaah.....akhirnya....."JunKi menatap langit seperti orang yang baru keluar dari penjara. 
"Aku mau main game, temenin aku yah..."
Kwang Min hanya terdiam dan menuruti keingingan JunKi, mereka pun bermain sepuasnya. Sampai...
"Eh!! cepat menyingkir, aku mau main." Seorang anak berbadan besar tiba-tiba datang menggangu.
JunKi menatap anak berbadan besar itu. " Hei!!! tatapan apa itu!! kamu nantang yah, dasar bocah!!"
"Iya!! emangnya kenapa? ini milik umum, kenapa aku harus mengalah hanya untuk orang sepertimu!! emangnya kamu siapa?"
"Oh... dasar anak ingusan, kamu nggak tahu yah siapa Kim JeongKook-ketua geng Mutora!!" seseorang diantaranya berkata.
"Haah... maaf kamu masih belum terlalu populer tuh, aku nggak kenal..!!" JunKi memperlihatkan wajah menantang.
Anak-anak SMA itu terlihat begitu besar untuk KwangMin dan JunKi yang masih SMP, mereka tidak seimbang, apalagi jumlah anak SMA itu dua kali lipat mereka. KwangMin tidak ingin membuat masalah. Junki yang merupakan anak semata wayang dan lahir di keluarga kaya,  tidak mungkin meminta maaf, maka dia menggantikannya meminta maaf, tapi ternyata anak SMA itu sudah terlanjur marah.
Dihajarnya mereka habis-habisan. Kaki JunKi pun sampai lumpuh di buatnya, KwangMin mencoba melawan, tapi dia pun sudah babak belur. Sae Min saat itu tanpa sengaja melihat perkelahian itu, segera dia menuju ke tempat perkara.
"Hentikan!!!"
"ow ow ow ow ... ada yang mau jadi pahlawan nih, wah... perempuan, hahahahaha."
Sae Min merasa terhina, tanpa pikir panjang diambilnya salah satu pemukul baseball yang tergeletak di tanah. Tentu saja, dia tidak sebanding dengan anak-anak SMA itu, tapi... ternyata dia sudah menelepon polisi sedari tadi, sehingga anak-anak SMA itu pun ditangkap. Sae Min tidak sadarkan diri, ketika sadar dia sudah di rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan tempat JunKi dan KwangMin dirawat, hanya saja, saat Junki mau berterimakasih, Sae Min sudah terlebih dahulu keluar dari rumah sakit.
***

to be continued
Sebenarnya endingnya udah aku buat, paling tidak cerita kasarnya. Tapi kok hilang yah... yah segini aja dulu deh..hehe
rasanya sepi, lama nggak update postingan....
Makasih buat yang udah baca cerita yang terus disambung2  ini... (masih mending bagus, hehe)


So.. amis au revoir